Jimat dalam pandangan umum, China dan Islam


rajah
Benarkah jimat memiliki kekuatan yang tersembunyi? Apakah ini hanya takhayul semata? Tulisan ini akan mencoba mengulas sedikit tentang pengertian dan makna dari  jimat ….

Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Jimat” diartikan sebagai benda yang mengandung kesaktian untuk menolak penyakit, menjadikan kebal senjata, dan sebagainya. 


Penggunaan “dan sebagainya” pada keterangan tersebut agaknya sengaja dilakukan penyusun kamus agar pendefinisian kata “Jimat” tidaklah terlalu panjang dan bertele-tele. Pada kenyataannya, keyakinan mengenai jimat memang tidak berhenti pada aspek menolak penyakit dan kebal senjata. 

Masih banyak aspek-aspek lain yang diyakini bisa muncul lewat kekuatan (gaib) sebuah jimat. Sebagai contoh, jimat untuk peruntungan, jimat pengasihan, hingga jimat untuk kekuatan seks.

Benda-benda yang dianggap sebagai jimat dilaporkan ditemukan di berbagai belahan dunia. Pada masyarakat Mesir Kuno, misalnya, ada macam-macam jimat yang ditemukan menempel pada mumi. Dua di antaranya adalah yang disebut Scarab sebagai lambang keabadian, dan Ankh berupa palang terbalik sebagai simbol kehidupan. Kedua model jimat ini masih digunakan di Barat. 

Di wilayah Polinesia terdapat Tiki, berupa benda kecil berbentuk ukiran tubuh manusia yang berhubungan dengan kelahiran. Jimat model ini juga masih populer di Barat.


macam benda jimat
Sementara itu, benda-benda alamiah berbentuk aneh pun kerap dipakai sebagai jimat. Mulai dari logam, bulu, kain, kayu, tulang, kerang, gigi dan kuku binatang, sampai tanaman. Barang-barang itu diyakini menyimpan energi dari kekuatan alam.

Sebagai contoh, bagi pria suku primitif Mocovi di Chaco, Amerika Utara, kuku rusa yang diikatkan di pergelangan kaki dan pinggang dijadikan sebagai jimat agar membuat mereka bisa berlari secepat rusa.Atau, kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh. 

Di kalangan masyarakat kita pun ada kepercayaan yang nyaris serupa. Batu akik kecubung asihan dipercaya punya khasiat menolak penyakit menular, menambah rasa percaya diri, kewibawaan, dan kehormatan. Jenis akik ini biasanya juga dipakai sebagai jimat agar enteng jodoh.

Demikianlah beberapa buah contoh jimat alamiah, yang tentu saja untuk memperolehnya tidaklah mudah. Bahkan, jimat-jimat alamiah tersebut sejatinya tidak bisa langsung siap pakai atau langsung terasa khasiatnya, melainkan juga harus melalui proses ritual tersendiri untuk pengisiannya.

Sekarang, mari kita fokuskan pembahasan kita pada berbagai jenis jimat buatan manusia, yang tentu saja ahli dalam bidang ini. Mengutip pendapat Prancis Barrett dalam The Magis or Celestial Intelligencer, apa yang disebut sebagai jimat buatan tersebut telah dikenal orang sejak zaman dahulu kala, dan khasiatnya memang bisa dirasakan. Sebagai contoh, Barrett mengatakan, “Jika seseorang mengenakan jimat dari perak, logam yang mewakili bulan, dibuat ketika bulan sedang baik, maka orang itu akan mendapatkan kesehatan yang baik dan dihormati orang.”

Menurut Susilo, paranormal yang cukup kondang dengan berbagai kreasi bentuk jimat, apa yang dinamakan sebagai jimat buatan memang sengaja “diisi” dengan kekuatan gaib lewat ritual tertentu. Dengan disertai doa dan niat tertentu, kekuatan itu akan mengalir ke dalam benda yang menjadi sarana jimat. 

“Setetes rahasia Ilahi, melalui kajian metafisika, setiap benda apa pun yang pada saat pembuatannya diikuti dengan kekuatan daya batin si pencipta, maka atas benda-benda tersebut akan melekat kekuatan daya batin tadi. Ini yang secara ilmiah disebut sebagai Bio-Elektron,” ungkap Susilo dengan kata-kata yang penuh kedalaman makna.

“Pengisian kekuatan gaib pada benda-benda tersebut harus dengan laku (tirakat). Misalnya, dengan bertapa seperti dilakukan para empu zaman dulu. Atau kadang saya mengisinya dengan cara melakukan wirid dan riyadhoh, dengan disertai puasa selama empat puluh hari,” tambah Susi 

Jimat buatan memang dibikin oleh ahlinya dengan cara mencurahkan pikiran dan kekuatannya pada suatu benda sehingga menghasilkan energi gaib yang luar biasa. “Khasiat jimat, terutama jimat buatan, sangat tergantung pada niat saat pengisian,” tegas Susi.

Khasiat Jimat;


benda pusaka
Ada anggapan awam bahwa setiap benda bisa “diisi” atau dijadikan sebagai jimat. Oleh Susi hal ini dianggap kurang tepat. Dengan mengutip penjelasan yang terdapat dalam Kitab Mamba’u Usulil Hikmah, dia menyebutkan hanya ada empat macam benda yang bagus dijadikan sebagai media jimat. Keempat macam benda tersebut, adalah: kain, kertas, logam (terutama emas, perak, besi, dan timah), dan kulit Manusia, binatang (harimau, kijang, dll).

Pemilihan media jimat tersebut tentu saja harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan pembuatan jimat. “Sebagai contoh, untuk membuat jimat pelarisan bisnis atau usaha itu sangat baik bila menggunakan media kain atau logam berupa perak atau besi. Sementara untuk kadigdayaan, sangat baik jika menggunakan media berupa kulit binatang, atau manusia,” papar Susilo.

Benarkah sebuah jimat dapat berkhasiat? Atau mungkin khasiat itu muncul akibat sugesti semata? Lantas, apakah benar menggunakan jimat itu secara hukum agama (Islam) dikatakan sebagai syirik? 

Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas, yang selama ini menjadi kontroversi di kalangan masyarakat awam, sebelumnya marilah kita simak kisah berikut ini, yang kami nukilkan dari Kitab Kisosul Anbiya….
Kisah Nabi Sulaiman AS dan Cincin Saktinya
Seperti diketahui, atas ijin Allah, Nabi Sulaeman AS (All Jews Bless Him) bisa melakukan hal-hal yang sangat luar biasa. Dia bisa memerintah bangsa jin, menundukkan angin, berdialog dengan berbagai jenis binatang, dan lain sebagainya. Berkat kemampuannya yang maha luas ini, Sulaeman menjadi seorang raja yang kaya raya, dan mendapat pengakuan baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Kendati demikian dia selalu memerintah dengan adil dan bijaksana.

Untuk melancarkan roda pemerintahan yang dipimpinnya, Sulaeman didampingi oleh dua orang perdana menteri. Masing-masing adalah Asip Bin Barkhoya yang berasal dari bangsa manusia, dan Istirohi yang berasal dari bangsa jin, dalam kitab Rahasia Yahudi dan Kristen disebut Asmodeus. 

Tanpa sepengetahuan Sulaeman, Istirohi sesungguhnya sudah sejak lama ingin mengetahui apakah yang menjadi sumber kekuatan sang nabi. Sebagai jin yang licik dan licin, dia selalu kasak-kusuk mencari rahasia itu, sampai akhirnya dia pun mengetahui bahwa sumber kekuatan Nabi Sulaeman terdapat pada cincin kesayangannya. Cincin ini memang tak pernah lepas dari jari manis Sulaeman
.
Istirohi tak pernah berhenti mencari akal untuk mencuri cincin ini. Sampai suatu ketika mimpinya itu menjadi kenyataan. 

Dikisahkan, suatu ketika saat Nabi Sulaeman sedang mandi di kolam pemandian raja, tanpa curiga ada yang memiliki niat jahat pada dirinya, dia meletakkan cincin kesayangannya itu di atas batu yang ada di tepian kolam. Ketika itulah Istirohi mencurinya. Dia kemudian segera pergi ke ruangan sang raja. Begitu memakai cincin tersebut, maka menjelmalah Istirohi sebagai Sulaeman yang agung dan perkasa.
Lantas, apa yang terjadi dengan Nabi Sulaeman?

Dikisahkan, setelah kehilangan cincinnya maka dia pun kehilangan semua kekuatan dan keperkasaan yang ada pada dirinya selama ini. Bahkan, tak ada seorang pun dari hamba dan rakyatnya yang mengenali siapa dia yang sesungguhnya. Ya, Sulaeman benar-benar berubah menjadi orang biasa, rakyat jelata. 

Ringkas cerita, Sulaeman akhirnya terusir dari kerajaannya sendiri. Dia mengembara dan hidup sangat miskin. Bahkan untuk sekedar makan saja sulit untuk mendapatkannya.
Sampai suatu ketika, tibalah Sulaeman di sebuah pesisir. Di sana, dia melihat seorang nelayan tengah menarik dan melepas ikan-ikan dari jalanya. Karena didorong oleh rasa lapar, Sulaeman menawarkan diri untuk membantu si nelayan. Si nelayan tidak keberatan, namun dia hanya bisa memberikan satu ekor ikan kepada Sulaeman sebagai upah dari jerih payahnya. 

Tidak diceritakan berapa lama Sulaeman membantu nelayan tua itu. Namun disebutkan, karena terpesona oleh keluhuran budinya, maka si nelayan akhirnya menikahkan Sulaeman dengan salah seorang putrinya. 

Begitulah, Sulaeman menjalani kehidupan sebagai seorang nelayan….
Sementara itu, setelah Nabi Sulaeman kehilangan cincinnya, maka Istirohi-lah yang menguasai seluruh kerajaannya. Dengan cincin sakti lainnya. Ternyata, semuanya memiliki kecurigaan yang sama. Namun masalahnya, bagaimana cara membuktikan kecurigaan itu. 

Setelah melakukan dialog, Asip Bin Barkhoya tiba pada suatu kesimpulan bahwa untuk membuktikan yang duduk di singgasana adalah Sulaeman palsu, maka harus diadakan pembacaan Kitab Zabur di dalam istana. Semua menyetujui usulan ini. 

Pada hari yang telah ditentukan, saat Sulaeman palsu masih lelap di peraduan, sebuah majelis akbar digelar untuk membacakan Kitab Zabur. Apa yang terjadi? 

Saat ayat-ayat Zabur berkumandang maka kepanasanlah seluruh tubuh Sulaeman palsu alias Istirohi. Dia menjerit-jerit kesakitan. Semakin keras Zabur dibaca, maka Istirohi pun semakin kesakitan, bahkan kemudian tubuhnya terlempar ke angkasa dan cincin sakti milik Nabi Sulaeman itu terlepas dari jari manisnya. 

Dikisahkan, setelah terlepas dari tangan Istirohi cincin itu kemudian jatuh ke tengah samudera dan dimakan oleh seekor ikan. Ikan ini kemudian tertangkap oleh jala Nabi Sulaeman AS yang telah menjadi nelayan. Tanpa curiga, Sulaeman membawa ikan ini ke rumahnya. Saat isterinya membersihkan ikan tersebut, maka di dalam perut ikan ditemukanlah cincin sakti miliknya yang telah lama hilang. 

Akhir dari cerita ini tentu sudah dapat diduga. Sulaeman memakai cincin sakti itu, dan dia kembali seperti sediakala…. 

Kisah tersebut jelas merupakan ujian Allah atas kenabian Sulaeman AS.



Di samping itu, ada hal yang dapat disandingkan dengan pembahasan kita mengenai kesaktian sebuah jimat. Bahwa, Allah SWT memang berkehendak memberi kekuatan kepada benda-benda tertentu. Salah satunya, seperti pada cincin Nabi Sulaeman sebagaimana dikisahkan tadi.

Lalu, simak pula kisah kemukjizatan tongkat Nabi Musa AS yang dapat membelah lautan. Intinya, benda apa saja dapat memiliki kekuatan tersendiri atas ijin Allah SWT. Dalam lingkup yang lebih kecil, tidaklah mustahil atau bahkan diklaim sebagai takhayul bahwa jimat-jimat itu juga mengandung suatu kekuatan.

Baik cincin atau tongkat pada kisah Sulaeman dan Musa tentu saja kedua benda tersebut hanyalah media. Hal yang sama tentunya berlaku juga pada jimat. Ya, jimat, apa pun bentuknya, hanyalah sebuah media. Sementara kekuatan yang ada di dalamnya mutlak dari dan berasal dari Allah SWT. Karena itu, apakah seorang yang memegang jimat harus dianggap syirik? 

“Tentu saja semua itu tergantung pada keyakinan masing-masing. Namun menurut hemat saya, hal tersebut harus kita kembalikan pada proses pembuatannya. 

Jika proses pembuatannya bersendikan pada Al Qur’an dan hadits, menurut hemat saya tentu tidak perlu dipermasalahkan,” komentar Saipudin menanggapi pertanyaan di atas.

Lebih lanjut diuraikan olehnya bahwa cara membuat jimat, mulai dari pemilihan bahan hingga proses penulisannya sesungguhnya tidak semudah seperti yang dibayangkan. Untuk menulis jimat misalnya, perlu diketahui rumusannya. 

“Sama seperti matematika, penulisan jimat juga ada rumusnya. Jadi, tidak boleh sembarangan,” tegas Saipudin.

Seperti halnya Aljabar, menulis jimat juga mengenal perhitungan. Sebagai contoh, jika ingin membuat jimat dengan mencantumkan lafadz Asma’ul Husna yang jumlah nilainya 35 dengan memasukkannya ke dalam 8 kolom, maka kedua pertemuan sudut harus menghasilkan jumlah angka yang sama yakni 35. Demikian juga angka-angka pada kotak yang di tengah harus berjumlah 35 juga (lihat contoh kolom jimat)
.
“Mengapa harus seperti ini? Nah, ini tidak bisa dicarikan penjelasannya, sebab sudah pakem dari para ahli Ilmu Hikmah memang seperti itu,” urai Susi.

Di dalam pakem yang sama, juga telah ditetapkan aturan penulisan kolom-kolom pada jimat, yakni dimulai dari 4, 5, 6, dan 8. Ada juga yang 13 kolom, namun ini jarang digunakan karena tingkat kesulitannya. Masing-masing dari jumlah kolom tersebut juga memiliki nama tersendiri. Contohnya, yang 4 kolom disebut Murobba’, 5 kolom Mukhommas, dan yang 6 kolom disebut Musaddas.

Sementara itu, menyangkut waktu penulisan jimat digunakan dua rumus sekaligus, yakni rumus hari dan jam. Dijelaskan oleh Saipudin, kedua rumusan ini penting dipakai karena pada masing-masing hari ada rahasianya tersendiri. Menyangkut jam yang baik disebut sebagai Sa’at Sa’idah. 

“Dalam pakem Ilmu Hikmah, setiap hari itu dijaga oleh nabi, malaikat dan jin yang berbeda. Rumusan ini sudah ada sejak ribuan tahun silam, hanya saja jarang diungkap. Mungkin, hanya para santri yang pernah belajar di pondok pesantren salafiyah (tradisional) yang mempelajarinya. Hal itupun sangat jarang diajarkan Kyai, kecuali kepada para santri senior yang sudah mesantren puluhan tahun,” papar Saipudin. 

Terkait dengan rumus hari dan Sa’at Sa’idah, sebagai contoh disebutkan Saipudin:
  • Hari Minggu: Nabinya Isya, Malaikatnya Rupayail, Jinnya Maimun, Sa’at Sa’idah pukul 10.
  • Hari Senin: Nabinya Muhammad, Malaikatnya Jibroil, Jinnya Maroot, Sa’at Sa’idah pukul 10
  • Hari Selasa: Nabinya Sulaiman, Malaikatnya Samsamail, Jinnya Ahmar, Saat Sa’idah tidak ada (hari kurang baik). 
“Demikian seterusnya setiap hari dijaga oleh nabi, malaikat, dan jinnya masing-masing. Ibaratnya, mereka inilah yang kena giliran piket,” tambah Saipudin. 

Karena hari memiliki watak yang berbeda-beda, maka untuk penulisan jimat harus disesuaikan dengan tujuan dan harinya. Kalau untuk pelarisan dan efek psikologis lainnya sangat baik dibuat pada hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jum’at. Sedangkan untuk tujuan kadigdayaan dan efek fisik sebaiknya dibuat pada hari Selasa atau Sabtu. 

Menserasikan karakter hari dengan perhitungan nilai/neptu nama si pemakai jimat merupakan hal yang sangat penting agar jimat dapat menunjukkan keampuhannya. “Ini tak beda dengan rumusan Fengshui atau Numerologi,” tandas Susi lagi.



wifik -rajah
Dalam penulisan atau pembuatan jimat kerap kali ditemukan ayat-ayat Qur’an atau lafadz-lafadz Asma’ul Husna. Karena itu tak mengherankan bila banyak kalangan ulama (terutama Ulama Fiqih) menuding hal ini sebagai tindakan yang diharamkan. 

Menurut Susi, tuduhan seperti ini wajar saja. Salah satu alasannya, ditakutkan ayat Qur’an atau lafadz-lafadz tersebut dibawa ke suatu tempat yang kotor. Misalnya saja tempat maksiat, walaupun sebenarnya tidak apa tapi malu juga jika di ketahuan umat Islam pergi ketempat maksiat.

“Nah, untuk mensiasati hal tersebut, para ahli Ilmu Hikmah memiliki kiat tersendiri,” tanggap Susi. 

Kiat yang dimaksudkannya, adalah: 
  1. Mengganti huruf-huruf dalam lafadz dengan angka atau nilai dari huruf-huruf tersebut. Contohnya: Menggantikan lafadz Allah (dalam huruf Arab/Hijaiyah) dengan angka atau nilai dari huruf-huruf Alif, Lam, Lam, dan H. Jadi dalam jimat bisa ditulis: 1, 30, 30, 5 (dalam angka Arab).
  2. Menuliskan ayat dengan cara memotongnya dengan kolom.

Banyak tradisi diberbagai agama mengulas masalah Jimat,yang tentunya tidak terlepas dengan unsur keyakinan setiap orang yang mempercayainya. Apalagi di negara Indonesia sebagai negara timur yang banyak mengandung ragam budaya, dan pasti tidak terlepas dengan unsur warisan para leluhurnya.
 .
Berikut kita lampirkan ulasan singkat mengenai jimat dalam tradisi Islam dan Cina;
Jimat dalam tradisi Islam
Jimat dan daya tarik dari setiap deskripsi yang digunakan di seluruh dunia muslim. kita hanya akan dapat berbicara tentang beberapa simbol yang lebih menonjol. 

Jimat yang sangat umum dalam islam adalah ta'wiz, tali hitam atau bahan lainnya di badan yang memiliki teks al-qur'an biasanya tertera pada sepotong logam ditaburkan sepenuhnya ke dalamnya pada satu titik. 

Ta'wiz. Lit. "untuk melarikan diri untuk berlindung". Jimat atau pesona. Sebuah kasus emas atau perak, inclosing kutipan dari al-qur'an atau hadis, dan dikenakan pada leher, lengan, dada atau pinggang. (hughes, a dictionary of islam, hal 630).


redovalfloral


relieforangeamulegible


whitejadeovalamulet

Hal ini tidak berbeda dengan kemunafikan yahudi dikalungkan di dahi namun memiliki arti yang agak berbeda. Muslim memakai itu untuk mengusir roh jahat dan sebagai pesona penyembuhan terhadap penyakit dan penyakit.

Di india ta'wiz sering diberikan kepada seseorang hanya setelah roh telah diusir:
Kemudian mereka mengambil pasien rumah, mencuci muka, tangan, dan kaki, dan entah di sini atau pada hari berikutnya jimat (ta'wiz), dari jenis yang digunakan khusus untuk tujuan ini, terikat di leher atau lengan agar setan tidak menangkapnya lagi. (herklots, islam di india, hal 239).

Jimat serupa, juga kadang-kadang ditabur ke ta'wiz, adalah keajaiban persegi. Kotak ini memiliki pilihan nomor yang ditempatkan dalam diri mereka yang umumnya menambahkan hingga figur dianggap penting khusus dan satu occultic memiliki kekuatan.


firstpage
mungkin jimat yang paling terkenal di dunia islam adalah bahwa disebut al buduh, persegi ajaib seharusnya diturunkan kepada al ghazali dan sekarang dikenal dengan namanya. Ini telah menjadi titik awal untuk seluruh ilmu talismanic simbol. Beberapa otoritas muslim mengatakan bahwa adam diciptakan alun-alun. Dinamakan demikian dari empat huruf arab yang merupakan kunci kombinasi.

Pikiran yang populer buduh kata ini telah menjadi semacam malaikat pelindung, menyerukan yang baik dan nasib buruk. Alun-alun yang digunakan untuk melawan sakit perut, untuk membuat diri seseorang tidak terlihat, untuk melindungi dari mata jahat, dan untuk membuka kunci, tetapi yang paling umum digunakan adalah untuk menjamin aman kedatangan surat dan paket. (zwemer, pengaruh animisme tentang islam, hal 196). 

Kuadrat ini telah digunakan secara luas di india selama berabad-abad dan, seperti biasa, yang diyakini memiliki kekuatan bekerja heran dan efek.

Magic kuadrat dari varietas tersebut digunakan sebagai mantra cinta, untuk menciptakan permusuhan, yang menyebabkan laki-laki untuk diam mengenai lain, untuk mencegah bermimpi, dan mengusir setan di india utara ini digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit; untuk menyebabkan mentega untuk peningkatan yang bergolak, atau susu dalam wanita atau sapi, untuk menghilangkan penyakit ternak, untuk membuat buah-pohon memberikan buah, untuk membuat seorang suami mematuhi istrinya. (herklots, islam di india, hal 254). 

Hal ini diyakini bahwa daya tarik seseorang memberikan kekuasaan atas orang lain dan kemampuan untuk memastikan bahwa mereka bereaksi dengan cara yang direncanakan oleh pemilik alun-alun. Banyak pemuda telah berupaya untuk memenangkan kasih sayang seorang wanita dia tergila-gila dengan melalui ini berarti!

para khoumsa, lima-jari tangan, juga merupakan jimat umum di dunia muslim dan secara luas dikenal sebagai "fatima hand". Hal ini sering tergantung di leher hewan untuk menjaga mereka dari penyakit. Terutama, bagaimanapun, itu digunakan sebagai bentuk kekuatan magis dan, seperti persegi, diyakini memiliki kekuatan jahat untuk mempengaruhi baik atau jahat. Biasanya tangan yang terbuat dari perak meskipun bahan-bahan lain dapat digunakan.



evileye
Di mesir tangan umumnya digunakan sebagai jimat melawan mata jahat. Ini terbuat dari perak atau emas dalam perhiasan, atau yang terbuat dari timah ukuran alam, dan kemudian tergantung di atas pintu rumah. Bagian atas seorang muslim sering banner bentuk ini. , yang digunakan di pelana kuda, bagal, dan sebagainya, dan pada setiap kereta yang digunakan di alexandria kita melihat baik tangan kuningan atau satu dilukis dalam berbagai warna. (zwemer, pengaruh animisme tentang islam, hal 85).

Ada yang mengatakan bahwa muhammad mewakili lima jari, putrinya fathimah, suaminya ali, dan anak-anak mereka hassan dan husain. Di afrika selatan jimat ini muncul selama prosesi ta'ziah tahunan memperingati kesyahidan husain dan pengikutnya di karbala. Beberapa ta'ziahs, mengapung dari makam para martir, memiliki bintang-bintang dan crescent di atas kubah tetapi yang lain memiliki simbol kardus uluran tangan ditutupi kertas perak. Di bagian lain dunia islam secara teratur simbol ini tergambar di rumah. Melayani berbagai tujuan.

Tangan sering dilukis pada drum digunakan dalam bori (setan) tarian di tunis. Hal ini juga mengangkat, jari terulur dan menunjuk ke arah jahat pemberi selamat, dan ini di mesir, afrika utara dan nigeria kini telah menjadi isyarat pelecehan. Di mesir uluran tangan menunjuk seseorang digunakan untuk memohon sebuah kutukan. Mereka mengatakan yukhammisuna, atau "dia melemparkan lima pada kami", yakni, dia mengutuk. (zwemer, "animisme dalam islam", the muslim world, vol. 7, hal 253).



rajah
Benarkah jimat memiliki kekuatan yang tersembunyi? Apakah ini hanya takhayul semata? Tulisan ini akan mencoba mengulas sedikit tentang pengertian dan makna dari  jimat ….

Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Jimat” diartikan sebagai benda yang mengandung kesaktian untuk menolak penyakit, menjadikan kebal senjata, dan sebagainya. 


Penggunaan “dan sebagainya” pada keterangan tersebut agaknya sengaja dilakukan penyusun kamus agar pendefinisian kata “Jimat” tidaklah terlalu panjang dan bertele-tele. Pada kenyataannya, keyakinan mengenai jimat memang tidak berhenti pada aspek menolak penyakit dan kebal senjata. 

Masih banyak aspek-aspek lain yang diyakini bisa muncul lewat kekuatan (gaib) sebuah jimat. Sebagai contoh, jimat untuk peruntungan, jimat pengasihan, hingga jimat untuk kekuatan seks.

Benda-benda yang dianggap sebagai jimat dilaporkan ditemukan di berbagai belahan dunia. Pada masyarakat Mesir Kuno, misalnya, ada macam-macam jimat yang ditemukan menempel pada mumi. Dua di antaranya adalah yang disebut Scarab sebagai lambang keabadian, dan Ankh berupa palang terbalik sebagai simbol kehidupan. Kedua model jimat ini masih digunakan di Barat. 

Di wilayah Polinesia terdapat Tiki, berupa benda kecil berbentuk ukiran tubuh manusia yang berhubungan dengan kelahiran. Jimat model ini juga masih populer di Barat.


macam benda jimat
Sementara itu, benda-benda alamiah berbentuk aneh pun kerap dipakai sebagai jimat. Mulai dari logam, bulu, kain, kayu, tulang, kerang, gigi dan kuku binatang, sampai tanaman. Barang-barang itu diyakini menyimpan energi dari kekuatan alam.

Sebagai contoh, bagi pria suku primitif Mocovi di Chaco, Amerika Utara, kuku rusa yang diikatkan di pergelangan kaki dan pinggang dijadikan sebagai jimat agar membuat mereka bisa berlari secepat rusa.Atau, kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh. 

Di kalangan masyarakat kita pun ada kepercayaan yang nyaris serupa. Batu akik kecubung asihan dipercaya punya khasiat menolak penyakit menular, menambah rasa percaya diri, kewibawaan, dan kehormatan. Jenis akik ini biasanya juga dipakai sebagai jimat agar enteng jodoh.

Demikianlah beberapa buah contoh jimat alamiah, yang tentu saja untuk memperolehnya tidaklah mudah. Bahkan, jimat-jimat alamiah tersebut sejatinya tidak bisa langsung siap pakai atau langsung terasa khasiatnya, melainkan juga harus melalui proses ritual tersendiri untuk pengisiannya.

Sekarang, mari kita fokuskan pembahasan kita pada berbagai jenis jimat buatan manusia, yang tentu saja ahli dalam bidang ini. Mengutip pendapat Prancis Barrett dalam The Magis or Celestial Intelligencer, apa yang disebut sebagai jimat buatan tersebut telah dikenal orang sejak zaman dahulu kala, dan khasiatnya memang bisa dirasakan. Sebagai contoh, Barrett mengatakan, “Jika seseorang mengenakan jimat dari perak, logam yang mewakili bulan, dibuat ketika bulan sedang baik, maka orang itu akan mendapatkan kesehatan yang baik dan dihormati orang.”

Menurut Susilo, paranormal yang cukup kondang dengan berbagai kreasi bentuk jimat, apa yang dinamakan sebagai jimat buatan memang sengaja “diisi” dengan kekuatan gaib lewat ritual tertentu. Dengan disertai doa dan niat tertentu, kekuatan itu akan mengalir ke dalam benda yang menjadi sarana jimat. 

“Setetes rahasia Ilahi, melalui kajian metafisika, setiap benda apa pun yang pada saat pembuatannya diikuti dengan kekuatan daya batin si pencipta, maka atas benda-benda tersebut akan melekat kekuatan daya batin tadi. Ini yang secara ilmiah disebut sebagai Bio-Elektron,” ungkap Susilo dengan kata-kata yang penuh kedalaman makna.

“Pengisian kekuatan gaib pada benda-benda tersebut harus dengan laku (tirakat). Misalnya, dengan bertapa seperti dilakukan para empu zaman dulu. Atau kadang saya mengisinya dengan cara melakukan wirid dan riyadhoh, dengan disertai puasa selama empat puluh hari,” tambah Susi 

Jimat buatan memang dibikin oleh ahlinya dengan cara mencurahkan pikiran dan kekuatannya pada suatu benda sehingga menghasilkan energi gaib yang luar biasa. “Khasiat jimat, terutama jimat buatan, sangat tergantung pada niat saat pengisian,” tegas Susi.

Khasiat Jimat;


benda pusaka
Ada anggapan awam bahwa setiap benda bisa “diisi” atau dijadikan sebagai jimat. Oleh Susi hal ini dianggap kurang tepat. Dengan mengutip penjelasan yang terdapat dalam Kitab Mamba’u Usulil Hikmah, dia menyebutkan hanya ada empat macam benda yang bagus dijadikan sebagai media jimat. Keempat macam benda tersebut, adalah: kain, kertas, logam (terutama emas, perak, besi, dan timah), dan kulit Manusia, binatang (harimau, kijang, dll).

Pemilihan media jimat tersebut tentu saja harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan pembuatan jimat. “Sebagai contoh, untuk membuat jimat pelarisan bisnis atau usaha itu sangat baik bila menggunakan media kain atau logam berupa perak atau besi. Sementara untuk kadigdayaan, sangat baik jika menggunakan media berupa kulit binatang, atau manusia,” papar Susilo.

Benarkah sebuah jimat dapat berkhasiat? Atau mungkin khasiat itu muncul akibat sugesti semata? Lantas, apakah benar menggunakan jimat itu secara hukum agama (Islam) dikatakan sebagai syirik? 

Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas, yang selama ini menjadi kontroversi di kalangan masyarakat awam, sebelumnya marilah kita simak kisah berikut ini, yang kami nukilkan dari Kitab Kisosul Anbiya….
Kisah Nabi Sulaiman AS dan Cincin Saktinya
Seperti diketahui, atas ijin Allah, Nabi Sulaeman AS (All Jews Bless Him) bisa melakukan hal-hal yang sangat luar biasa. Dia bisa memerintah bangsa jin, menundukkan angin, berdialog dengan berbagai jenis binatang, dan lain sebagainya. Berkat kemampuannya yang maha luas ini, Sulaeman menjadi seorang raja yang kaya raya, dan mendapat pengakuan baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Kendati demikian dia selalu memerintah dengan adil dan bijaksana.

Untuk melancarkan roda pemerintahan yang dipimpinnya, Sulaeman didampingi oleh dua orang perdana menteri. Masing-masing adalah Asip Bin Barkhoya yang berasal dari bangsa manusia, dan Istirohi yang berasal dari bangsa jin, dalam kitab Rahasia Yahudi dan Kristen disebut Asmodeus. 

Tanpa sepengetahuan Sulaeman, Istirohi sesungguhnya sudah sejak lama ingin mengetahui apakah yang menjadi sumber kekuatan sang nabi. Sebagai jin yang licik dan licin, dia selalu kasak-kusuk mencari rahasia itu, sampai akhirnya dia pun mengetahui bahwa sumber kekuatan Nabi Sulaeman terdapat pada cincin kesayangannya. Cincin ini memang tak pernah lepas dari jari manis Sulaeman
.
Istirohi tak pernah berhenti mencari akal untuk mencuri cincin ini. Sampai suatu ketika mimpinya itu menjadi kenyataan. 

Dikisahkan, suatu ketika saat Nabi Sulaeman sedang mandi di kolam pemandian raja, tanpa curiga ada yang memiliki niat jahat pada dirinya, dia meletakkan cincin kesayangannya itu di atas batu yang ada di tepian kolam. Ketika itulah Istirohi mencurinya. Dia kemudian segera pergi ke ruangan sang raja. Begitu memakai cincin tersebut, maka menjelmalah Istirohi sebagai Sulaeman yang agung dan perkasa.
Lantas, apa yang terjadi dengan Nabi Sulaeman?

Dikisahkan, setelah kehilangan cincinnya maka dia pun kehilangan semua kekuatan dan keperkasaan yang ada pada dirinya selama ini. Bahkan, tak ada seorang pun dari hamba dan rakyatnya yang mengenali siapa dia yang sesungguhnya. Ya, Sulaeman benar-benar berubah menjadi orang biasa, rakyat jelata. 

Ringkas cerita, Sulaeman akhirnya terusir dari kerajaannya sendiri. Dia mengembara dan hidup sangat miskin. Bahkan untuk sekedar makan saja sulit untuk mendapatkannya.
Sampai suatu ketika, tibalah Sulaeman di sebuah pesisir. Di sana, dia melihat seorang nelayan tengah menarik dan melepas ikan-ikan dari jalanya. Karena didorong oleh rasa lapar, Sulaeman menawarkan diri untuk membantu si nelayan. Si nelayan tidak keberatan, namun dia hanya bisa memberikan satu ekor ikan kepada Sulaeman sebagai upah dari jerih payahnya. 

Tidak diceritakan berapa lama Sulaeman membantu nelayan tua itu. Namun disebutkan, karena terpesona oleh keluhuran budinya, maka si nelayan akhirnya menikahkan Sulaeman dengan salah seorang putrinya. 

Begitulah, Sulaeman menjalani kehidupan sebagai seorang nelayan….
Sementara itu, setelah Nabi Sulaeman kehilangan cincinnya, maka Istirohi-lah yang menguasai seluruh kerajaannya. Dengan cincin sakti lainnya. Ternyata, semuanya memiliki kecurigaan yang sama. Namun masalahnya, bagaimana cara membuktikan kecurigaan itu. 

Setelah melakukan dialog, Asip Bin Barkhoya tiba pada suatu kesimpulan bahwa untuk membuktikan yang duduk di singgasana adalah Sulaeman palsu, maka harus diadakan pembacaan Kitab Zabur di dalam istana. Semua menyetujui usulan ini. 

Pada hari yang telah ditentukan, saat Sulaeman palsu masih lelap di peraduan, sebuah majelis akbar digelar untuk membacakan Kitab Zabur. Apa yang terjadi? 

Saat ayat-ayat Zabur berkumandang maka kepanasanlah seluruh tubuh Sulaeman palsu alias Istirohi. Dia menjerit-jerit kesakitan. Semakin keras Zabur dibaca, maka Istirohi pun semakin kesakitan, bahkan kemudian tubuhnya terlempar ke angkasa dan cincin sakti milik Nabi Sulaeman itu terlepas dari jari manisnya. 

Dikisahkan, setelah terlepas dari tangan Istirohi cincin itu kemudian jatuh ke tengah samudera dan dimakan oleh seekor ikan. Ikan ini kemudian tertangkap oleh jala Nabi Sulaeman AS yang telah menjadi nelayan. Tanpa curiga, Sulaeman membawa ikan ini ke rumahnya. Saat isterinya membersihkan ikan tersebut, maka di dalam perut ikan ditemukanlah cincin sakti miliknya yang telah lama hilang. 

Akhir dari cerita ini tentu sudah dapat diduga. Sulaeman memakai cincin sakti itu, dan dia kembali seperti sediakala…. 

Kisah tersebut jelas merupakan ujian Allah atas kenabian Sulaeman AS.



Di samping itu, ada hal yang dapat disandingkan dengan pembahasan kita mengenai kesaktian sebuah jimat. Bahwa, Allah SWT memang berkehendak memberi kekuatan kepada benda-benda tertentu. Salah satunya, seperti pada cincin Nabi Sulaeman sebagaimana dikisahkan tadi.

Lalu, simak pula kisah kemukjizatan tongkat Nabi Musa AS yang dapat membelah lautan. Intinya, benda apa saja dapat memiliki kekuatan tersendiri atas ijin Allah SWT. Dalam lingkup yang lebih kecil, tidaklah mustahil atau bahkan diklaim sebagai takhayul bahwa jimat-jimat itu juga mengandung suatu kekuatan.

Baik cincin atau tongkat pada kisah Sulaeman dan Musa tentu saja kedua benda tersebut hanyalah media. Hal yang sama tentunya berlaku juga pada jimat. Ya, jimat, apa pun bentuknya, hanyalah sebuah media. Sementara kekuatan yang ada di dalamnya mutlak dari dan berasal dari Allah SWT. Karena itu, apakah seorang yang memegang jimat harus dianggap syirik? 

“Tentu saja semua itu tergantung pada keyakinan masing-masing. Namun menurut hemat saya, hal tersebut harus kita kembalikan pada proses pembuatannya. 

Jika proses pembuatannya bersendikan pada Al Qur’an dan hadits, menurut hemat saya tentu tidak perlu dipermasalahkan,” komentar Saipudin menanggapi pertanyaan di atas.

Lebih lanjut diuraikan olehnya bahwa cara membuat jimat, mulai dari pemilihan bahan hingga proses penulisannya sesungguhnya tidak semudah seperti yang dibayangkan. Untuk menulis jimat misalnya, perlu diketahui rumusannya. 

“Sama seperti matematika, penulisan jimat juga ada rumusnya. Jadi, tidak boleh sembarangan,” tegas Saipudin.

Seperti halnya Aljabar, menulis jimat juga mengenal perhitungan. Sebagai contoh, jika ingin membuat jimat dengan mencantumkan lafadz Asma’ul Husna yang jumlah nilainya 35 dengan memasukkannya ke dalam 8 kolom, maka kedua pertemuan sudut harus menghasilkan jumlah angka yang sama yakni 35. Demikian juga angka-angka pada kotak yang di tengah harus berjumlah 35 juga (lihat contoh kolom jimat)
.
“Mengapa harus seperti ini? Nah, ini tidak bisa dicarikan penjelasannya, sebab sudah pakem dari para ahli Ilmu Hikmah memang seperti itu,” urai Susi.

Di dalam pakem yang sama, juga telah ditetapkan aturan penulisan kolom-kolom pada jimat, yakni dimulai dari 4, 5, 6, dan 8. Ada juga yang 13 kolom, namun ini jarang digunakan karena tingkat kesulitannya. Masing-masing dari jumlah kolom tersebut juga memiliki nama tersendiri. Contohnya, yang 4 kolom disebut Murobba’, 5 kolom Mukhommas, dan yang 6 kolom disebut Musaddas.

Sementara itu, menyangkut waktu penulisan jimat digunakan dua rumus sekaligus, yakni rumus hari dan jam. Dijelaskan oleh Saipudin, kedua rumusan ini penting dipakai karena pada masing-masing hari ada rahasianya tersendiri. Menyangkut jam yang baik disebut sebagai Sa’at Sa’idah. 

“Dalam pakem Ilmu Hikmah, setiap hari itu dijaga oleh nabi, malaikat dan jin yang berbeda. Rumusan ini sudah ada sejak ribuan tahun silam, hanya saja jarang diungkap. Mungkin, hanya para santri yang pernah belajar di pondok pesantren salafiyah (tradisional) yang mempelajarinya. Hal itupun sangat jarang diajarkan Kyai, kecuali kepada para santri senior yang sudah mesantren puluhan tahun,” papar Saipudin. 

Terkait dengan rumus hari dan Sa’at Sa’idah, sebagai contoh disebutkan Saipudin:
  • Hari Minggu: Nabinya Isya, Malaikatnya Rupayail, Jinnya Maimun, Sa’at Sa’idah pukul 10.
  • Hari Senin: Nabinya Muhammad, Malaikatnya Jibroil, Jinnya Maroot, Sa’at Sa’idah pukul 10
  • Hari Selasa: Nabinya Sulaiman, Malaikatnya Samsamail, Jinnya Ahmar, Saat Sa’idah tidak ada (hari kurang baik). 
“Demikian seterusnya setiap hari dijaga oleh nabi, malaikat, dan jinnya masing-masing. Ibaratnya, mereka inilah yang kena giliran piket,” tambah Saipudin. 

Karena hari memiliki watak yang berbeda-beda, maka untuk penulisan jimat harus disesuaikan dengan tujuan dan harinya. Kalau untuk pelarisan dan efek psikologis lainnya sangat baik dibuat pada hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jum’at. Sedangkan untuk tujuan kadigdayaan dan efek fisik sebaiknya dibuat pada hari Selasa atau Sabtu. 

Menserasikan karakter hari dengan perhitungan nilai/neptu nama si pemakai jimat merupakan hal yang sangat penting agar jimat dapat menunjukkan keampuhannya. “Ini tak beda dengan rumusan Fengshui atau Numerologi,” tandas Susi lagi.



wifik -rajah
Dalam penulisan atau pembuatan jimat kerap kali ditemukan ayat-ayat Qur’an atau lafadz-lafadz Asma’ul Husna. Karena itu tak mengherankan bila banyak kalangan ulama (terutama Ulama Fiqih) menuding hal ini sebagai tindakan yang diharamkan. 

Menurut Susi, tuduhan seperti ini wajar saja. Salah satu alasannya, ditakutkan ayat Qur’an atau lafadz-lafadz tersebut dibawa ke suatu tempat yang kotor. Misalnya saja tempat maksiat, walaupun sebenarnya tidak apa tapi malu juga jika di ketahuan umat Islam pergi ketempat maksiat.

“Nah, untuk mensiasati hal tersebut, para ahli Ilmu Hikmah memiliki kiat tersendiri,” tanggap Susi. 

Kiat yang dimaksudkannya, adalah: 
  1. Mengganti huruf-huruf dalam lafadz dengan angka atau nilai dari huruf-huruf tersebut. Contohnya: Menggantikan lafadz Allah (dalam huruf Arab/Hijaiyah) dengan angka atau nilai dari huruf-huruf Alif, Lam, Lam, dan H. Jadi dalam jimat bisa ditulis: 1, 30, 30, 5 (dalam angka Arab).
  2. Menuliskan ayat dengan cara memotongnya dengan kolom.

Banyak tradisi diberbagai agama mengulas masalah Jimat,yang tentunya tidak terlepas dengan unsur keyakinan setiap orang yang mempercayainya. Apalagi di negara Indonesia sebagai negara timur yang banyak mengandung ragam budaya, dan pasti tidak terlepas dengan unsur warisan para leluhurnya.
 .
Berikut kita lampirkan ulasan singkat mengenai jimat dalam tradisi Islam dan Cina;
Jimat dalam tradisi Islam
Jimat dan daya tarik dari setiap deskripsi yang digunakan di seluruh dunia muslim. kita hanya akan dapat berbicara tentang beberapa simbol yang lebih menonjol. 

Jimat yang sangat umum dalam islam adalah ta'wiz, tali hitam atau bahan lainnya di badan yang memiliki teks al-qur'an biasanya tertera pada sepotong logam ditaburkan sepenuhnya ke dalamnya pada satu titik. 

Ta'wiz. Lit. "untuk melarikan diri untuk berlindung". Jimat atau pesona. Sebuah kasus emas atau perak, inclosing kutipan dari al-qur'an atau hadis, dan dikenakan pada leher, lengan, dada atau pinggang. (hughes, a dictionary of islam, hal 630).


redovalfloral


relieforangeamulegible


whitejadeovalamulet

Hal ini tidak berbeda dengan kemunafikan yahudi dikalungkan di dahi namun memiliki arti yang agak berbeda. Muslim memakai itu untuk mengusir roh jahat dan sebagai pesona penyembuhan terhadap penyakit dan penyakit.

Di india ta'wiz sering diberikan kepada seseorang hanya setelah roh telah diusir:
Kemudian mereka mengambil pasien rumah, mencuci muka, tangan, dan kaki, dan entah di sini atau pada hari berikutnya jimat (ta'wiz), dari jenis yang digunakan khusus untuk tujuan ini, terikat di leher atau lengan agar setan tidak menangkapnya lagi. (herklots, islam di india, hal 239).

Jimat serupa, juga kadang-kadang ditabur ke ta'wiz, adalah keajaiban persegi. Kotak ini memiliki pilihan nomor yang ditempatkan dalam diri mereka yang umumnya menambahkan hingga figur dianggap penting khusus dan satu occultic memiliki kekuatan.


firstpage
mungkin jimat yang paling terkenal di dunia islam adalah bahwa disebut al buduh, persegi ajaib seharusnya diturunkan kepada al ghazali dan sekarang dikenal dengan namanya. Ini telah menjadi titik awal untuk seluruh ilmu talismanic simbol. Beberapa otoritas muslim mengatakan bahwa adam diciptakan alun-alun. Dinamakan demikian dari empat huruf arab yang merupakan kunci kombinasi.

Pikiran yang populer buduh kata ini telah menjadi semacam malaikat pelindung, menyerukan yang baik dan nasib buruk. Alun-alun yang digunakan untuk melawan sakit perut, untuk membuat diri seseorang tidak terlihat, untuk melindungi dari mata jahat, dan untuk membuka kunci, tetapi yang paling umum digunakan adalah untuk menjamin aman kedatangan surat dan paket. (zwemer, pengaruh animisme tentang islam, hal 196). 

Kuadrat ini telah digunakan secara luas di india selama berabad-abad dan, seperti biasa, yang diyakini memiliki kekuatan bekerja heran dan efek.

Magic kuadrat dari varietas tersebut digunakan sebagai mantra cinta, untuk menciptakan permusuhan, yang menyebabkan laki-laki untuk diam mengenai lain, untuk mencegah bermimpi, dan mengusir setan di india utara ini digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit; untuk menyebabkan mentega untuk peningkatan yang bergolak, atau susu dalam wanita atau sapi, untuk menghilangkan penyakit ternak, untuk membuat buah-pohon memberikan buah, untuk membuat seorang suami mematuhi istrinya. (herklots, islam di india, hal 254). 

Hal ini diyakini bahwa daya tarik seseorang memberikan kekuasaan atas orang lain dan kemampuan untuk memastikan bahwa mereka bereaksi dengan cara yang direncanakan oleh pemilik alun-alun. Banyak pemuda telah berupaya untuk memenangkan kasih sayang seorang wanita dia tergila-gila dengan melalui ini berarti!

para khoumsa, lima-jari tangan, juga merupakan jimat umum di dunia muslim dan secara luas dikenal sebagai "fatima hand". Hal ini sering tergantung di leher hewan untuk menjaga mereka dari penyakit. Terutama, bagaimanapun, itu digunakan sebagai bentuk kekuatan magis dan, seperti persegi, diyakini memiliki kekuatan jahat untuk mempengaruhi baik atau jahat. Biasanya tangan yang terbuat dari perak meskipun bahan-bahan lain dapat digunakan.



evileye
Di mesir tangan umumnya digunakan sebagai jimat melawan mata jahat. Ini terbuat dari perak atau emas dalam perhiasan, atau yang terbuat dari timah ukuran alam, dan kemudian tergantung di atas pintu rumah. Bagian atas seorang muslim sering banner bentuk ini. , yang digunakan di pelana kuda, bagal, dan sebagainya, dan pada setiap kereta yang digunakan di alexandria kita melihat baik tangan kuningan atau satu dilukis dalam berbagai warna. (zwemer, pengaruh animisme tentang islam, hal 85).

Ada yang mengatakan bahwa muhammad mewakili lima jari, putrinya fathimah, suaminya ali, dan anak-anak mereka hassan dan husain. Di afrika selatan jimat ini muncul selama prosesi ta'ziah tahunan memperingati kesyahidan husain dan pengikutnya di karbala. Beberapa ta'ziahs, mengapung dari makam para martir, memiliki bintang-bintang dan crescent di atas kubah tetapi yang lain memiliki simbol kardus uluran tangan ditutupi kertas perak. Di bagian lain dunia islam secara teratur simbol ini tergambar di rumah. Melayani berbagai tujuan.

Tangan sering dilukis pada drum digunakan dalam bori (setan) tarian di tunis. Hal ini juga mengangkat, jari terulur dan menunjuk ke arah jahat pemberi selamat, dan ini di mesir, afrika utara dan nigeria kini telah menjadi isyarat pelecehan. Di mesir uluran tangan menunjuk seseorang digunakan untuk memohon sebuah kutukan. Mereka mengatakan yukhammisuna, atau "dia melemparkan lima pada kami", yakni, dia mengutuk. (zwemer, "animisme dalam islam", the muslim world, vol. 7, hal 253).


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jimat dalam pandangan umum, China dan Islam"

Posting Komentar