Pompeii Kota Maksiat yang dihancurkan Allah

Add Comment
Ilustrasi Kaum Homo - Pompeii
Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M.

Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja.

Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi. Saat ini kota Pompeii merupakan salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Senjata unik pada perang dunia II

Add Comment
Perang dunia ke II merupakan perang terbesar dalam sejarah, dan dalam perang tersebut terdapat senjata-senjata unik yang digunakan untuk menghalau dan menyerang musuh, apa saja senjata-senjata unik tersebut , berikut adalah beberapa diantaranya:

1. Anti Tank Dogs

Kebrutalan perang dapat tercermin dari cara bertempur. Anjing anti tank adalah anjing yang diikatkan bom pada punggung mereka, dan merupakan hasil kreasi tentara Soviet, dan telah diturunkan untuk menghancurkan lebih dari 300 tank Jerman selama Perang Dunia II. 


Cara kerjanya adalah anjing diajari untuk menemukan makanan di bawah tank (melatih insting mereka bahwa selalu ada makanan di bawah tank), dan kemudian anjing tersebut dibuat kelaparan sebelum pertempuran. 

Setelah sampai di bagian bawah tank, tuas yang berada di punggung anjing segera terpicu tak berapa lama kemudian anjing-anjing tersebut akan meledak, menghancurkan tank-tank Jerman. Akhirnya Jerman mengatasi taktik ini dengan penyembur api.

2. Corkscrew Tanks

Corkscrew tanks tidak berjalan seperti cara berjalan ular, maupun tank pada umumnya dan bukan juga didorong oleh ulir raksasa. Tapi sama seperti sebuah bor listrik pada sepotong kayu, sehingga tapak dari tank inilah yang menajadikan tank tersebut tampak berlayar di sepanjang tanah, tanpa peduli daerah. 

Akan tetapi dalam berjalan arah mereka agak tidak menentu (sulit dikendalikan), dan tank harus sangat ringan untuk berguna dalam pertempuran.

3. Senjata Melengkung



Senjata ini kerap dipergunakan dalam pertempuran ditengah kota, dengan senjata yang memiliki laras yang tidak biasa ini bisa menembaki musuh tanpa perlu berhadapan langsung dengan musuh tetapi cukup bersembunyi dibalik dinding / tembok.

4. The Tsar Tank Rusia





The Tsar tank Rusia dibangun dengan dua roda dengan diameter 27 kaki, yang menarik dua roda yang jauh lebih kecil dibelakangnya. Tank ini berisi dengan senjata besar dan berat, tank ini dirancang untuk menaklukkan setiap rintangan. Desain yang besar dan tinggi, tidak cocok untuk peperangan sesungguhnya, dan tank ini dapat cepat jatuh.


5. Barrage Balloons

Barrage balloons digantung di ratusan kota-kota di Inggris selama Perang Dunia II. Seperti ranjau terbang, mereka akan menyulitkan pesawat musuh yang berniat untuk menjatuhkan bom. 

Balon-balon ini digunakan untuk mengancam pesawat-pesawat pembom tersebut agar terbang rendah karena kabel dan perangkat pembakar di dalam balon tersebut. Kalau pesawat pembom tersebut sudah terbang rendah maka tentara-tentara Inggris dapat menembaki pesawat tersebut dengan leluasa.

6. Project Habbakuk

Dengan kelangkaan logam menjelang akhir Perang Dunia II, Project Habbakuk adalah usaha untuk membuat kapal induk dari pykrete (campuran es dan bubur kayu). Lapisan yang cukup tebal untuk menahan tembakan musuh, dan mudah diperbaiki. 


Pykrete akan memungkinkan pembangunan kapal besar dengan menggunakan sumber daya minimal. Akan tetapi perang sudah selesai sebelum kapal tersebut menjadi kenyataan.

7. Bat Bomb



Ini bukanlah sejenis bom yang digunakan oleh jagoan superhero Batman, melainkan sebuah bom kelelawar yang pernah dibuat. Idenya sederhana, memberi alat peledak pada Free-tailed Meksiko Bats, turunkan suhu mereka sehingga mereka hibernasi dalam perjalanan mendekati kota musuh, dan kemudian melepaskannya di kota musuh untuk bertengger di gedung-gedung dan rumah. Pada waktu tertentu, semua kelelawar akan meledak dan menyulut kebakaran di seluruh kota.

8. The Goliath Tracked Mine


The Goliath tracked mine adalah anti-tank mini yang dikendalikan remote dan membawa hampir 200 pon (sekitar 90,7 kilogram) bahan peledak dan akan dijalankan mengarah ke pasukan musuh atau formasi tank dan kemudian diledakkan. Tank ini diciptakan oleh Jerman dan digunakan selama Perang Dunia II dan dikenal sebagai kumbang tank oleh pasukan Sekutu.

9. The Flying Jeep



The flying jeep diciptakan untuk memenuhi kontrak untuk membuat sebuah helikopter ringan yang dapat mendarat di daerah manapun. Beberapa prototipe diciptakan tetapi mereka tidak pernah di produksi penuh. Tidak peduli seberapa baik jeep itu tampak di atas kertas, tampilan konyol jip terbang itulah yang memberikan indikasi mengapa jeep tersebut tidak akan dapat melakukan tugasnya dengan baik dalam panasnya pertempuran.

10. Flying Aircraft Carriers

Flying aircraft carriers merupakan sebuah imajinasi rakyat pada jaman perang. Banyak ide seperti hoverpacks dan mobil terbang, kebanyak ide-ide tersebut tidak pernah terealisasi, hanya hidup dalam novel dan pertunjukan. 


Mereka memiliki banyak kelemahan seperti mudah untuk ditembak jatuh, mengkonsumsi banyak sekali bahan bakar, dan memiliki sedikit keuntungan untuk melawan pesawat musuh. 



Semoga bermanfaat.

Obati patah hati dengan mendengarkan musik

Add Comment

zona unik

Sangat mengalami patah hati atau baru putus, banyak orang mendengarkan lagu-lagu yang mencerminkan perasaan. Positifkah hal tersebut?

Mendengarkan lagu-lagu favorit atau lagu sedih saat sedang terjatuh ternyata memberi kesembuhan lebih cepat. Lagu ‘mellow‘ dengan lirik tentang kesedihan bisa dijadikan jalan untuk mengeluarkan emosi.

Inilah yang terjadi kalau Benua tidak terpecah

Add Comment

Sekitar 300 hingga 200 juta tahun silam, tujuh benua yang ada sekarang ini berasal dari sebuah benua sangat luas. Benua itu disebut 'Pangea'. Beberapa bagian dari Pangea itu lalu terangkat akibat pergerakan kerak bumi. Lalu terpecah-pecah menjadi patahan atau sekarang kita kenal lempeng tektonik.

Peta pergerakan lempeng di seluruh dunia (Physorg)

Deteksi penyakit melalui kuku

Add Comment
Inilah Dunia Kita - Sebuah studi menyebutkan warna kuku bisa menjadi akternatif untuk mengetahui penyakit apa yang sedang Anda derita sebelum memutuskan untuk berkunjung ke dokter.

zona unik

Seperti dikutip dari Aolheath, setiap orang memiliki tipe kuku berbeda, mulai dari tekstur, warna hingga kekuatannya. Dan setiap jenis kuku memiliki arti tersendiri, terutama dalam kaitannya dengan jenis

Foto Asli yang mirip rekayasa

Add Comment

Inilah Dunia Kita - Banyak hal-hal unik yang terjadi di dunia dan terkadang diabadikan dalam bentuk foto. Namun meski sudah tampil dalam bentuk foto, masih ada saja yang tidak percaya bahwa benda-benda itu nyata.

Rekayasa edit foto alias photoshop memang begitu meracuni visual manusia di jaman era melek teknologi saat ini. Namun bukan berarti seluruh hal unik di dunia ini merupakan rekayasa visual.

Ritual kematian unik dari seluruh Dunia

Add Comment

Inilah Dunia Kita - Kematian adalah sebuah tahapan di mana makhluk hidup meninggalkan tubuh mereka dengan jiwa yang siap untuk dibangkitkan di Hari Akhir. Kebanyakan kematian juga dilakukan dengan sebuah tangisan perpisahan dari orang yang disayangi.

Tapi tahukah anda? rupanya di seluruh penjuru dunia ini terdapat beberapa ritual kematian unik yang digelar dengan berbagai alasan. dan beruntunglah anda orang Indonesia, karena ritual Tana Toraja dianggap sebagai salah satu yang paling unik.

Macam-macam bentuk puasa kejawen

Add Comment
Para penganut kejawen telah menemukan metode maupun cara yang bisa digunakan untuk membangkitkan spirit mereka agar menjadi manusia yang berjiwa kuat dan memiliki alam pikiran yang luas, 
salah satunya adalah melakukan puasa-puasa yang sesuai dengan tradisi kejawen, dalam peradaban sepiritual kejawen ini, seorang penganut biasa melakukan puasa dengan hitungan hari-hari tertenru untuk menaikkan kemampuan spiritual serta metafisik yang mereka miliki. 

Perjalanan hidup seorang Soedirman

Add Comment

Panglima Besar Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh penting yang pernah dimiliki negeri ini. Dia pejuang dan pemimpin teladan bangsa. Pribadinya teguh pada prinsip, keyakinan dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan pribadinya.


Sudirman yang lahir 24 Januari 1916 dari keluarga petani kecil, di desa Bodas karangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya merupakan seorang mandor tebu pada sebuah pabrik gula yang ada di Purwokerto. Semenjak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo. Sebelum memasuki dunia kemiliteran, Sudirman berlatar belakang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan aktif kepanduan Hizbul Wathan.


PERJALANAN HIDUP SEORANG SUDIRMAN

Dikisahkan, sekitar 50 km dari Kota Purbalingga, ada seorang ulama bernama Kyai Haji Busyro Syuhada. Sang ulama ini memiliki sebuah pesantren yang terletak di desa Binorong, Banjarnegara. Selain dikenal sebagai ulama, Kyai Busyro ini juga seorang pendekar pencak silat (ketika itu istilahnya pencak ragawi dan batin).

Sebagaimana pesantren-pesantren pada umumnya, para santri diajarkan ilmu agama dan juga ilmu beladiri (pencak silat). Aliran Pencak silat yang dilatihkan kepada santri-santrinya ini dikenal dengan nama Aliran Banjaran yang pada intinya mengkombinasikan ilmu batin dengan ilmu dhohir. Yang mana dikemudian hari pencak silat yang dirintis Kyai Busyro Syuhada ini menjadi cikal bakal perguruan silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Suatu hari, Sudirman menyempatkan diri untuk berkunjung ke pesantren asuhan Kyai Busyro di Banjarnegara tersebut dengan tujuan ber- silaturrahmi. Pada saat itu Sudirman masih bekerja sebagai guru di Cilacap. Dalam pertemuan tersebut, tiba-tiba saja Kyai Busyro menangkap suatu firasat saat berhadapan dengan Sudirman.

Kyai Busyro menyarankan agar Sudirman mau tinggal sementara waktu di pesantren dan memiliki keinginan agar Sudirman mau menjadi muridnya, dengan tidak menyebutkan alasan sesungguhnya, dan tentu saja hal ini membuat Sudirman terkejut mendengar saran Kyai Busyro Syuhada. Akan tetapi beliau menyambutnya dengan antusias. Bagaimanapun juga, saran dan nasehat seorang ulama tentu baik dan pasti ada alasan-alasan khusus yang tidak dapat diungkapkan.

Selanjutnya Sudirman muda yang masih berusia sekitar 25 tahun menjadi seorang santri di pesantren asuhan Kyai Busyro Syuhada. Selama menjadi muridnya, Sudirman muda diperlakukan dengan khusus oleh Kyai Busyro, bahkan terkesan diistimewakan. Apapun keperluan Sudirman muda waktu itu baik urusan makan atau minum selalu siap disediakan.

Bahkan Kyai Busyro sengaja menyediakan seorang pelayan khusus untuk murid spesialnya itu. Pelayan itu masih keponakan Kyai Busyro sendiri yang bernama Amrullah. Saat itu usia Amrullah lebih muda 5 tahun dibandingkan Sudirman.

Meski sudah dianggap sebagai murid kesayangan, tetapi Sudirman diharuskan juga berpuasa dan diperintahkan untuk rutin menjalankan shalat malam. Meskipun dalam kondisi sedang berpuasa Sudirman muda kerap kali diperintahkan untuk melakukan pekerjaan keras seperti memotong beberapa pohon yang ada di dekat pesantren. Batang-batang pohon itu kemudian diseretnya. Lalu dimasukkan ke dalam kolam atau empang. Pekerjaan itu dilakukan sendirian tanpa dibantu siapapun. Setelah matahari terbenam, batang pohon itu harus dikeluarkan lagi dari kolam.

Saat Sudirman hendak berbuka puasa dan sahur, Amrullah lah yang bertugas menyediakan makanan dan minuman. Di samping itu, Kyai Busyro juga memberi amalan zikir atau hizib khusus kepada Sudirman untuk dibaca setiap harinya. Secara hampir bersamaan, hizib ini juga diamalkan Amrullah (kelak Amrullah menjadi ulama di Wonosobo, Jawa Tengah).


Pada tahun 1942, Kyai Busyro meninggal dunia. Melihat kenyataan itu, Sudirman memutuskan kembali ke kampung halamannya di Purbalingga. Namun tidak berapa lama kemudian balatentara Jepang mulai menjajah Indonesia. 



MEMULAI KARIER KEMILITERAN

Pada saat Jepang mulai mendirikan PETA, Sudirman muda tertarik dan mengikuti  pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor ( sekarang menjadi Museum PETA). Setelah pendidikan militernya selesai, Sudirman diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. 

pada waktu itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang. Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. 

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. 

Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. 

Sudirman memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya yang luar biasa.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibelakang mereka. Atas dasar itulah, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. 

Demikian pula yang terjadi pada Desember 1945, pasukan TKR pimpinan Jendral Sudirman terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Inggris di Ambarawa. 

Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. 

Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mundur ke Semarang.


AGRESI MILITER II BELANDA

Pada saat Militer Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI waktu itu dipindahkan ke Yogyakarta dikarenakan Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai oleh musuh. 

Jenderal Sudirman yang pada saat itu  berada di Yogyakarta sedang dalam kondisi yang sakit, keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya hanya tinggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan dibantu oleh tandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dan dalam keadaan fisik yang sedang sakit dan lemah, sementara obat-obatan juga bisa dibilang hampir tidak ada. 

Tapi meskipun dengan kondisinya tersebut, kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dirinya tidak merasakan penyakit apapun, namun akhirnya ia harus terpaksa pulang dari medan gerilya, meskipun Beliau tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Seorang jenderal yang shalih, senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan kemerdekaan sebagai bagian dari wujud pelaksanaan jihad fi sabilillah. Dan ini ia tanamkan kepada para anak buahnya, bahwa mereka yang gugur dalam perang ini tidaklah mati sia-sia, melainkan gugur sebagai syuhada. 

Untuk menyebarluaskan semangat perjuangan jihad tersebut, baik di kalangan tentara atau pun seluruh rakyat Indonesia, Jenderal besar ini menyebarkan pamflet atau selebaran yang berisikan seruan kepada seluruh rakyat dan tentara untuk terus berjuang melawan Belanda dengan mengutip salah satu hadits Nabi. “Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.” 

Perang gerilya yang dilakukan, tak luput dari mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. 

Sewaktu berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa Sukarame, Panglima Besar Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang, menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan taktik penyamaran, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah besarta para sahabatnya saat akan berhijrah.

Setelah shalat subuh, Pak Dirman yang memiliki nama samaran Pak De dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah selatan, sampai pada sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Soedirman. 

Kemudian pada sore harinya pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya memborbardir rumah yang sempat disinggahi Heru Kesser dan Suparjo Rustam, dan ini membuktikan betapa seorang Panglima sekaligus dai ini begitu menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam.

Beliau –{ dalam keadaan sakit parah, paru2 tinggal sebelah }– tetap memaksakan diri bergerilya melawan Belanda. Bukan materi yg beliau kejar, bukan gaji besar, bukan fasilitas. Dalam perang ini Beliau bahkan tidak digaji, begitu juga seluruh pejuang Tanah Air, mereka murni mendambakan negara yang bebas, merdeka, adil dan tenteram. ( tidak terbayang apa dalam pikiran mereka jika masih hidup, begitu melihat kondisi Negara ini saat ini .. Korupsi dimana-mana, Para pejabat yang bermain wanita, .. sungguh Ironis! )  

Presiden dan Perdana Menteri sudah ditangkap oleh militer Belanda dalam Agresi Militer (Aksi Polisionil) Belanda ke-2. Beliau pun rela menjual perhiasan istrinya untuk modal perjuangan, berpindah dari hutan ke hutan, dengan kondisi medan yg sangat berat, dibayang-bayangi pengejaran tentara Belanda lewat darat dan udara.


Pak Dirman -{dalam keadaan sakit parah digerogoti TBC dan paru2 tinggal satu }- memimpin perang gerilya dari atas tandu.

Inilah para gerilyawan yang beliau pimpin, berjuang keluar masuk hutan naik turun gunung demi kita anak cucu mereka.

Berjuang dengan persenjataan seadanya, melawan musuh yang memiliki persenjataan modern didukung kekuatan laut dan udara



Di tengah kondisi kesehatan beliau yg makin mengkhawatirkan itu, banyak pihak yg menyarankan agar beliau berhenti bergerilya, namun semangat juang beliau tidak dapat dipatahkan oleh siapapun juga. Beliau terus gigih berjuang, tidak mempedulikan lagi keselamatan dirinya. Bagi beliau, lebih baik hancur dan mati daripada tetap dijajah. 

Berkat perjuangan yg tak kenal menyerah itulah, Belanda kewalahan secara militer. Kekuatan gerilya Pak Dirman luar biasa. Belanda hanya mampu menguasai perkotaan, sedangkan di luar itu, sudah masuk wilayah gerilya tentara dan pejuang kita. Di sisi lain, tekanan diplomatis terhadap Belanda juga bertubi2, karena dunia internasional melihat bahwa dengan eksistensi TNI yg ditunjukkan oleh Pak Dirman membuktikan bahwa Republik Indonesia itu ada, dan bukan sekedar kumpulan gerombolan ekstrimis seperti yg santer dipropagandakan Belanda.

Akhirnya, Belanda pun benar2 angkat tangan, dan terpaksa mengajak RI untuk berunding kembali. Perjanjian Roem Royen pun terwujud pada tanggal 7 Mei 1949, dimana Indonesia dan Belanda sepakat untuk mengakhiri permusuhan. Presiden pun telah dibebaskan oleh Belanda dan dikembalikan ke ibukota negara, waktu itu masih Yogyakarta. Namun ini masih belum final dan Pak Dirman tetap belum yakin dengan hasil perjanjian itu. Beliau tetap bersikeras melanjutkan perjuangan sampai seluruh tentara Belanda benar-benar hengkang dari tanah air.

Akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX meminta kepada Kolonel Gatot Soebroto untuk menulis surat kepada Pak Dirman agar bersedia kembali ke ibukota. Berikut adalah penggalan surat Kolonel Gatot Soebroto yang meminta Pak Dirman untuk berhenti bergerilya dan beristirahat ( dengan ejaan yang sudah disempurnakan ).

“…tidak asing lagi bagi saya, tentu saya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia diharuskan ikhtiar.

Begitu pula dengan keadaan adikku, karena kesehatannya terganggu harus ikhtiar, mengaso sungguh-sungguh, jangan mengalih apa-apa.

Laat alles waaien. Ini bukan supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai.

Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Yang Maha Kuasa.
Ini kali saya selaku Saudara tua dari adik minta ditaati…”

Pak Dirman pun akhirnya luluh. Bagaimanapun, perjuangan adalah jalan beliau, dan kini beliau menyadari, bahwa hasil perjuangan itu sudah mendekati akhirnya.

Sebagai persiapan pulangnya Pak Dirman ke ibukota, Sri Sultan pun mengirimkan pakaian kebesaran. Namun dengan halus dan bijaksana, kiriman itu beliau tolak. Pak Dirman memilih datang sebagaimana adanya sebagaimana ketika meninggalkan ibukota untuk bergerilya, dengan segala kekurangan dan penderitaan.

Beliau datang dengan tandu, dikawal banyak sekali anak buah beliau yang mencintai beliau. Setibanya di Gedung Agung, Presiden Soekarno langsung menyambut dan merangkul beliau.
Bung Karno merangkul Pak Dirman yang akhirnya tiba kembali di ibukota negara setelah berbulan2 bergerilya keluar masuk hutan. Bung Karno sendiri tidak tahan melihat kondisi Pak Dirman yang tampak kurus dan sangat lusuh…



Perundingan pun berlanjut kepada Konferensi Meja Bundar. Puncaknya, tidak lama berselang, Belanda terpaksa mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan benar-benar hengkang dari ibu pertiwi.


Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda, 27 Desember 1949, yg merupakan hasil jerih payah perjuangan Pak Dirman

Pak Dirman sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yg telah beliau perjuangkan. Beliau wafat dalam sakit beliau pada tanggal 29 Januari 1950, hanya berselang 1 bulan setelah pengakuan kedaulatan RI.

Pemakaman Pak Dirman, 29 Januari 1950,
hanya 1 bulan berselang setelah Pengakuan Kedaulatan RI


Kata-kata Mutiara Jendral Sudirman

Yogyakarta 12 November 1945
Tentara hanya memiliki kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinannya itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara. Bahwa negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapapun juga.
Diucapkan dihadapan konferensi TKR dan merupakan amanat pertama kali sejak menjabat sebagai Pangsar TKR. Yogyakarta , 1Januari 1946

Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu "kasta" yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.
Amanat yang tertuang dalam maklumat TKR. Yogyakarta 17 Pebruari 1946

Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.
Amanat dalam rangka memperingati setengah tahun kemerdekaan RI. Yogyakarta 9 April 1946

Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada yang menyalahi janji, menjadi pengkhianat nusa, bangsa dan agama, harus kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tertentu memakan korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela temanmu yang telah gugur sebagi ratna, lagi pula untuk membela nusa, bangsa dan agamamu, sumpah wajib kamu tepati, sekali berjanji kamu tepati.
Percaya kepada kekuatan sendiri
Teruskan perjuangan kamu.
Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.
Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat dan perbuatan menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali.
Pegang teguh disiplin tentara lahir dan batin jasa pahlawan kita telah tertulis dalam buku sejarah Indonesia, kamu sekalian sebagai putera Indonesia wajib turut mengisi buku sejarah itu.
Amanat dalam rangka peresmian status kedudukan TRI bagian udara sejajar dengan TRI lainnya. Yogyakarta 25 Mei 1946.

Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah yang penghabisan. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik, yang menjalankan kewajibannya, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya sebulat-bulatnya. Sejengkal tanahpun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan...................... Meskipun kita tidak gentar akan gertakan lawan itu, tetapi kitapun harus selalu siap sedia.
Amanat dihadapan presiden/panglima tertinggi APRI untuk mengikrarkan sumpah anggota pimpinan tentara. Yogyakarta 27 Mei 1945

Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah ! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah ! Tentara akan hidup sampai akhir jaman, tentara akan timbul dan tenggelam bersama negara !

VIDEO JENDERAL BESAR SOEDIRMAN



" Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai para Pahlawannya ! "







Kejayaan Pajajaran

Add Comment

Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Mencari jejak pajajaran

Mencari jejak pajajaran

Add Comment

Mencari jejak kerajaan Pajajaran memang harus dilakukan melalui cara melingkar, atau mengabungkan dalam bentuk puzel. Secara resmi daerah yang dikonotasikan bekas peninggalan ibu kota Pajajaran (Pakuan) baru ditemukan Scipio seabad kemudian. 

Selain itu para sejarawan sering menarik benang merah dari naskah-naskah kuno, seperti carita Parahyangan, Naskah Wangsakerta dan Serat Banten. Upaya lain yang ditemukan dilakukan melalui penulusuran sejarah lisan yang disampaikan turun temurun, seperti cerita pantuan atau keterangan para juru kunci. Namun dari alur ini adakalanya dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat mistis atau supranatural, sehingga penemuan sejarah malah menjadi kabur.

Memang sulit menemukan titik pusat kota pajajaran (pakuan), selain kota Bogor telah padat dihuni penduduk dan aktifitas ekonominya, juga masih kurangnya prioritas terhadap sejarah. Seperti di buatnya Real Estate di lokasi situs Rancamaya, padahal ketika itu sudah diyakini sebagai situs Pajajaran yang banyak disebut-sebut dalam catatan sejarah. Hal tersebut juga sama ketika para ahli menemukan lokasi percandian di daerah Batujaya, yang diyakini sebagai peninggalan masa Tarumanagara, lebih tua dari candi manapun di Indonesia, saat ini sudah dipastikan terdapat 26 candi, namun sayangnya masalah pemugarannya masih terkendala, dengan alasan belum ada biaya.

Masalah yang mungkin menghambat terkait dengan penemuan jejak Pajajaran adalah adanya keyakinan yang terkait dengan masalah relijius atau keengganan untuk menguak kebenaran dari kesejarahan Pajajaran. 

Mungkin ada benarnya Uga Prabu Siliwangi yang mengabarkan kepada para pengikutnya :


“Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!”.

Didalam Pustaka Nusantara III/1 dan Kretabumi I/2 menyebutkan runtuhnya Pajajaran terjadi pada pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka, bertepatan dengan tanggal 8 Mei 1579 M. Naskah tersebut menjelaskan :

“Pajajaran sirna ing ekadaśa śuklapaksa Wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang Śakakala”. 

Sedangkan “Runtagna” Pajajaran didalam naskah “Waruga Jagat” dan naskah “Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh” disebutkan : "Pajajaran burak pada tahun jim akhir".
Sejalan dengan naskah tersebut, didalam serat Banten diceritakan pula tentang keberangkatan pasukan Banten ketika melakukan penyerangan ke Pakuan dengan pupuh Kinanti, terjemaahaannya :

"Waktu keberangkatan itu (pasukan Banten) terjadi pada bulan Muharam tepat pada awal bulan hari Ahad tahun Alif inilah tahun Sakanya satu lima kosong satu".

Banyak para ahli sejarah yang mencari musabab dapat direbutnya Pakuan, sekalipun telah ditinggalkan 12 tahun oleh rajanya, benteng Pakuan yang di bangun pada Sri Baduga tersebut masih berdiri kokoh. Namun untuk saat ini kisah yang dimuat dalam Serat Banten menjadi masuk akal. Konon kabar perisiwa ini hampir sama dengan cerita “kuda troya”.

Pakuan dapat mudah dibobol setelah terjadinya penghianatan yang dilakukan oleh Komandan kawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Secara kebetukan Sang Komandan saudara dari Ki Jongjo, seorang kepercayaan Maulana Yusuf. Ketika malam tiba, sang komandan membuka pintu benteng dari dalam, ia  mempersilahkan pasukan Banten masuk, sehingga tanpa disadari para penghuni Pakuan, pasukan Banten sudah berada ditengah-tengah mereka.

Memang dalam catatan sejarah banyak rangkaian yang menyebabkan runtuhnya Pajajaran. bermula dari masalah intern Kadatuan Pajajaran sampai dengan adanya alasan Cirebon, Demak dan Banten untuk mengislamkan Pajajaran. Selain hal tersebut, ada beberapa akhli yang menilik lebih jauh, bahwa kejatuhan Pakuan tidak terlepas dari keinginan Hasanudin yang ingin menaklukan Pajajaran dan mengingkari perjanjian yang dibuat pada masa Jayadewata dengan para penghulu Demak, Banten dan Cireon. Yang jelas hal ini pun tidak dapat dilepaskan dari adanya infasi perdagangan para Saudagar Islam di wilayah Pasundan.

Dari rangkaian peristiwa ini Pajajaran Sirna Hing Bumi, ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, suatu batu yang kerap dijadikan singgasana raja-raja Pajajaran ketika dinobatkan. Batu tersebut diboyong oleh pasukan Panembahan Yusuf ke Surasowan - Banten lama. Dengan diboyongnya batu tersebut bertujuan politis agar tidak ada lagi raja pajajaran yang dilantik. Dilain sisi memberikan legitimasi kepada Maulana Yusuf sebagai penerus kekuasaan Pajajaran yang sah, karena Maulana Yusup juga masih dianggap “teureuh” Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten lama. Orang Banten menyebutnya watu gigilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan “sriman”.

Perihal batu Palangka Sriman Sriwacana dikisahkan dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut : 

  • Sang Susuktunggal inyana
  • nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana
  • Sri Baduga Maharajadiraja
  • Ratu Haji di Pakwan Pajajaran
  • nu mikadatwan Sri Bima Punta
  • Narayana Madura Suradipati,
  • inyana Pakwan Sanghiyang
  • Sri Ratu Dewata.

(Sang Susuktunggal beliau - yang membuat tahta Sriman Sriwacana - (untuk) Sri Baduga Maharaja - ratu penguasa di Pakuan Pajajaran - yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, - yaitu istana Sanghiyang - Sri Ratu Dewata).


Istilah "palangka" berarti tempat duduk atau "tahta". Dalam tradisi Pajajaran digunakan pada upacara penobatan. Di atas batu palangka para calon raja diwastu atau diberkati oleh Purohita. Letak palangka berada di kabuyutan kerajaan dan tidak di berada dalam istana. Batu palangka terbuat befrbentuk yang digosok menjadfi halus dan mengkilap. Dalam perjalanan selanjutnya, masyarakat sunda menyebutnya batu pangcalikan atau batu ranjang. Sebagaimana yang ditemukan di makam kuno dekat Situ Sangiang - Cibalarik Sukaraja Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan bekas pusat Kerajaan Galuh. Sedangkan batu ranjang ditemukan di Desa Batu Ranjang Cimanuk, Pandeglang (ditengah sawah).

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nila kendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Menurut legenda “Kadu Hejo”, di daerah Pulasari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Didalam kisah lainnya, atribut dan mahkota raja Pajajaran tersebut diselamatkan oleh Jayaperkosa dan saudara-saudaranya, sedangkan Sang Ragamulya memerintah tanpa mahkota, karena iapun memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu.Bagi Jayaperkosa dan adik-adiknya, diboyongnya batu Palangka bukan berarti berakhirnya trah raja-raja Pajajaran untuk berkuasa di tatar Sunda, sebab ia masih sempat memboyong atribut (pakaian) raja Pajajaran ke Sumedang Larang. Dikelak kemudian hari Geusan Ulun diistrenan sebagai pewaris syah raja Pajajaran, ia juga dipercaya sebagai pemegang 44 Kandaga Lante dan 8 Umbul. Namun sayang Pangeran Arya Suriadiwangsa, putranya (ada juga yang menyebutkan putra titinya) menyerahkan Sumedang kepada Sultan Agung Mataram, tanpa syarat apapun, sehingga tatar Sunda menjadi Vasaal Mataram.

Puing Kerajaan
Perkiraan bekas Kadatuan Pajajaran ditemukannya kembali selang satu abad kemudian, oleh ekspedisi Scipio (1 September 1687), dalam bentuk puing yang diselimuti oleh hutan tua. Dalam laporan Gubernur Belanda dijelaskan, bahwa : istana tersebut terutama tempat duduk raja dikerumuni dan dirawat oleh sejumlah besar harimau. Dari sinilah dimungkinkan munculnya mitos, bahwa pasukan atau yentara pajajaran berganti wujud menjadi harimau.

Ketika melakukan penelitian tersebut Scipio diantar Penduduk Kedunghalang dan Parung Angsana sendiri, mereka kemudian diakui sebagai peziarah pertama setelah Pakuan dinyatakan hilang. Tak heran, mereka menduga puing kabuyutan Pajajaran yang mereka temukan sebagai singgasana raja.

Hal yang berkaitan tentang sakralnya singgasana tersebut diceritakan pula oleh Abraham van Riebeeck (1703), dia melihat adanya sajen yang diletakkan di atas piring di kabuyutan tersebut. Sehingga ditafsirkan pula sejak ditemukan kembali oleh Scipio masyarakat merasakan menemukan kembali Pajajaran yang telah hilang.

Kemudian pada tahun 1709, Van Riebeeck melihat adanya ladang baru pada lereng Cipakancilan. Disini menemukan adanya tanda-tanda kehidupan baru di bekas Pakuan. Diperkirakan peladang tersebut akan membuat dangau tempat tinggalnya pada tepi alur Cipakancilan. Dengan demikian orang belanda telah mengetahui jauh-jauh hari nama Pakuan, Pajajaran dan Siliwangi dua abad sebelum nama Pakuan Pajajaran diketahu lewat pembacaan prasasti batu tulis oleh Friederich pada tahun 1853.



Pakuan bagi sebagaian besar masyarakat Sunda bukan hanya sekedar lokasi kerajaan, melainkan menyimpan berjuta kenangan tentang kejayaan Pajajaran di masa lalu yang lengkap dengan tingginya kebudayaan, bahkan masih banyak masyarakat Sunda yang menganggap bahwa sebenarnya Kerajaan Pajajaran tidak runtuh, tapi tilem. 

Namun apapun masalahnya, mungkin ada kata-kata bijak yang diyakini sebagai Uga Wangsit Silihwangi, tentang sikap yang harus dilakukan masyarakat Sunda, unina :
Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, - najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! - Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, - ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. - Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, - supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, - bisa ngadegkeun deui Pajajaran ! - Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, - nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih !
 sumber:tuturussangrakean.blogspot.com


Runtuhnya Pajajaran


Ketika Syarif Hidayatullah (putra Rarasantang) bermukim di Cirebon, ia diangkat menjadi guru agama menggantikan Syekh Datuk Kahfi yang telah wafat. Oleh uwanya, yakni Walangsungsang dinobatkan menjadi Tumenggung Cirebon.


Pangeran Walangsungsang mendapat restu dari ayahnya, yakni Sri Baduga Maharaja untuk menjadi penguasa Cirebon. Namun karena kecintaannya terhadap adiknya (Rarasantang) maka ia menyerahkan tahtanya kepada Syarif Hidayatullah, putra Rarasantang. Pangeran Walangsungsang selanjutnya bertindak sebagai pelindungnya.

Syarif Hidayatullah atas dukungan para wali lainnya, pada tahun 1404 Saka (+ bulan april 1482 M) memproklamirkan Cirebon sebagai kerajaan merdeka, sebelumnya Cirebon termasuk bawahan Galuh.

Berita ini tentunya sangat menganggu perasaan Sri Baduga Maharaja sebagai penguasa di tatar Sunda, iapun mengutus Tumenggung untuk menyelesaikan masalah ini. Konon kabar SangTumenggung tidak pernah kembali, pasukannya di Gunung Sembung disergap oleh gabungan pasukan Cirebon – Demak. Karena utusannya tersebut tidak kembali maka Sri Baduga mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan ke Cirebon.

Niat Sri Baduga tersebut dapat dicegah oleh Ki Purwagalih, seorang Purohita (pendeta tertinggi kerajaan), dengan pertimbangan Syarif Hidayatullah adalah masih cucu Sri Baduga dan diangkat oleh Walangsungsang, putra Sri Baduga Maharaja. Saran Ki Purwagalih tersebut sangatlah dapat dipertimbangkan, seperti yang ditulis dalam buku rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, ia menyarakan, bahwa : ”Seorang kakek yang memerangi anaknya (walangsung) dan cucunya (Syarif Hidayatullah) tentu akan dicemoohkan orang”.

Demikian pula dari pihak Cirebon, ada keengganan dari Walangsungsang dan Syarif Hidayaytullah untuk memerangi Sri Baduga Maharaja yang masih dianggap leluhurnya. Perasaan-perasaan dari kedua belah pihak inilah yang dapat meredakan perseteruan Sri Baduga Maharaja dengan para penguasa Cirebon.

Perjanjian Damai
Setelah Sri Baduga Maharaja wafat keengganan rasa hormat Cirebon terhadap Pajajaran mulai hilang, mungkin pula karena desakan untuk melakukan ekspansi perdagangan, sebagaimana dalam pelaksanaan, gabungan Cirebon – Demak pertama-tama menaklukan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai kerajaan Pajajaran.

Cirebon memerangi Pajajaran yang waktu itu telah di perintah oleh Surawisesa, saudara se ayah Walangsungsang, dari Kentring Manik Mayang Sunda. Peperangan diperkirakan terjadi lima tahun.


Pajajaran
Menurut Carita Parahyangan, peperangan tersebut terjadi 15 kali dan berakhir di sebelah barat Citarum. Kedua belah pihak saling menunggu, bahkan gabungan pasukan Demak – Cirebon tidak mampu menembus jantung pertahanan Pajajaran, demikian pula pasukan Pajajaran, ia tidak mampu merebut kembali pelabuhannya yang telah dikuasasi pasukan gabungan Cirebon – Demak.

Di sebelah timur Galuh berupaya menguasai Cirebon, iapun mengirim surat kepada Syarif Hidayatullah untuk bergabung dengan Galuh, sebagai negara yang memiliki hak sejarah atas Cirebon. Namun permintaan tersebut di tolaknya, bahkan Syarif Hidayatullah dan meminta bantuan Fadillah Khan untuk memperkuat Pakungwati. Fadillah Khan mengirim 700 orang pasukan bantuannya untuk mempertahankan Cirebon.

Kekalahan Pajajaran yang sangat fatal terjadi di front timur. Cirebon mampu mengalahkan Galuh di daerah Bukit Gundul Palimanan. Untuk kemudian merebut jantung pertahanan Galuh di Talaga. Peperangan antara Cirebon dengan Galuh yang diperkirakan terjadi pada tahun 1528 sampai dengan 1530 M Cirebon. Pada tahun itu pula Cirebon praktis berhasil menguasai Galuh.

Kekalahan pasukan Sunda di front timur menyebabkan Surawisesa untuk mengambil langkah politis melalui perjanjian perdamaian. Niat tersebut dilakukan dengan cara mengirimkan duta ke Pakungwati, dan Susuhunan Cirebon menerima tawaran tersebut, maka pada tahun 1531 terjadilah perdamaian.

Isi dari perjanjian damai tersebut menyetujui, bahwa : “kedua belah pihak (Cirebon – Pajajaran) saling mengakui kedaulatan masing-masing, sederajat dan bersaudara sebagai akhli waris Sri Baduga Maharaja.

Serangan Pertama ke Pakuan

Pada tahun 1535 M Surawisesa wafat digantikan oleh puteranya Sang Ratu Dewata. Pewaris tahta Pajajaran ini cenderung mengabaikan urusan duniawi. Ia lebih memilih untuk mengambil jalan untuk menjadi raja resi, berpuasa, hanya memakan buah-buahan dan minum susu. Mungkin ia merasa jemu dengan urusan duniawi, seperti peperangan yang tidak ada hasilnya yang dilakukan oleh ayahnya. 

Disisi lain iapun sangat percaya sepenuhnya terhadap jaminan perjanjian damai Pajajaran – Cirebon 29 Juni 1531 M yang dilakukan oleh ayahnya.


Peristiwa tersebut disindir Carita Parahiyangan, “Ya hati-hatilah orang-orang yang kemudian, janganlah engkau kalah perang karena rajin puasa.” Mungkin amanah tersebut dimasa kini dapat dipahami sebagai perlunya menjaga keseimbangan antara dunia dan masalah akherat.

Disisi lain pihak Panembahan Hasanudin dari Banten Pasisir kurang setuju atas perjanjian damai Pajajaran – Cirebon. Perjanjian tersebut dianggap hanya aman bagi Cirebon, tetapi menjadi ancaman bagi Banten. Ia menyetujuinya, karena harus taat kepada kebijakan ayahnya, Susuhunan Jati.

Niat Hasanudin untuk menguasai pakuan dilakukan secara terselubung, dengan cara membentuk pasukan khusus tanpa indentitas (tambuh sangkane), sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya ketika merebut Surasowan. Secara garis keturunan dan pandangan keagamaan, Panembahan Hasanudin adalah cicit dari Sri Baduga Maharaja dari alur darah Kawunganten maupun dari Susuhunan Jati. Mungkin ia merasa berhak atas tahta Kerajaan Pajajaran.

Dalam masa pemerintahan Sang Ratu Dewata itulah, pasukan Panembahan Hasanudin menyerang ibukota Pakuan Pajajaran. Akan tetapi serangan itu disongsong pasukan Pakuan dialun-alun Pakuan, sekarang alun-alun Empang. Dalam pertempuran itu, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sanghiyang, perwira-perwira muda pihak Pajajaran.

Peperangan ini dicatat dalam Carita Parahyangan, isinya : 
datangna bancana musuh ganal, tambuh sangkane. Prangrang di burwan ageung. Pejah Tohaan Ratu Sarendet deung Tohaan Ratu Sanghyang”.
 (Datang bencana dari laskar musuh. Tak dikenal asal-usulnya. Terjadi perang di alun-alun. Gugurlah Tohaan Ratu Sarendet dan Ratu Sanghyang).

Pasukan Hasanudin setelah gagal menyerang Pakuan, mengundurkan diri, lalu melakukan serangan ke daerah utara, kemudian Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri.

Setelah Sang Ratu Dewata wafat, digantikan oleh puteranya, Ratu Sakti, pada tahun 1543 M. Namun Ratu Sakti, dalam menjalankan pemerintahannya sebagai raja kejam.

Dalam situasi Pajajaran sedang memburuk tidak lagi memperdulikan etika kenegaraan. Ia membunuh orang-orang tak berdosa, merampas harta rakyat tanpa perasaan malu, tidak berbakti kepada orang tua, dan menghinakan para pendeta. Ia menikahi “rara hulanjar” gadis yang sudah bertunangan, bahkan yang menjadi puncak ketidak etisannya, menikahi ibu tirinya. Sang Ratu Sakti diturunkan dari tahtanya, pada tahun 1551 M. Kelemahan Pajajaran ini tidak sempat dimanfaatkan Banten, karena saat itu Hasanudin sedang mengerahkan pasukannya ke Pasuruan, membantu Sultan Trenggono.

Ekspansi Banten Kewilayah Timur Jawa
Panembahan Hasanudin memiliki peranan yang cukup besar ketika ia masih berstatus Bupati bawahan Cirebon. Pada masa tersebut Sultan Trenggono mengutus adiknya, yakni Nyi Pembayun, isteri dari Fadillah Khan, meminta bantuan pasukan Banten agar bergabung dengan pasukan Fadillah Khan (Bupati Kalapa), untuk menaklukkan, Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dalam penyerangan tersebut, Demak menyertakan Pasukan Portugis untuk membantunya.

Pada masa itu Demak tidak lagi memusuhi Portugis, bahkan Portugis diijinkan membuka kantor dagang di Banten Pasisir, serta menempatkan armada lautnya disana. Armada Portugis pada saat itu dipimpin oleh Tome Pinto (pelaku penanda tangan perjanjian Pajajaran - Portugis 21 Agustus 1522 M di Pakuan). Dari catatan Tom Pires inilah sejarah ini diketahui.

Mungkin cerita ini akan sangat menganggu mengingat peristiwa penandatanganan Perjanjian Pajajaran – Portugis di pahami sebagai kesalahan Pajajaran melakukan kolaborasi dengan pihak asing dalam mempertahankan kedaulatannya. Namun akan menjadi lain ketika mengetahui sejarah selanjutnya, terutama ketika Demak menyertakan Portugis untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan.

Begitu pula pandangan Demak. Awalnya dimasa pemerintahan Raden Patah sangat memusihi Portugis. Namun ketika Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon sudah berada dibawah pengaruhnya, demi kepentingan perdagangan maka Demak tidak mengharamkan untuk menjalin persahabatan dengan Portugis.

Ketika Banten Pasisir sudah berubah menjadi Kerajaan Surasowan, dunia perdagangannya semakin pesat. Islam telah mewarnai Surasowan menjadi Negara perniagaan. 
Menurut Yosep Iskandar, : dari catatan perjalanan (terjemahan Saleh Danasasmita) dapat digambarkan sebagai berikut:

Dari Malaka berlayar lagi, Setelah 17 hari, tibalah aku dipelabuhan Banten tempat yang biasa dikunjungi orang Portugis untuk berdagang. Disana keperluan untuk muatan kapal kita, merica, ketika itu sedang sangat jarang didapat diseluruh negeri. Karena itu kami terpaksa harus tinggal disini selama musim hujan.

Telah berlangsung dua bulan lamanya kami dalam perdagangan yang menyenangkan disin, ketika raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia mengirim utusan kepada Tagaril, raja Sunda, meminta bantuan dengan pesan bahwa dalam tempo setengah bulan harus datang ke Jepara tempat peralatan perang sedang disiapkan untuk menyerang Pasuruan.

Bala bantuan Banten ketika itu berkekuatan yang terdiri dari 30 calaluzes dan 10 jurupango diperlengkapi dengan keperluan perjalan dan peralatan perang. Dalam 40 kapal itu terdapat 7.000 orang diluar para pendayung. Sedangkan dari Portugis menyertakan 40 orang. Kesertaan Portugis tentunya setelah mendapat konsensi, bahwa Portugis akan dibantu di Banten, sehingga janji ini mendorong Portugis untuk membantu peperangan ini.

Dari catatan Tome Pinto, menyebutkan, bahwa Raja Sunda (Hasanudin) bertolak dari pelabuhan Banten pada tanggal 5 januari 1546 dan tiba pada tanggal 19 bulan itu dikota Jepara. Disana peralatan perang sedang disiapkan.

Dari catatan ini diketahui pula adanya kepentingan politik perdagangan antara Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak dengan Portugis. Walaupun 24 tahun yang lalu Portugis telah mengadakan perjanjian dagang dengan Pajajaran, namun kemudian berpaling dan mengikat persahabatan dengan negara-negara yang memiliki pelabuhan dagang. Pada waktu semua pelabuhan milik Pajajaran sudah direbut Demak. Hal ini ditegaskan dalam vatatan Tome Pinto, bahwa raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia.

Suatu hal yang jarang dibahas dalam kondisi ini, yakni kesempatan Pajajaran untuk menguasai kembali daerahnya yang telah direbut Cirebon – Demak. Keengganan Pajajaran untuk menggunakan kesempatan ini dimungkinkan karena penguasa Pajajaran percaya terhadap Perjanjian Cirebon – Pajajaran untuk tidak saling mengganggu.

Sedangkan setiap serangan Panembahan Hasanudin dilakukan tanpa menggunakan identitas Banten, sehingga tidak ada kecurigaan Pajajaran terhadap Banten dan Cirebon. Spekulasi kedua, yang banyak disebut-sebut dikaitkan dengan tabiat Ratu Sakti yang saat itu berkuasa di Pajajaran. Ia dianggap tidak memikirkan negara, kecuali kesenangannya. Dimungkinkan pula cemoohan para penulis sejarah terhadapnya diakibatkan dari “laweurnya’ Ratu Sakti tidak menggunakan kesempatan untuk mengembalikan wilayah Pajajaran.

Serangan Kedua Ke Pakuan
Pada masa itu kerajaan Pajajaran sudah tidak lagi sekuat dulu, menginat ada beberapa masalah dalam negeri yang melumpuhkan roda pemerintahan. Seperti masa Ratu Dewata yang lebih memilih sebagai raja resi ketimbang mengurus negara. Sebaliknya, penggantinya, yakni Ratu Sakti diangap paling kejam dan tidak mau tahu urusan rakyat.

Akibat yang dilakukan pada dua periode tersebut, pada masa pemerintahan Prabu Nilakendra, Pajajaran sudah demikian bobrok. Rakyat dilanda kelaparan. Masa ini dikenal dengan sebutan masa Kaliyuga.

Pada masa Kaliyuga (zaman kejahatan dan kemaksiatan), Nilakendra masih sempat membuat bendera keramat, memperindah keraton dengan membangun taman berbalay (dihampari batu), mendirikan bangunan megah 17 baris yang dilukisi dengan emas, menggambarkan bermacam-macam cerita. Setiap keratin dimeriahkan oleh pesta-pora, makan enak, disertai minum-minum (tuak) sampai mabuk. Mengenai Prabu Nilakendra, tidak ada ilmu yang disukainya, kecuali perihal makanan lezat yang sesuai dengan kekayaannya. Itulah bunga pralaya yang disebut kaliyuga. Pajajaran telah berada diambang kehancuran.

Pada jaman Nilakendra muncul kembali serangan dari pasukan tidak dikenal indentitasnya, menggempur ibukota Pakuan. Prabu Nilakendra tidak berdaya, ia meloloskan diri meninggalkan keratin. Prabu Nilakendra tidak pernah diketahui kapan wafatnya dan dimana dipusarakannya. Mungkin ia meninggal ditengan hutan belantara dalam keadaan sengsara sebatang kara. 
Peristiwa ini digambarkan didalam Carita Parahyangan, : 
“Tohaan Majaya alah prangrang mangka tan nitih ring kadatwan” 
(Tohaan Majaya kalah perang dan ia tidak tinggal di Keraton).

Nasib ibukota Pakuan, dimasa bodohkan begitu saja, dipercayakan kepada semua pembesar yang tidak menyertainya dalam pelarian. Para pembesar kerajaan Pajajaran dengan segala daya upaya mempertahankan keraton Pakuan Pajajaran. Berkat perlindungan parit pertahanan dan benteng yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja, Keraton dapat diselamatkan.

Pajajaran Sirna
Pasca penyerangan Banten kali kedua ke Pakuan, tokoh penanda tangan perjanjian Pajajaran-Cirebon, satu persatu menutup usianya, yakni :
Sanghiyang Surawisesa (raja Pajajaran), wafat lebih awal, pada tahun 1535 M ; 
Susuhunan Jati, wafat pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka atau 19 September 1568 M ; 
Fadillah Khan, yang menggantikan Susuhunan Jati, wafat, pada tahun 1570 Masehi ; 
Panembahan Hasanudin, wafat pada tahun 1570 Masehi.

Panembahan Hasanudin digantikan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf, putra dari pernikahannya puteri Indrapura. Panembahan Yusuf tertarik untuk memperkuat wilayah negaranya, iapun mempersiapkannya dengan matang, terutama setelah Hasanudin Gagal menghancurkan Pakuan untuk yang kedua kalinya. Penyerangan tersebut dilakukan setelah sembilan tahun Panembahan Yusuf memegang tahta kerajaan Surasowan. Serangan tersebut mendapat bantuan dari kerajaan Cirebon, sehingga disebut serangan besar-besaran ke Pakuan.

Serangan Banten ke Pakuan diabadikan dalam Serat Banten :

  • Nalika kesah punika
  • Ing sasih muharam singgih
  • Wimbaning sasih sapisan
  • Dinten ahad tahun alif
  • Puningka sangkalanya
  • Bumi rusak rikih iki

(Waktu keberangkatan itu – terjadi bulan muharam – tepat pada awal bulan – hari ahad tahun alif – inilah tahun sakanya – satu lima kosong satu).

Kondisi di Pakuan pasca ditinggalkan oleh Prabu Nilakendra, sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah. Sebagian lagi meninggalkan Pakuan mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, Senapati Jayaprakosa beserta adik-adiknya.

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah kekerabatan dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Dari sekian bagian penduduk yang mengungsi, ada sebagian lagi yang mencoba bertahan di Pakuan, bersama beberapa orang pembesar kerajaan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati (keraton Pajajaran). Walaupun sudah tidak berfungsi, kehidupan di Pakuan pulih kembali.

Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya, berupaya menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan ibukotanya di Pulasari. Ia bertahta tanpa mahkota, sebab semua perangkat dan atribut kerajaan telah dipercayakan kepada Senapati Jayaprakosa dan adik-adiknya untuk diselamatkan. Mungkin juga pemilihan Pulasari pada waktu itu karena masih ada raja daerah, Rajataputra, bekas ibukota Salakanagara. Namun ada juga yang menyebutkan, bahwa Pulasari bukanlah ibukota seperti yang lajim digambarkan dalam suatu pemerintahan. Pulasari waktu itu sebagai Kabuyutan, daerah yang dikeramatkan. Digunakan oleh Suryakancana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Menurut Yosep Iskandar, : Prabu Ragamulya Suryakancana seperti sudah mempunyai firasat, bahwa pusat kerajaannya harus di Pulasari Pandeglang. Mungkin berdasarkan petunjuk spiritual (uga), bahwa ia harus kembali ketitik-asal (purbajati). Mungkin juga ia “mengetahui” melalui bacaan lontar, catatan tentang “Rajakasawa” yang mengisahkan “Karuhun” (leluhur) Jawa Barat. Atau hanya berdasarkan “dorongan batin” yang ia miliki sebagai pewaris darah raja.

Sulit dibayangkan, sebab pusat kerajaannya yang baru, justru berdampingan dengan Kerajaan Surasowan. Yang pasti, Pulasari yang dijadikan ibukota Kerajaan Pajajaran tersebut adalah “patilasan” (bekas) pemukiman yang dahulu kala didirikan oleh Sang Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya dalam abad kedua Masehi. Di Pulasari pula Sang Dewawarman mendirikan Rajatapura, ibukota Salakanagara pada tahun 130 Masehi. Namun sejarah mencatat, bahwa : Prabu Ragamulya Suryakancana gugur di Pulasari oleh pasukan Maulana Yusuf.

Sepeninggalnya Nilakendra, Pakuan masih memiliki aktifitas seperti biasanya, namun memang sudah tidak lagi digunakan sebagai persemayamannya raja Pajajaran. Benteng Pakuan memiliki pertahanan yang sangat kuat. Bukan karena ada parit-parir dan benteng-benteng pertahanan yang dahulu dibangun Sri Baduga Maharaja, melainkan juga soliditas dan ketangguhan sisa-sisa prajurit Pajajaran yang masih bermukim dibenteng.

Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan yang dengan susah payah membangun kembali kehidupannya pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya gugur di Pulasari.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : 
Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. 
(Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).


Bahan bacaan :

Rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, jilid 4, 1983 – 1984.
Sejarah Jawa Barat, Drs Yoseph Iskandar, Geger Sunten – Bandung, 1997