Facebook Twitter Google RSS

Runtuhnya Pajajaran

Aries Munandi     9:55 PM  1 comment



Ketika Syarif Hidayatullah (putra Rarasantang) bermukim di Cirebon, ia diangkat menjadi guru agama menggantikan Syekh Datuk Kahfi yang telah wafat. Oleh uwanya, yakni Walangsungsang dinobatkan menjadi Tumenggung Cirebon.


Pangeran Walangsungsang mendapat restu dari ayahnya, yakni Sri Baduga Maharaja untuk menjadi penguasa Cirebon. Namun karena kecintaannya terhadap adiknya (Rarasantang) maka ia menyerahkan tahtanya kepada Syarif Hidayatullah, putra Rarasantang. Pangeran Walangsungsang selanjutnya bertindak sebagai pelindungnya.

Syarif Hidayatullah atas dukungan para wali lainnya, pada tahun 1404 Saka (+ bulan april 1482 M) memproklamirkan Cirebon sebagai kerajaan merdeka, sebelumnya Cirebon termasuk bawahan Galuh.

Berita ini tentunya sangat menganggu perasaan Sri Baduga Maharaja sebagai penguasa di tatar Sunda, iapun mengutus Tumenggung untuk menyelesaikan masalah ini. Konon kabar SangTumenggung tidak pernah kembali, pasukannya di Gunung Sembung disergap oleh gabungan pasukan Cirebon – Demak. Karena utusannya tersebut tidak kembali maka Sri Baduga mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan ke Cirebon.

Niat Sri Baduga tersebut dapat dicegah oleh Ki Purwagalih, seorang Purohita (pendeta tertinggi kerajaan), dengan pertimbangan Syarif Hidayatullah adalah masih cucu Sri Baduga dan diangkat oleh Walangsungsang, putra Sri Baduga Maharaja. Saran Ki Purwagalih tersebut sangatlah dapat dipertimbangkan, seperti yang ditulis dalam buku rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, ia menyarakan, bahwa : ”Seorang kakek yang memerangi anaknya (walangsung) dan cucunya (Syarif Hidayatullah) tentu akan dicemoohkan orang”.

Demikian pula dari pihak Cirebon, ada keengganan dari Walangsungsang dan Syarif Hidayaytullah untuk memerangi Sri Baduga Maharaja yang masih dianggap leluhurnya. Perasaan-perasaan dari kedua belah pihak inilah yang dapat meredakan perseteruan Sri Baduga Maharaja dengan para penguasa Cirebon.

Perjanjian Damai
Setelah Sri Baduga Maharaja wafat keengganan rasa hormat Cirebon terhadap Pajajaran mulai hilang, mungkin pula karena desakan untuk melakukan ekspansi perdagangan, sebagaimana dalam pelaksanaan, gabungan Cirebon – Demak pertama-tama menaklukan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai kerajaan Pajajaran.

Cirebon memerangi Pajajaran yang waktu itu telah di perintah oleh Surawisesa, saudara se ayah Walangsungsang, dari Kentring Manik Mayang Sunda. Peperangan diperkirakan terjadi lima tahun.

Pajajaran
Menurut Carita Parahyangan, peperangan tersebut terjadi 15 kali dan berakhir di sebelah barat Citarum. Kedua belah pihak saling menunggu, bahkan gabungan pasukan Demak – Cirebon tidak mampu menembus jantung pertahanan Pajajaran, demikian pula pasukan Pajajaran, ia tidak mampu merebut kembali pelabuhannya yang telah dikuasasi pasukan gabungan Cirebon – Demak.

Di sebelah timur Galuh berupaya menguasai Cirebon, iapun mengirim surat kepada Syarif Hidayatullah untuk bergabung dengan Galuh, sebagai negara yang memiliki hak sejarah atas Cirebon. Namun permintaan tersebut di tolaknya, bahkan Syarif Hidayatullah dan meminta bantuan Fadillah Khan untuk memperkuat Pakungwati. Fadillah Khan mengirim 700 orang pasukan bantuannya untuk mempertahankan Cirebon.

Kekalahan Pajajaran yang sangat fatal terjadi di front timur. Cirebon mampu mengalahkan Galuh di daerah Bukit Gundul Palimanan. Untuk kemudian merebut jantung pertahanan Galuh di Talaga. Peperangan antara Cirebon dengan Galuh yang diperkirakan terjadi pada tahun 1528 sampai dengan 1530 M Cirebon. Pada tahun itu pula Cirebon praktis berhasil menguasai Galuh.

Kekalahan pasukan Sunda di front timur menyebabkan Surawisesa untuk mengambil langkah politis melalui perjanjian perdamaian. Niat tersebut dilakukan dengan cara mengirimkan duta ke Pakungwati, dan Susuhunan Cirebon menerima tawaran tersebut, maka pada tahun 1531 terjadilah perdamaian.

Isi dari perjanjian damai tersebut menyetujui, bahwa : “kedua belah pihak (Cirebon – Pajajaran) saling mengakui kedaulatan masing-masing, sederajat dan bersaudara sebagai akhli waris Sri Baduga Maharaja.

Serangan Pertama ke Pakuan

Pada tahun 1535 M Surawisesa wafat digantikan oleh puteranya Sang Ratu Dewata. Pewaris tahta Pajajaran ini cenderung mengabaikan urusan duniawi. Ia lebih memilih untuk mengambil jalan untuk menjadi raja resi, berpuasa, hanya memakan buah-buahan dan minum susu. Mungkin ia merasa jemu dengan urusan duniawi, seperti peperangan yang tidak ada hasilnya yang dilakukan oleh ayahnya. 

Disisi lain iapun sangat percaya sepenuhnya terhadap jaminan perjanjian damai Pajajaran – Cirebon 29 Juni 1531 M yang dilakukan oleh ayahnya.


Peristiwa tersebut disindir Carita Parahiyangan, “Ya hati-hatilah orang-orang yang kemudian, janganlah engkau kalah perang karena rajin puasa.” Mungkin amanah tersebut dimasa kini dapat dipahami sebagai perlunya menjaga keseimbangan antara dunia dan masalah akherat.

Disisi lain pihak Panembahan Hasanudin dari Banten Pasisir kurang setuju atas perjanjian damai Pajajaran – Cirebon. Perjanjian tersebut dianggap hanya aman bagi Cirebon, tetapi menjadi ancaman bagi Banten. Ia menyetujuinya, karena harus taat kepada kebijakan ayahnya, Susuhunan Jati.

Niat Hasanudin untuk menguasai pakuan dilakukan secara terselubung, dengan cara membentuk pasukan khusus tanpa indentitas (tambuh sangkane), sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya ketika merebut Surasowan. Secara garis keturunan dan pandangan keagamaan, Panembahan Hasanudin adalah cicit dari Sri Baduga Maharaja dari alur darah Kawunganten maupun dari Susuhunan Jati. Mungkin ia merasa berhak atas tahta Kerajaan Pajajaran.

Dalam masa pemerintahan Sang Ratu Dewata itulah, pasukan Panembahan Hasanudin menyerang ibukota Pakuan Pajajaran. Akan tetapi serangan itu disongsong pasukan Pakuan dialun-alun Pakuan, sekarang alun-alun Empang. Dalam pertempuran itu, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sanghiyang, perwira-perwira muda pihak Pajajaran.

Peperangan ini dicatat dalam Carita Parahyangan, isinya : 
datangna bancana musuh ganal, tambuh sangkane. Prangrang di burwan ageung. Pejah Tohaan Ratu Sarendet deung Tohaan Ratu Sanghyang”.
 (Datang bencana dari laskar musuh. Tak dikenal asal-usulnya. Terjadi perang di alun-alun. Gugurlah Tohaan Ratu Sarendet dan Ratu Sanghyang).

Pasukan Hasanudin setelah gagal menyerang Pakuan, mengundurkan diri, lalu melakukan serangan ke daerah utara, kemudian Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri.

Setelah Sang Ratu Dewata wafat, digantikan oleh puteranya, Ratu Sakti, pada tahun 1543 M. Namun Ratu Sakti, dalam menjalankan pemerintahannya sebagai raja kejam.

Dalam situasi Pajajaran sedang memburuk tidak lagi memperdulikan etika kenegaraan. Ia membunuh orang-orang tak berdosa, merampas harta rakyat tanpa perasaan malu, tidak berbakti kepada orang tua, dan menghinakan para pendeta. Ia menikahi “rara hulanjar” gadis yang sudah bertunangan, bahkan yang menjadi puncak ketidak etisannya, menikahi ibu tirinya. Sang Ratu Sakti diturunkan dari tahtanya, pada tahun 1551 M. Kelemahan Pajajaran ini tidak sempat dimanfaatkan Banten, karena saat itu Hasanudin sedang mengerahkan pasukannya ke Pasuruan, membantu Sultan Trenggono.

Ekspansi Banten Kewilayah Timur Jawa
Panembahan Hasanudin memiliki peranan yang cukup besar ketika ia masih berstatus Bupati bawahan Cirebon. Pada masa tersebut Sultan Trenggono mengutus adiknya, yakni Nyi Pembayun, isteri dari Fadillah Khan, meminta bantuan pasukan Banten agar bergabung dengan pasukan Fadillah Khan (Bupati Kalapa), untuk menaklukkan, Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dalam penyerangan tersebut, Demak menyertakan Pasukan Portugis untuk membantunya.

Pada masa itu Demak tidak lagi memusuhi Portugis, bahkan Portugis diijinkan membuka kantor dagang di Banten Pasisir, serta menempatkan armada lautnya disana. Armada Portugis pada saat itu dipimpin oleh Tome Pinto (pelaku penanda tangan perjanjian Pajajaran - Portugis 21 Agustus 1522 M di Pakuan). Dari catatan Tom Pires inilah sejarah ini diketahui.

Mungkin cerita ini akan sangat menganggu mengingat peristiwa penandatanganan Perjanjian Pajajaran – Portugis di pahami sebagai kesalahan Pajajaran melakukan kolaborasi dengan pihak asing dalam mempertahankan kedaulatannya. Namun akan menjadi lain ketika mengetahui sejarah selanjutnya, terutama ketika Demak menyertakan Portugis untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan.

Begitu pula pandangan Demak. Awalnya dimasa pemerintahan Raden Patah sangat memusihi Portugis. Namun ketika Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon sudah berada dibawah pengaruhnya, demi kepentingan perdagangan maka Demak tidak mengharamkan untuk menjalin persahabatan dengan Portugis.

Ketika Banten Pasisir sudah berubah menjadi Kerajaan Surasowan, dunia perdagangannya semakin pesat. Islam telah mewarnai Surasowan menjadi Negara perniagaan. 
Menurut Yosep Iskandar, : dari catatan perjalanan (terjemahan Saleh Danasasmita) dapat digambarkan sebagai berikut:

Dari Malaka berlayar lagi, Setelah 17 hari, tibalah aku dipelabuhan Banten tempat yang biasa dikunjungi orang Portugis untuk berdagang. Disana keperluan untuk muatan kapal kita, merica, ketika itu sedang sangat jarang didapat diseluruh negeri. Karena itu kami terpaksa harus tinggal disini selama musim hujan.

Telah berlangsung dua bulan lamanya kami dalam perdagangan yang menyenangkan disin, ketika raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia mengirim utusan kepada Tagaril, raja Sunda, meminta bantuan dengan pesan bahwa dalam tempo setengah bulan harus datang ke Jepara tempat peralatan perang sedang disiapkan untuk menyerang Pasuruan.

Bala bantuan Banten ketika itu berkekuatan yang terdiri dari 30 calaluzes dan 10 jurupango diperlengkapi dengan keperluan perjalan dan peralatan perang. Dalam 40 kapal itu terdapat 7.000 orang diluar para pendayung. Sedangkan dari Portugis menyertakan 40 orang. Kesertaan Portugis tentunya setelah mendapat konsensi, bahwa Portugis akan dibantu di Banten, sehingga janji ini mendorong Portugis untuk membantu peperangan ini.

Dari catatan Tome Pinto, menyebutkan, bahwa Raja Sunda (Hasanudin) bertolak dari pelabuhan Banten pada tanggal 5 januari 1546 dan tiba pada tanggal 19 bulan itu dikota Jepara. Disana peralatan perang sedang disiapkan.

Dari catatan ini diketahui pula adanya kepentingan politik perdagangan antara Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak dengan Portugis. Walaupun 24 tahun yang lalu Portugis telah mengadakan perjanjian dagang dengan Pajajaran, namun kemudian berpaling dan mengikat persahabatan dengan negara-negara yang memiliki pelabuhan dagang. Pada waktu semua pelabuhan milik Pajajaran sudah direbut Demak. Hal ini ditegaskan dalam vatatan Tome Pinto, bahwa raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia.

Suatu hal yang jarang dibahas dalam kondisi ini, yakni kesempatan Pajajaran untuk menguasai kembali daerahnya yang telah direbut Cirebon – Demak. Keengganan Pajajaran untuk menggunakan kesempatan ini dimungkinkan karena penguasa Pajajaran percaya terhadap Perjanjian Cirebon – Pajajaran untuk tidak saling mengganggu.

Sedangkan setiap serangan Panembahan Hasanudin dilakukan tanpa menggunakan identitas Banten, sehingga tidak ada kecurigaan Pajajaran terhadap Banten dan Cirebon. Spekulasi kedua, yang banyak disebut-sebut dikaitkan dengan tabiat Ratu Sakti yang saat itu berkuasa di Pajajaran. Ia dianggap tidak memikirkan negara, kecuali kesenangannya. Dimungkinkan pula cemoohan para penulis sejarah terhadapnya diakibatkan dari “laweurnya’ Ratu Sakti tidak menggunakan kesempatan untuk mengembalikan wilayah Pajajaran.

Serangan Kedua Ke Pakuan
Pada masa itu kerajaan Pajajaran sudah tidak lagi sekuat dulu, menginat ada beberapa masalah dalam negeri yang melumpuhkan roda pemerintahan. Seperti masa Ratu Dewata yang lebih memilih sebagai raja resi ketimbang mengurus negara. Sebaliknya, penggantinya, yakni Ratu Sakti diangap paling kejam dan tidak mau tahu urusan rakyat.

Akibat yang dilakukan pada dua periode tersebut, pada masa pemerintahan Prabu Nilakendra, Pajajaran sudah demikian bobrok. Rakyat dilanda kelaparan. Masa ini dikenal dengan sebutan masa Kaliyuga.

Pada masa Kaliyuga (zaman kejahatan dan kemaksiatan), Nilakendra masih sempat membuat bendera keramat, memperindah keraton dengan membangun taman berbalay (dihampari batu), mendirikan bangunan megah 17 baris yang dilukisi dengan emas, menggambarkan bermacam-macam cerita. Setiap keratin dimeriahkan oleh pesta-pora, makan enak, disertai minum-minum (tuak) sampai mabuk. Mengenai Prabu Nilakendra, tidak ada ilmu yang disukainya, kecuali perihal makanan lezat yang sesuai dengan kekayaannya. Itulah bunga pralaya yang disebut kaliyuga. Pajajaran telah berada diambang kehancuran.

Pada jaman Nilakendra muncul kembali serangan dari pasukan tidak dikenal indentitasnya, menggempur ibukota Pakuan. Prabu Nilakendra tidak berdaya, ia meloloskan diri meninggalkan keratin. Prabu Nilakendra tidak pernah diketahui kapan wafatnya dan dimana dipusarakannya. Mungkin ia meninggal ditengan hutan belantara dalam keadaan sengsara sebatang kara. 
Peristiwa ini digambarkan didalam Carita Parahyangan, : 
“Tohaan Majaya alah prangrang mangka tan nitih ring kadatwan” 
(Tohaan Majaya kalah perang dan ia tidak tinggal di Keraton).

Nasib ibukota Pakuan, dimasa bodohkan begitu saja, dipercayakan kepada semua pembesar yang tidak menyertainya dalam pelarian. Para pembesar kerajaan Pajajaran dengan segala daya upaya mempertahankan keraton Pakuan Pajajaran. Berkat perlindungan parit pertahanan dan benteng yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja, Keraton dapat diselamatkan.

Pajajaran Sirna
Pasca penyerangan Banten kali kedua ke Pakuan, tokoh penanda tangan perjanjian Pajajaran-Cirebon, satu persatu menutup usianya, yakni :
Sanghiyang Surawisesa (raja Pajajaran), wafat lebih awal, pada tahun 1535 M ; 
Susuhunan Jati, wafat pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka atau 19 September 1568 M ; 
Fadillah Khan, yang menggantikan Susuhunan Jati, wafat, pada tahun 1570 Masehi ; 
Panembahan Hasanudin, wafat pada tahun 1570 Masehi.

Panembahan Hasanudin digantikan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf, putra dari pernikahannya puteri Indrapura. Panembahan Yusuf tertarik untuk memperkuat wilayah negaranya, iapun mempersiapkannya dengan matang, terutama setelah Hasanudin Gagal menghancurkan Pakuan untuk yang kedua kalinya. Penyerangan tersebut dilakukan setelah sembilan tahun Panembahan Yusuf memegang tahta kerajaan Surasowan. Serangan tersebut mendapat bantuan dari kerajaan Cirebon, sehingga disebut serangan besar-besaran ke Pakuan.

Serangan Banten ke Pakuan diabadikan dalam Serat Banten :

  • Nalika kesah punika
  • Ing sasih muharam singgih
  • Wimbaning sasih sapisan
  • Dinten ahad tahun alif
  • Puningka sangkalanya
  • Bumi rusak rikih iki

(Waktu keberangkatan itu – terjadi bulan muharam – tepat pada awal bulan – hari ahad tahun alif – inilah tahun sakanya – satu lima kosong satu).

Kondisi di Pakuan pasca ditinggalkan oleh Prabu Nilakendra, sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah. Sebagian lagi meninggalkan Pakuan mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, Senapati Jayaprakosa beserta adik-adiknya.

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah kekerabatan dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Dari sekian bagian penduduk yang mengungsi, ada sebagian lagi yang mencoba bertahan di Pakuan, bersama beberapa orang pembesar kerajaan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati (keraton Pajajaran). Walaupun sudah tidak berfungsi, kehidupan di Pakuan pulih kembali.

Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya, berupaya menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan ibukotanya di Pulasari. Ia bertahta tanpa mahkota, sebab semua perangkat dan atribut kerajaan telah dipercayakan kepada Senapati Jayaprakosa dan adik-adiknya untuk diselamatkan. Mungkin juga pemilihan Pulasari pada waktu itu karena masih ada raja daerah, Rajataputra, bekas ibukota Salakanagara. Namun ada juga yang menyebutkan, bahwa Pulasari bukanlah ibukota seperti yang lajim digambarkan dalam suatu pemerintahan. Pulasari waktu itu sebagai Kabuyutan, daerah yang dikeramatkan. Digunakan oleh Suryakancana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Menurut Yosep Iskandar, : Prabu Ragamulya Suryakancana seperti sudah mempunyai firasat, bahwa pusat kerajaannya harus di Pulasari Pandeglang. Mungkin berdasarkan petunjuk spiritual (uga), bahwa ia harus kembali ketitik-asal (purbajati). Mungkin juga ia “mengetahui” melalui bacaan lontar, catatan tentang “Rajakasawa” yang mengisahkan “Karuhun” (leluhur) Jawa Barat. Atau hanya berdasarkan “dorongan batin” yang ia miliki sebagai pewaris darah raja.

Sulit dibayangkan, sebab pusat kerajaannya yang baru, justru berdampingan dengan Kerajaan Surasowan. Yang pasti, Pulasari yang dijadikan ibukota Kerajaan Pajajaran tersebut adalah “patilasan” (bekas) pemukiman yang dahulu kala didirikan oleh Sang Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya dalam abad kedua Masehi. Di Pulasari pula Sang Dewawarman mendirikan Rajatapura, ibukota Salakanagara pada tahun 130 Masehi. Namun sejarah mencatat, bahwa : Prabu Ragamulya Suryakancana gugur di Pulasari oleh pasukan Maulana Yusuf.

Sepeninggalnya Nilakendra, Pakuan masih memiliki aktifitas seperti biasanya, namun memang sudah tidak lagi digunakan sebagai persemayamannya raja Pajajaran. Benteng Pakuan memiliki pertahanan yang sangat kuat. Bukan karena ada parit-parir dan benteng-benteng pertahanan yang dahulu dibangun Sri Baduga Maharaja, melainkan juga soliditas dan ketangguhan sisa-sisa prajurit Pajajaran yang masih bermukim dibenteng.

Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan yang dengan susah payah membangun kembali kehidupannya pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya gugur di Pulasari.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : 
Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. 
(Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).


Bahan bacaan :

Rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, jilid 4, 1983 – 1984.
Sejarah Jawa Barat, Drs Yoseph Iskandar, Geger Sunten – Bandung, 1997

1 comment :

Tabloid Burung

BOGOR HERITAGE