Sejarah Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat

Kerajaan Hindu kedua tertua yang berada di Nusantara adalah Kerajaan Tarumanegara ( dikenal juga dengan Tarumanagara) yang berlokasi di Jawa Barat. Dalam berita Cina, Tarumanegara dikenal sebagai To-lo-mo. Sejarah bedirinya kerajaan Tarumanegara ini diperkirakan memiliki waktu yang sama dengan kerajaan Kutai Martadipura, yaitu pada abad ke-4 Masehi. Adapun bukti-bukti yang memperkuat pendapat ini adalah temuan dari tujuh prasasti kerajaan yang ditulis dengan menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta. Dalam catatan sejarah dan artefak / peninggalan yang ditemukan di sekitar lokasi, bisa diambil kesimpulan bahwa Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu Wisnu (Vishnu Hindu).


Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:
Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.

Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.

Kata Tarumanegara itu sendiri berasal dari kata Taruma dan Negara. Negara berarti Kerajaan atau Negara sementara Taruma berasal dari kata Tarum, dimana Tarum di sini untuk menampilkan / mewakili nama Sungai Citarum, sungai yang membelah wilayah Jawa Barat. Pada mulut Citarum yang menemukan percandian yang luas. Percandian ini adalah Cibuaya percandian Batujaya dan percandian. Kedua percandian dianggap peninggalan Kerajaan Tarumanegara peradaban

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

WILAYAH KEKUASAAN KERAJAAN TARUMA NEGARA


Keajaan Taruma Negara

LOKASI KERAJAAN TARUMA NEGARA

Berdasarkan catatan dari berbagai prasasti, Tarumanegara kerajaan berdiri di Jawa Barat pada akhir abad ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari Banten - Jakarta ke Cirebon.


LOKASI DITEMUKANNYA PRASASTI 

Lokasi Prasasti Taruma Negara

Ada dua hal yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang membuktikan keberadaan Kerajaan Tarumanegara, pertama adalah berita dari bangsa asing, kedua adalah tujuh prasasti (prasasti) yang menceritakan kerajaan Tarumanegara. Lima prasasti yang ditemukan di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten.

Ada juga Wangsakerta Naskah, informasi tentang Tarumanagara Raya cukup jelas dijelaskan dalam naskah ini. Sayangnya, naskah ini mengundang perdebatan dan banyak ahli meragukan sejarah teks-teks dapat digunakan sebagai referensi sejarah.


 SUMBER SEJARAH KERAJAAN TARUMA NEGARA


A. BERITA DARI BANGSA ASING

Banyak berita dari bangsa asing yang mengungkapkan keberadaan Tarumanegara Kingdom. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Salah satu berita datang dari Claudius Ptolemy . Dalam buku Geografinya , geografi Yunani Kuno menyebutkan bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium ( Javadvipa = Pulau Barley = Jawa ) . Kata Argyre berarti perak , merak tersebut diduga terletak di bagian barat Pulau Jawa .
  2. Berita lainnya datang dari Gunawarman , seorang imam dari Kashmir mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma beragama Hindu .
  3. Berita Fa Hien ( Fa Xian ) , di 414 CE dalam bukunya fo- kuo - chi ( 414 M) mengatakan bahwa di Ye - po -ti ( " Jawadwipa " ) , ada ditemukan beberapa orang yang beragama Buddha , yang banyak orang beragama Hindu dan "agama kotor " ( yaitu animisme ) . Ye Po Ti sering dipertimbangkan untuk penunjukan Jawadwipa , tetapi ada pendapat lain yang mengusulkan bahwa Ye - Po - Ti adalah Way Seputih di Lampung , di aliran Way Seputih (sungai putih) menemukan bukti peninggalan kerajaan kuno di bentuk teras piramida dan lain-lain yang sekarang terletak di taman arkeologi Pugung Raharjo , meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs itu ditemukan batuan yang menunjukkan daerah yang dulunya daerah pesisir persis narasi oleh Fa Xian .Berita dari Dinasti Sui , menceritakan bahwa pada 528 dan 535 delegasi datang dari To -lo -mo ( " Taruma " ) yang terletak di selatan.
  4. Berita Dinasti Tang , juga menegaskan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To -lo -mo.
Berikut gambar peta dunia oleh Claudius Ptolemy

Peta Dunia Abad 15
Peta Dunia abad 15 Masehi dari Claudius Ptolemy
B. BERITA DARI DALAM NEGERI

Yaitu berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan secara terpisah di Bogor, Jakarta, dan Banten. Ketujuh prasasti tersebut antara lain.


1. Prasasti Ciaruteun. 

 
Prasasti Ciaruteun ditemukan di daerah Ciaruteun , Bogor , Jawa Barat , Indonesia . Tempat penemuan Prasasti ini adalah sebuah bukit yang diapit oleh tiga sungai : Ci Sadane , Ci Anten dan Aruteun . Sampai abad ke-19 , tempat ini masih disebut sebagai Pasir Muara , yang termasuk sebagai dasar swasta di Ciampea , (sekarang itu adalah bagian dari Cibungbulang ) . Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa 2 , sarga 3 , halaman 161 disebutkan bahwa Tarumanagara dimiliki Rajamandala (wilayah bawahan ) yang dinamai " Pasir Muhara " .

Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ( sekarang Museum Nasional ) pada tahun 1863 . Karena banjir besar pada tahun 1893 prasasti ini pindah beberapa meter hilir dan bagian batu yang memiliki teks jungkir balik . Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini pindah ke itu tempat asalnya . Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Departemen mengangkat dan memindahkan batu prasasti untuk menghindari banjir untuk memindahkan batu lagi.

Dalam Prasasti / Prasasti Ciaruteun , ada pahatan tapak kaki yang bersaksi bahwa pasangan tapak kaki yang diukir milik Raja Tarumanegara yang terlihat seperti tapak kaki Wisnu.



Tulisan pada prasasti:
vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam


Terjemahan:
" Ini adalah (tanda) dari sepasang kaki yang mirip kaki wisnu (sang pemelihara) ini adalah telapak kai dari yang mulia Purnawarman, raja Taruma, raja yang gagah dan berani di dunia"


2. Prasasti Kebon Kopi. 


Prasasti Kebon kopi
Prasasti Kebon Kopi
 Ditemukan di Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 ini, ditemukan cap telapak kaki gajah yang melambangkan Gajah Airawata, hewan tunggangan Dewa Wisnu.

Menurut mitologi Hindu , Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra sang dewa perang dan pengawa Guntur . Menurut Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1 , Gajah perang Purnawarman dinamakan dengan Airawata, sama seperti gajah tunggangan Batara Indra . Dikabarkan juga bahwa bendera kerajaan Tarumanagara menggambarkan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah . Demikian pula Purnawarman pada ukiran mahkota Purnawarman yagn menggambarkan sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah yang jelas dijelaskan pada Prasasti Ciaruteun yang telah menimbulkan perdebatan di kalangan ahli mengenai makna sejarah serta nilai yang dimiliki. Dimahkotai dengan ukiran tratai diatas kepala gajah diyakini oleh para ahli sebagai " huruf ikal/keriting " yang hingga kini masih belum ada yang sanggup membacanya.

Demikian pula , sepasang tanda ukiran di bagian depan kaki yang membuat banyak orang menduga-duga apa artinya. Beberapa kalangan menganggap itu sebagai simbol laba-laba , atau kombinasi dari matahari kembar solar-moon ( matahari dan bulan ) . Informasi dari Naskah Wangsekerta , bendera Taruma dan ukiran sepasang " Bhramara " ( lebah ) adalah simbol yang terdapat pada mahkota dari Purnawarman.

 Tulisan: 
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam


terjemahannya:
Di sini dibuat sepasang jejak kaki ... yang mirip Airawata, gajah yang dimiliki oleh para penguasa besar Taruma ... dan (?) di Kemuliaan "


3. Prasasti Jambu. 

 
Disebut juga dengan Prasasti Pasir Koleangkak. Prasasti ini ditemukan di area perkebunan jambu di Bogor. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengisahkan tentang kebijaksanaan Raja Purnawarman dalam memerintah Kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Jambu terletak di atas Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Leuwiliang Kabupaten, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Di bukit ini mengalir sungai Cikasungka.





Prasasti Jambu ditemukan pertama kali pada tahun 1854 oleh Jonathan Rigg dan dilaporkan ke Dinas Purbakala pada tahun 1947, namun prasasti ini pertama kali dipelajari pada tahun 1954. Prasasti ini diukir dengan gambar sepasang kaki dengan dua baris puisi.

Tulisan di Prasasti:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahan:
Yang terkenal dan setia terhadap tugasnya adalah seorang raja tiada tandingan bernama Sri Purnawarman yang memerintah TAruma dengan perisai dan bahi besi yang tidak bisa ditembus oleh panah musuh-musuhnya, ini adalah jejak - jejak kakinya yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu disajikan jamuan kehormatan (bagi mereka yang setia kepadanya), tetapi menjadi duri di mata musuhnya.


4. Prasasti Muara Cianten. 


Prasasti ini ditemukan dalam keadaan rusak, jadi isi dari prasasti ini belum dapat dibaca. 

Satu-satunya yang masih tercetak jelas adalah adanya lukisan sepasang telapak kaki.

Prasasti
Muara Cianten terletak di tepi Cisadane (sungai) di dekat Muara Cianten sebelumnya dikenal sebagai Prasasti Pasir Muara (Pasiran Muara) karena itu adalah bagian dari wilayah desa Pasirmuara.  


Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. 

Prasasti Muara Cianten diukir di atas batu besar dan alami dengan ukuran 2,70 x 01:40 x 140 m3

Ini warisan sejarah yang disebut prasasti karena ada goresan tetapi pahatan gambar sulur (heliks) atau ikal yang keluar  



Tulisan di Prasasti:
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahan oleh Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.


5. Prasasti Cidanghiyang.

 
Disebut juga dengan Prasasti Munjul. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, Kecamatan Munjul, Banten. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengkisahkan tentang keberanian Raja Purnawarman.


Prasasti Munjul


Tulisan di Prasasti:
Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah

 Terjemahan:
"Ini adalah (tanda) kepahlawanan, kebesaran, dan keberanian sejati raja dunia, Yang Mulia Raja Purnawarman adalah raja dari semua raja."

6. Prasasti Tugu.

 
Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini menceritakan, antara lain, tentang penggalian kanal air sepanjang 6112 tombak (11 km), bernama Gomati. Pekerjaan ini dilakukan pada tahun aturan Purnawarman tgl 22 dan diselesaikan dalam waktu 21 hari. Prasasti itu juga menyebutkan penggalian Candrabhaga River atau Sungai Bekasi sekarang. Penggalian sungai tersebut dilakukan untuk menghindari bencana alam banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan di musim kemarau.


Prasasti Tugu
 

Tulisan di Prasasti:
pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan:
"Setelah sungai bernama Candrabhaga digali oleh paduka yang mulia yang memiliki lengan yang kuat bernama Purnawarmman, untuk mengalirkan air ke laut, setelah sungai (alur sungai) mencapai istana kerajaan yang terkenal. Pada tahun 22th nya memegang tahta, Paduka Baginda Raja Purnnawarmman kecerdasannya yang memukau dan kebijaksanaan sebagaimana raja dari semua raja, (sekarang), ia juga pembuat keputusan untuk menggali sungai (saluran sungai) yang memiliki air jernih yang indah, Gomati adalah namanya, setelah Sungai tersebut (sungai saluran) mengalir di dalam rumah yang Mulia pendeta kami Nenekda (Raja Purnnawarmman). pekerjaan dimulai pada tanggal baik, tanggal 8 di kegelapan setengah bulan Caitra, hanya membutuhkan waktu 21 hari, sedangkan dgalian  saluran sepanjang 6122 busur. Ucapan Selamat diberikan kepadanya oleh Brahmana yang membawa 1.000 ekor sapi sebagai hadiah "

8. Prasasti Pasir Awi / Ciampea

Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan sebuah bukit di Pasir Awi, hutan Cipamingkis, desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti Pasir Awi telah dikenal sejak tahun 1867 dan dilaporkan sebagai Prasasti Ciampea peninggalan ini diukir di batu alam. Prasasti Pasir Awi menampilkan gambar cabang dengan ranting dan daun dan buah-buahan (bukan karakter) serta sepasang kaki. Huruf ikal yang terdapat pada prasasti tersebut menyulitkan para ahli untuk membacanya lebih lanjut.


Prasasti Pasir Awi

 
PEMERINTAHAN KERAJAAN TARUMANEGARA

Pada abad ke-4 telah berdiri Kerajaan Tarumanegara.  Kerajaan Tarumanegara yang diperintah oleh Raja Purnawarman. Raja Purnawarman adalah raja yang berkualitas dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, orang-orang makmur dalam suasana aman dan damai.

Pengaruh Hindu dan berita dari Cina membuktikan bahwa Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan negara-negara asing. Hubungan dengan Negara asing membuat masyarakat Tarumanegara menjadi lebih baik, baik dalam ilmu dan perdagangan.

Berita dari Dalam Negeri. Yaitu berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan secara terpisah di Bogor, Jakarta, dan Banten. Ketujuh prasasti tersebut antara lain.

  • Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, Bogor. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Pada prasasti ini terdapat cap sepasang telapak kaki milik Raja Purnawarman yang melambangkan kekuasaan raja yang dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

  • Prasasti Kebon Kopi. Ditemukan di Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 ini, ditemukan cap telapak kaki gajah yang melambangkan Gajah Airawata, hewan tunggangan Dewa Wisnu.

  • Prasasti Jambu. Disebut juga dengan Prasasti Pasir Koleangkak. Prasasti ini ditemukan di area perkebunan jambu di Bogor. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengisahkan tentang kebijaksanaan Raja Purnawarman dalam memerintah Kerajaan Tarumanegara.

  • Prasasti Muara Cianten. Sesuai dengan namanya, prasasti ini ditemukan di daerah Muara Cianten, Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan dalam keadaan rusak, jadi isi dari prasasti ini belum dapat dibaca. Satu-satunya yang masih tercetak jelas adalah adanya lukisan sepasang telapak kaki.

  • Prasasti Pasir Awi. Sama seperti Prasasti Muara Cianten, prasasti ini juga masih misterius isinya karena beberapa tulisan sudah rusak.

  • Prasasti Cidanghiyang. Disebut juga dengan Prasasti Munjul. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, Kecamatan Munjul, Banten. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengkisahkan tentang keberanian Raja Purnawarman.

  • Prasasti Tugu. Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini mengisahkan tentang penggalian Sungai Candrabaga dan Gomati sepanjang 6112 tombak (12 KM) pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Penggalian sungai ini dimaksudkan untuk mencegah datangnya bencana banjir dan sebagai sarana irigrasi sawah untuk mengatasi kekeringan.
- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf

AGAMA DAN KEPERCAYAAN DI TARUMANEGARA

Dari relief yang tertulis pada prasasti tugu :
 "Setelah sungai bernama Candrabhaga digali oleh paduka yang mulia yang memiliki lengan yang kuat bernama Purnawarmman, untuk mengalirkan air ke laut, setelah sungai (alur sungai) mencapai istana kerajaan yang terkenal. Pada tahun 22th nya memegang tahta, Paduka Baginda Raja Purnnawarmman kecerdasannya yang memukau dan kebijaksanaan sebagaimana raja dari semua raja, (sekarang), ia juga pembuat keputusan untuk menggali sungai (saluran sungai) yang memiliki air jernih yang indah, Gomati adalah namanya, setelah Sungai tersebut (sungai saluran) mengalir di dalam rumah yang Mulia pendeta kami Nenekda (Raja Purnnawarmman). pekerjaan dimulai pada tanggal baik, tanggal 8 di kegelapan setengah bulan Caitra, hanya membutuhkan waktu 21 hari, sedangkan dgalian  saluran sepanjang 6122 busur. Ucapan Selamat diberikan kepadanya oleh Brahmana yang membawa 1.000 ekor sapi sebagai hadiah "
  
Kita dapat menyimpulkan beberapa hal, tetapi dalam kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa Tarumanegara Kerajaan Keagamaan / Percaya Sistem Hindu. Kesimpulan ini berasal dari fakta bahwa hewan yang digunakan untuk kurban adalah sapi.

KULTUR SOSIAL DALAM KEHIDUPAN DI TARUMANEGARA

Hasil warisan budaya dari kerajaan Tarumanegara berada dalam bentuk patung dan prasasti. Warisan budaya dalam bentuk tujuh prasasti. Selain tujuh prasasti, juga menemukan dua patung, patung Rajarsi dan Wisnu dari Cibuaya memiliki gaya seni Pallava, India Selatan dari abad 7 Masehi 8th Patung tersebut memiliki kesamaan dengan patung Malaya (Malaysia), Siam (Thailand), dan Kampuchea (Kambodja).

Perkiraan kehidupan sosial Tarumanegara berdasarkan kegiatan pertanian. Aspek gotong royong merupakan bagian dari gaya hidup mereka. Air Gomati mengalir adalah salah satu contoh kehidupan gotong royong yang mereka lakukan. Penyediaan 1.000 kepala sapi ke brahmana dari Purnawarman Raja juga menunjukkan bahwa peternakan adalah salah satu mata pencaharian Tarumanegara.

 
Patung vishnu dari Cibuaya Karawang, Jawa Barat

KEHIDUPAN EKONOMI KERAJAAN TARUMANEGARA

Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, orang hidup dengan aman dan tertib. Mata pencaharian penduduk adalah pertanian. Selain itu, untuk kepentingan rakyat, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian kanal bernama Gomati dengan panjang roximately 11 km. Manfaat kanal ini adalah untuk mengairi sawah dan mencegah bahaya banjir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kehidupan masyarakat Tarumanegara sudah cukup tinggi, terutama pada saat Peraturan Purnawarman.

 KERAJAAN TARUMA NEGARA BERDASARKAN WANGSAKERTA

Sejarah Tarumanagara dari Wangsakerta dalam manuskrip cukup jelas. Sayangnya, naskah ini mengundang perdebatan dan banyak ahli meragukan sejarah teks-teks dapat digunakan sebagai referensi sejarah.

Di naskah Wangsakerta dari Cirebon, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dimakamkan di tepi sungai Gomati, sementara anaknya dimakamkan di tepi sungai Candrabaga.

Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara ketiga (395-434 AD). Dia membangun sebuah ibukota baru kekaisaran pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Sundapura adalah nama kota - pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.

Prasasti Pasir Muara menyebutkan peristiwa yang mengembalikan pemerintahan kepada Raja Sunda dibuat pada 536 AD. Pada tahun itu, penguasa Tarumanagara adalah Raja Suryawarman (535-561 AD) The 7th Raja Tarumanagara. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan kesaksian bahwa pada masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak pemerintah daerah yang menerima kembali kekuasaan atas pemerintah daerah sebagai imbalan atas kesetiaannya kepada Tarumanagara. Dilihat dari perspektif ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai kelanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang ditulis dalam Prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya wakil raja yang menjadi kepala pemerintahan di daerah. Yang tidak jelas mengapa prasasti pada kembalinya pemerintah kepada Raja Sunda yang ada? Apakah daerah merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya tempat penting yang termasuk Kerajaan daerah Sunda?

Kedua sumber-sumber prasasti dan sumber-sumber dariManuskrip Wangsakerta bersaksi bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah Tarumanegara meluas ke pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159-162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan raja Purnawarman terdapat 48 daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura hingga Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah, Indonesia. Secara tradisional Cipamali dianggap sebagai yurisdiksi raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa lalu.

Prasasti Purnawarman di Pasir Muara yang memberitakan Raja Sunda di AD 536 tahun, sebuah kondisi yang merubah kawasan Sundapura menjadi sebuah kerajaan daerah. Ini berarti, pemerintah pusat telah bergeser ke tempat lain Tarumanagara. Contoh yang sama dapat dilihat dari Rajatapura atau Salakanagara Posisition (Silver City), disebut Argyre oleh Ptolemy pada tahun 150 Masehi. Kota ini menjadi pusat pemerintahan Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII) sampai 362 Masehi.

Ketika beralih dari pemerintah pusat Rajatapura ke Tarumangara, maka status Salakanagara berubah menjadi kerajaan regional. Jayasingawarman, pendiri Tarumanagara adalah anak mertua Raja Dewawarman VIII. Dia sendiri adalah seorang Maharesi dari Salankayana di India yang melarikan diri ke Indonesia (Nusantara) karena daerahnya diserang dan ditaklukkan oleh Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada .

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan ayahnya memberi kepercayaan lebih kepada raja pemerintah daerah untuk mengurus diri sendiri, tetapi juga mengalihkan perhatian ke wilayah timur. Pada tahun 526 Masehi, misalnya, Manikmaya, Suryawarman mertua, membangun kerajaan baru di Kendan, Nagreg daerah antara Limbangan dan Bandung, Garut, Jawa Barat, Indonesia. Anak  Manikmaya tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Tarumanagara. Pengembangan wilayah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit dari Manikmaya mendirikan Kerajaan baru pada tahun 612 Masehi, Kerajaan tersebut nantinya bernama kerajaan Sunda Galuh.

Kerajaan Tarumanagara sendiri hanya memiliki 12 raja selama pemerintahan. Pada tahun 669, Linggawarman, raja terakhir Tarumanagara, digantikan oleh saudara iparnya, Tarusbawa. Linggawarman dirinya adalah ayah dari dua anak perempuan, yang tertua yang bernama Manasih seorang istri dari Tarusbawa dari Sunda dan Sobakancana bernama kedua yang menjadi istri Dapuntahyang Jayanasa pendiri Sri dari Kerajaan Sriwijaya. Secara umum, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh ke mertua putri sulungnya, yang Tarusbawa.

Tarumanagara berakhir dengan pergeseran kekuasaan ke tahta ke Tarusbawa, karena Tarusbawa ingin kembali ke kerajaannya sendiri, yang sebelumnya terletak di Sunda yang sebelumnya adalah merupakan bagian dari Tarumanagara. Setelah pengalihan kekuasaan ke Sunda, hanya (Sunda) Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari daerah sunda warisan Tarumanagara.

 Menurut buku Nusantara , Maharshi Rajadirajaguru Jayasingawarman menemukan kerajaan Tarumanagara pada 358 M . Jayasingawarman berasal dari Salankayana di India yang runtuh setelah invasi Samudragupta dari Kekaisaran Gupta . Setelah kembali menetap di Jawa Barat , ia menikah dengan seorang putri Sunda yang merupakan puteri dari Raja Dewawarman VIII Salakanagara . Dia meninggal pada 382 Masehi dan dimakamkan di tepi Kali Gomati sungai (sekarang Kota Bekasi ) . Putranya, Dharmayawarman memerintah 382-395 AD . Situs pemakaman adalah di Kali Chandrabaga . Cucunya Purnawarman adalah raja ketiga Tarumanagara dan memerintah 395-434 AD .



SEJARAH SINGKAT KERAJAAN TARUMANEGARA

Buku Nusantara , parwa II sarga 3 (halaman 159-162 ) mencatat bahwa di bawah pemerintahan Raja Purnawarman , Tarumanagara tetap menguasai 48 kerajaan kecil dengan daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura ke Purwalingga ( kota saat Purbalingga di Propinsi Jawa Tengah ) . Secara tradisional Cipamali sungai ( Sungai Brebes ) adalah perbatasan antara Sunda dan Jawa .

Pada 397 Masehi , Raja Purnawarman mendirikan ibu kota baru untuk kerajaan , terletak dekat pantai , yang disebut Sunda Pura berarti Suci atau Kota Suci. Dengan demikian , kata " Sunda " diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Raja Purnawarman pada tahun 397 . Sunda Pura bisa jadi berlokasi di sekitar Tugu ( Jakarta Utara ) , atau dekat dengan Bekasi . Dia meninggalkan tujuh batu prasasti dengan tulisan namanya yang tersebar di Banten dan di Jawa Barat . Prasasti tugu , yang beberapa tahun lebih tua dari Parasasti Ciaruteun merupakan prasasti tertua dari semua prasasti .

Ada banyak batu prasasti dengan tulisan dari zaman raja Purnawarman , beberapa dekat dengan kota Bogor . Prasasti-prasasti tersebut adalah Prasasti Muara Cianten , Prasasti Pasir Awi , Prasasti Cidanghiang , dan Parasasti Jambu . Prasasti Cidanghiang ( duduk jauh ke barat di Lebak di wilayah Pandeglang ) , yang terdiri dari dua baris , menyatakan Purnawarman sebagai standar untuk penguasa di seluruh dunia . Prasasti Jambu , dengan tulisan dua baris di Pallava / Sansekerta , menggambarkan jejak kaki besar raja.

Anak Purnawarman itu, Dharmayawarman memerintah 382-395 AD. Situs pemakaman adalah di Kali Chandrabaga. Raja-raja berikutnya Tarumanagara adalah:

  • Dari 434-455: Raja Wisnuwarman
  • Dari 455-515: Raja Indrawarman
  • Dari 515-535: Raja Candrawarman
  • Dari 535-561: Raja Suryawarman
Raja Suryawarman mendirikan ibu kota baru untuk kerajaan ke arah timur dan meninggalkan Sunda Pura dan masyarakat untuk mempertahankan ketertiban mereka sendiri. Kemudian, Sunda Pura menjadi kerajaan kecil baru yang disebut Sunda Sambawa yang berada di bawah kendali Tarumanagara. Sebelum raja memerintah Tarumanagara, Manikmaya, menantunya, di tahun 526, meninggalkan Sunda Pura tenggara dan mendirikan kerajaan baru di dekat Nagreg saat ini, kota Garut.

Setelah Suryawarman , Tarumanagara diperintah oleh raja-raja :

Dari 561-628 : Raja Kertawarman
Pada periode ini , cucu dari Manikmaya , Wretikandayun , di 612 mendirikan Galuh Raya , sebelah tenggara dari Garut saat ini dengan ibukotanya yang terletak di Banjar Pataruman.

Dari 628-650 Linggawarman
Putri kedua Raja Linggawarman , Putri Sobakancana menikah Dapunta Hyang Sri Jayanasa , yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya . Putri mereka, Manasih kemudian menikah Tarusbawa.

Tarumanagara kerajaan diserang dan dikalahkan oleh Sriwijaya sekitar tahun 650 . Setelah itu, pengaruh Tarumanegara atas kerajaan tetangganya mulai menurun. Keadaan ini kemudian dijadikan sebagai alasan oleh raja Wretikandayun ( pendiri monarki Galuh ) untuk memisahkan kerajaan kecil dari kuasa Tarumanagara dan meminta Raja Tarusbawa membagi wilayah Tarumanagara menjadi dua bagian.

Galuh mendapat dukungan dari kerajaan  Kalingga ( kerajaan pertama di Jawa Tengah ) untuk memisahkan diri dari Tarumanagara karena Galuh dan Kalingga telah membuat aliansi melalui pernikahan dinasti, seorang putra Raja Wretikandayun menikah Parwati ( putri Ratu Sima ) dari Kalingga dan Sana alias Bratasenawa alias Sena ( cucu Raja Wretikandayun ) menikah Sanaha ( cucu dari Ratu Sima ) . Dalam posisi lemah dan ingin menghindari perang saudara , kaum muda Raja Tarusbawa menerima permintaan tua Raja Wretikandayun. Pada tahun 670 , Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan : Kerajaan Sunda dan Galuh Raya dengan sungai Citarum sebagai batas . Kemudian Galuh Raya terdiri dari banyak kerajaan bawahan yang meliputi bidang kini Barat dan kini Jawa Tengah .

Raja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota baru kerajaannya dekat hulu sungai Cipakancilan yang berabad-abad kemudian menjadi kota Pakuan Pajajaran ( atau segera disebut Pakian atau Pajajaran ). Raja Tarusbawa menjadi nenek moyang raja melau.

Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut daftar nama-nama raja yang pernah memerintah kerajaan Tarumanegara
  1. Jayasingawarman (358-382)
  2. Dharmayawarman (382-395)
  3. Purnawarman (395-434)
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)
     
 Semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan pembaca semua
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M
Semoga bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca semua. 



Kerajaan Hindu kedua tertua yang berada di Nusantara adalah Kerajaan Tarumanegara ( dikenal juga dengan Tarumanagara) yang berlokasi di Jawa Barat. Dalam berita Cina, Tarumanegara dikenal sebagai To-lo-mo. Sejarah bedirinya kerajaan Tarumanegara ini diperkirakan memiliki waktu yang sama dengan kerajaan Kutai Martadipura, yaitu pada abad ke-4 Masehi. Adapun bukti-bukti yang memperkuat pendapat ini adalah temuan dari tujuh prasasti kerajaan yang ditulis dengan menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta. Dalam catatan sejarah dan artefak / peninggalan yang ditemukan di sekitar lokasi, bisa diambil kesimpulan bahwa Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu Wisnu (Vishnu Hindu).


Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:
Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.

Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.

Kata Tarumanegara itu sendiri berasal dari kata Taruma dan Negara. Negara berarti Kerajaan atau Negara sementara Taruma berasal dari kata Tarum, dimana Tarum di sini untuk menampilkan / mewakili nama Sungai Citarum, sungai yang membelah wilayah Jawa Barat. Pada mulut Citarum yang menemukan percandian yang luas. Percandian ini adalah Cibuaya percandian Batujaya dan percandian. Kedua percandian dianggap peninggalan Kerajaan Tarumanegara peradaban

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

WILAYAH KEKUASAAN KERAJAAN TARUMA NEGARA


Keajaan Taruma Negara

LOKASI KERAJAAN TARUMA NEGARA

Berdasarkan catatan dari berbagai prasasti, Tarumanegara kerajaan berdiri di Jawa Barat pada akhir abad ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari Banten - Jakarta ke Cirebon.


LOKASI DITEMUKANNYA PRASASTI 

Lokasi Prasasti Taruma Negara

Ada dua hal yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang membuktikan keberadaan Kerajaan Tarumanegara, pertama adalah berita dari bangsa asing, kedua adalah tujuh prasasti (prasasti) yang menceritakan kerajaan Tarumanegara. Lima prasasti yang ditemukan di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten.

Ada juga Wangsakerta Naskah, informasi tentang Tarumanagara Raya cukup jelas dijelaskan dalam naskah ini. Sayangnya, naskah ini mengundang perdebatan dan banyak ahli meragukan sejarah teks-teks dapat digunakan sebagai referensi sejarah.


 SUMBER SEJARAH KERAJAAN TARUMA NEGARA


A. BERITA DARI BANGSA ASING

Banyak berita dari bangsa asing yang mengungkapkan keberadaan Tarumanegara Kingdom. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Salah satu berita datang dari Claudius Ptolemy . Dalam buku Geografinya , geografi Yunani Kuno menyebutkan bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium ( Javadvipa = Pulau Barley = Jawa ) . Kata Argyre berarti perak , merak tersebut diduga terletak di bagian barat Pulau Jawa .
  2. Berita lainnya datang dari Gunawarman , seorang imam dari Kashmir mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma beragama Hindu .
  3. Berita Fa Hien ( Fa Xian ) , di 414 CE dalam bukunya fo- kuo - chi ( 414 M) mengatakan bahwa di Ye - po -ti ( " Jawadwipa " ) , ada ditemukan beberapa orang yang beragama Buddha , yang banyak orang beragama Hindu dan "agama kotor " ( yaitu animisme ) . Ye Po Ti sering dipertimbangkan untuk penunjukan Jawadwipa , tetapi ada pendapat lain yang mengusulkan bahwa Ye - Po - Ti adalah Way Seputih di Lampung , di aliran Way Seputih (sungai putih) menemukan bukti peninggalan kerajaan kuno di bentuk teras piramida dan lain-lain yang sekarang terletak di taman arkeologi Pugung Raharjo , meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs itu ditemukan batuan yang menunjukkan daerah yang dulunya daerah pesisir persis narasi oleh Fa Xian .Berita dari Dinasti Sui , menceritakan bahwa pada 528 dan 535 delegasi datang dari To -lo -mo ( " Taruma " ) yang terletak di selatan.
  4. Berita Dinasti Tang , juga menegaskan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To -lo -mo.
Berikut gambar peta dunia oleh Claudius Ptolemy

Peta Dunia Abad 15
Peta Dunia abad 15 Masehi dari Claudius Ptolemy
B. BERITA DARI DALAM NEGERI

Yaitu berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan secara terpisah di Bogor, Jakarta, dan Banten. Ketujuh prasasti tersebut antara lain.


1. Prasasti Ciaruteun. 

 
Prasasti Ciaruteun ditemukan di daerah Ciaruteun , Bogor , Jawa Barat , Indonesia . Tempat penemuan Prasasti ini adalah sebuah bukit yang diapit oleh tiga sungai : Ci Sadane , Ci Anten dan Aruteun . Sampai abad ke-19 , tempat ini masih disebut sebagai Pasir Muara , yang termasuk sebagai dasar swasta di Ciampea , (sekarang itu adalah bagian dari Cibungbulang ) . Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa 2 , sarga 3 , halaman 161 disebutkan bahwa Tarumanagara dimiliki Rajamandala (wilayah bawahan ) yang dinamai " Pasir Muhara " .

Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ( sekarang Museum Nasional ) pada tahun 1863 . Karena banjir besar pada tahun 1893 prasasti ini pindah beberapa meter hilir dan bagian batu yang memiliki teks jungkir balik . Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini pindah ke itu tempat asalnya . Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Departemen mengangkat dan memindahkan batu prasasti untuk menghindari banjir untuk memindahkan batu lagi.

Dalam Prasasti / Prasasti Ciaruteun , ada pahatan tapak kaki yang bersaksi bahwa pasangan tapak kaki yang diukir milik Raja Tarumanegara yang terlihat seperti tapak kaki Wisnu.



Tulisan pada prasasti:
vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam


Terjemahan:
" Ini adalah (tanda) dari sepasang kaki yang mirip kaki wisnu (sang pemelihara) ini adalah telapak kai dari yang mulia Purnawarman, raja Taruma, raja yang gagah dan berani di dunia"


2. Prasasti Kebon Kopi. 


Prasasti Kebon kopi
Prasasti Kebon Kopi
 Ditemukan di Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 ini, ditemukan cap telapak kaki gajah yang melambangkan Gajah Airawata, hewan tunggangan Dewa Wisnu.

Menurut mitologi Hindu , Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra sang dewa perang dan pengawa Guntur . Menurut Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1 , Gajah perang Purnawarman dinamakan dengan Airawata, sama seperti gajah tunggangan Batara Indra . Dikabarkan juga bahwa bendera kerajaan Tarumanagara menggambarkan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah . Demikian pula Purnawarman pada ukiran mahkota Purnawarman yagn menggambarkan sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah yang jelas dijelaskan pada Prasasti Ciaruteun yang telah menimbulkan perdebatan di kalangan ahli mengenai makna sejarah serta nilai yang dimiliki. Dimahkotai dengan ukiran tratai diatas kepala gajah diyakini oleh para ahli sebagai " huruf ikal/keriting " yang hingga kini masih belum ada yang sanggup membacanya.

Demikian pula , sepasang tanda ukiran di bagian depan kaki yang membuat banyak orang menduga-duga apa artinya. Beberapa kalangan menganggap itu sebagai simbol laba-laba , atau kombinasi dari matahari kembar solar-moon ( matahari dan bulan ) . Informasi dari Naskah Wangsekerta , bendera Taruma dan ukiran sepasang " Bhramara " ( lebah ) adalah simbol yang terdapat pada mahkota dari Purnawarman.

 Tulisan: 
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam


terjemahannya:
Di sini dibuat sepasang jejak kaki ... yang mirip Airawata, gajah yang dimiliki oleh para penguasa besar Taruma ... dan (?) di Kemuliaan "


3. Prasasti Jambu. 

 
Disebut juga dengan Prasasti Pasir Koleangkak. Prasasti ini ditemukan di area perkebunan jambu di Bogor. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengisahkan tentang kebijaksanaan Raja Purnawarman dalam memerintah Kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Jambu terletak di atas Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Leuwiliang Kabupaten, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Di bukit ini mengalir sungai Cikasungka.





Prasasti Jambu ditemukan pertama kali pada tahun 1854 oleh Jonathan Rigg dan dilaporkan ke Dinas Purbakala pada tahun 1947, namun prasasti ini pertama kali dipelajari pada tahun 1954. Prasasti ini diukir dengan gambar sepasang kaki dengan dua baris puisi.

Tulisan di Prasasti:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahan:
Yang terkenal dan setia terhadap tugasnya adalah seorang raja tiada tandingan bernama Sri Purnawarman yang memerintah TAruma dengan perisai dan bahi besi yang tidak bisa ditembus oleh panah musuh-musuhnya, ini adalah jejak - jejak kakinya yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu disajikan jamuan kehormatan (bagi mereka yang setia kepadanya), tetapi menjadi duri di mata musuhnya.


4. Prasasti Muara Cianten. 


Prasasti ini ditemukan dalam keadaan rusak, jadi isi dari prasasti ini belum dapat dibaca. 

Satu-satunya yang masih tercetak jelas adalah adanya lukisan sepasang telapak kaki.

Prasasti
Muara Cianten terletak di tepi Cisadane (sungai) di dekat Muara Cianten sebelumnya dikenal sebagai Prasasti Pasir Muara (Pasiran Muara) karena itu adalah bagian dari wilayah desa Pasirmuara.  


Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. 

Prasasti Muara Cianten diukir di atas batu besar dan alami dengan ukuran 2,70 x 01:40 x 140 m3

Ini warisan sejarah yang disebut prasasti karena ada goresan tetapi pahatan gambar sulur (heliks) atau ikal yang keluar  



Tulisan di Prasasti:
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahan oleh Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.


5. Prasasti Cidanghiyang.

 
Disebut juga dengan Prasasti Munjul. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, Kecamatan Munjul, Banten. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengkisahkan tentang keberanian Raja Purnawarman.


Prasasti Munjul


Tulisan di Prasasti:
Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah

 Terjemahan:
"Ini adalah (tanda) kepahlawanan, kebesaran, dan keberanian sejati raja dunia, Yang Mulia Raja Purnawarman adalah raja dari semua raja."

6. Prasasti Tugu.

 
Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini menceritakan, antara lain, tentang penggalian kanal air sepanjang 6112 tombak (11 km), bernama Gomati. Pekerjaan ini dilakukan pada tahun aturan Purnawarman tgl 22 dan diselesaikan dalam waktu 21 hari. Prasasti itu juga menyebutkan penggalian Candrabhaga River atau Sungai Bekasi sekarang. Penggalian sungai tersebut dilakukan untuk menghindari bencana alam banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan di musim kemarau.


Prasasti Tugu
 

Tulisan di Prasasti:
pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan:
"Setelah sungai bernama Candrabhaga digali oleh paduka yang mulia yang memiliki lengan yang kuat bernama Purnawarmman, untuk mengalirkan air ke laut, setelah sungai (alur sungai) mencapai istana kerajaan yang terkenal. Pada tahun 22th nya memegang tahta, Paduka Baginda Raja Purnnawarmman kecerdasannya yang memukau dan kebijaksanaan sebagaimana raja dari semua raja, (sekarang), ia juga pembuat keputusan untuk menggali sungai (saluran sungai) yang memiliki air jernih yang indah, Gomati adalah namanya, setelah Sungai tersebut (sungai saluran) mengalir di dalam rumah yang Mulia pendeta kami Nenekda (Raja Purnnawarmman). pekerjaan dimulai pada tanggal baik, tanggal 8 di kegelapan setengah bulan Caitra, hanya membutuhkan waktu 21 hari, sedangkan dgalian  saluran sepanjang 6122 busur. Ucapan Selamat diberikan kepadanya oleh Brahmana yang membawa 1.000 ekor sapi sebagai hadiah "

8. Prasasti Pasir Awi / Ciampea

Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan sebuah bukit di Pasir Awi, hutan Cipamingkis, desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti Pasir Awi telah dikenal sejak tahun 1867 dan dilaporkan sebagai Prasasti Ciampea peninggalan ini diukir di batu alam. Prasasti Pasir Awi menampilkan gambar cabang dengan ranting dan daun dan buah-buahan (bukan karakter) serta sepasang kaki. Huruf ikal yang terdapat pada prasasti tersebut menyulitkan para ahli untuk membacanya lebih lanjut.


Prasasti Pasir Awi

 
PEMERINTAHAN KERAJAAN TARUMANEGARA

Pada abad ke-4 telah berdiri Kerajaan Tarumanegara.  Kerajaan Tarumanegara yang diperintah oleh Raja Purnawarman. Raja Purnawarman adalah raja yang berkualitas dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, orang-orang makmur dalam suasana aman dan damai.

Pengaruh Hindu dan berita dari Cina membuktikan bahwa Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan negara-negara asing. Hubungan dengan Negara asing membuat masyarakat Tarumanegara menjadi lebih baik, baik dalam ilmu dan perdagangan.

Berita dari Dalam Negeri. Yaitu berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan secara terpisah di Bogor, Jakarta, dan Banten. Ketujuh prasasti tersebut antara lain.

  • Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, Bogor. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Pada prasasti ini terdapat cap sepasang telapak kaki milik Raja Purnawarman yang melambangkan kekuasaan raja yang dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

  • Prasasti Kebon Kopi. Ditemukan di Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 ini, ditemukan cap telapak kaki gajah yang melambangkan Gajah Airawata, hewan tunggangan Dewa Wisnu.

  • Prasasti Jambu. Disebut juga dengan Prasasti Pasir Koleangkak. Prasasti ini ditemukan di area perkebunan jambu di Bogor. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengisahkan tentang kebijaksanaan Raja Purnawarman dalam memerintah Kerajaan Tarumanegara.

  • Prasasti Muara Cianten. Sesuai dengan namanya, prasasti ini ditemukan di daerah Muara Cianten, Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan dalam keadaan rusak, jadi isi dari prasasti ini belum dapat dibaca. Satu-satunya yang masih tercetak jelas adalah adanya lukisan sepasang telapak kaki.

  • Prasasti Pasir Awi. Sama seperti Prasasti Muara Cianten, prasasti ini juga masih misterius isinya karena beberapa tulisan sudah rusak.

  • Prasasti Cidanghiyang. Disebut juga dengan Prasasti Munjul. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, Kecamatan Munjul, Banten. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengkisahkan tentang keberanian Raja Purnawarman.

  • Prasasti Tugu. Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini mengisahkan tentang penggalian Sungai Candrabaga dan Gomati sepanjang 6112 tombak (12 KM) pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Penggalian sungai ini dimaksudkan untuk mencegah datangnya bencana banjir dan sebagai sarana irigrasi sawah untuk mengatasi kekeringan.
- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf

AGAMA DAN KEPERCAYAAN DI TARUMANEGARA

Dari relief yang tertulis pada prasasti tugu :
 "Setelah sungai bernama Candrabhaga digali oleh paduka yang mulia yang memiliki lengan yang kuat bernama Purnawarmman, untuk mengalirkan air ke laut, setelah sungai (alur sungai) mencapai istana kerajaan yang terkenal. Pada tahun 22th nya memegang tahta, Paduka Baginda Raja Purnnawarmman kecerdasannya yang memukau dan kebijaksanaan sebagaimana raja dari semua raja, (sekarang), ia juga pembuat keputusan untuk menggali sungai (saluran sungai) yang memiliki air jernih yang indah, Gomati adalah namanya, setelah Sungai tersebut (sungai saluran) mengalir di dalam rumah yang Mulia pendeta kami Nenekda (Raja Purnnawarmman). pekerjaan dimulai pada tanggal baik, tanggal 8 di kegelapan setengah bulan Caitra, hanya membutuhkan waktu 21 hari, sedangkan dgalian  saluran sepanjang 6122 busur. Ucapan Selamat diberikan kepadanya oleh Brahmana yang membawa 1.000 ekor sapi sebagai hadiah "
  
Kita dapat menyimpulkan beberapa hal, tetapi dalam kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa Tarumanegara Kerajaan Keagamaan / Percaya Sistem Hindu. Kesimpulan ini berasal dari fakta bahwa hewan yang digunakan untuk kurban adalah sapi.

KULTUR SOSIAL DALAM KEHIDUPAN DI TARUMANEGARA

Hasil warisan budaya dari kerajaan Tarumanegara berada dalam bentuk patung dan prasasti. Warisan budaya dalam bentuk tujuh prasasti. Selain tujuh prasasti, juga menemukan dua patung, patung Rajarsi dan Wisnu dari Cibuaya memiliki gaya seni Pallava, India Selatan dari abad 7 Masehi 8th Patung tersebut memiliki kesamaan dengan patung Malaya (Malaysia), Siam (Thailand), dan Kampuchea (Kambodja).

Perkiraan kehidupan sosial Tarumanegara berdasarkan kegiatan pertanian. Aspek gotong royong merupakan bagian dari gaya hidup mereka. Air Gomati mengalir adalah salah satu contoh kehidupan gotong royong yang mereka lakukan. Penyediaan 1.000 kepala sapi ke brahmana dari Purnawarman Raja juga menunjukkan bahwa peternakan adalah salah satu mata pencaharian Tarumanegara.

 
Patung vishnu dari Cibuaya Karawang, Jawa Barat

KEHIDUPAN EKONOMI KERAJAAN TARUMANEGARA

Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, orang hidup dengan aman dan tertib. Mata pencaharian penduduk adalah pertanian. Selain itu, untuk kepentingan rakyat, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian kanal bernama Gomati dengan panjang roximately 11 km. Manfaat kanal ini adalah untuk mengairi sawah dan mencegah bahaya banjir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kehidupan masyarakat Tarumanegara sudah cukup tinggi, terutama pada saat Peraturan Purnawarman.

 KERAJAAN TARUMA NEGARA BERDASARKAN WANGSAKERTA

Sejarah Tarumanagara dari Wangsakerta dalam manuskrip cukup jelas. Sayangnya, naskah ini mengundang perdebatan dan banyak ahli meragukan sejarah teks-teks dapat digunakan sebagai referensi sejarah.

Di naskah Wangsakerta dari Cirebon, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dimakamkan di tepi sungai Gomati, sementara anaknya dimakamkan di tepi sungai Candrabaga.

Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara ketiga (395-434 AD). Dia membangun sebuah ibukota baru kekaisaran pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Sundapura adalah nama kota - pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.

Prasasti Pasir Muara menyebutkan peristiwa yang mengembalikan pemerintahan kepada Raja Sunda dibuat pada 536 AD. Pada tahun itu, penguasa Tarumanagara adalah Raja Suryawarman (535-561 AD) The 7th Raja Tarumanagara. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan kesaksian bahwa pada masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak pemerintah daerah yang menerima kembali kekuasaan atas pemerintah daerah sebagai imbalan atas kesetiaannya kepada Tarumanagara. Dilihat dari perspektif ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai kelanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang ditulis dalam Prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya wakil raja yang menjadi kepala pemerintahan di daerah. Yang tidak jelas mengapa prasasti pada kembalinya pemerintah kepada Raja Sunda yang ada? Apakah daerah merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya tempat penting yang termasuk Kerajaan daerah Sunda?

Kedua sumber-sumber prasasti dan sumber-sumber dariManuskrip Wangsakerta bersaksi bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah Tarumanegara meluas ke pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159-162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan raja Purnawarman terdapat 48 daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura hingga Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah, Indonesia. Secara tradisional Cipamali dianggap sebagai yurisdiksi raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa lalu.

Prasasti Purnawarman di Pasir Muara yang memberitakan Raja Sunda di AD 536 tahun, sebuah kondisi yang merubah kawasan Sundapura menjadi sebuah kerajaan daerah. Ini berarti, pemerintah pusat telah bergeser ke tempat lain Tarumanagara. Contoh yang sama dapat dilihat dari Rajatapura atau Salakanagara Posisition (Silver City), disebut Argyre oleh Ptolemy pada tahun 150 Masehi. Kota ini menjadi pusat pemerintahan Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII) sampai 362 Masehi.

Ketika beralih dari pemerintah pusat Rajatapura ke Tarumangara, maka status Salakanagara berubah menjadi kerajaan regional. Jayasingawarman, pendiri Tarumanagara adalah anak mertua Raja Dewawarman VIII. Dia sendiri adalah seorang Maharesi dari Salankayana di India yang melarikan diri ke Indonesia (Nusantara) karena daerahnya diserang dan ditaklukkan oleh Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada .

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan ayahnya memberi kepercayaan lebih kepada raja pemerintah daerah untuk mengurus diri sendiri, tetapi juga mengalihkan perhatian ke wilayah timur. Pada tahun 526 Masehi, misalnya, Manikmaya, Suryawarman mertua, membangun kerajaan baru di Kendan, Nagreg daerah antara Limbangan dan Bandung, Garut, Jawa Barat, Indonesia. Anak  Manikmaya tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Tarumanagara. Pengembangan wilayah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit dari Manikmaya mendirikan Kerajaan baru pada tahun 612 Masehi, Kerajaan tersebut nantinya bernama kerajaan Sunda Galuh.

Kerajaan Tarumanagara sendiri hanya memiliki 12 raja selama pemerintahan. Pada tahun 669, Linggawarman, raja terakhir Tarumanagara, digantikan oleh saudara iparnya, Tarusbawa. Linggawarman dirinya adalah ayah dari dua anak perempuan, yang tertua yang bernama Manasih seorang istri dari Tarusbawa dari Sunda dan Sobakancana bernama kedua yang menjadi istri Dapuntahyang Jayanasa pendiri Sri dari Kerajaan Sriwijaya. Secara umum, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh ke mertua putri sulungnya, yang Tarusbawa.

Tarumanagara berakhir dengan pergeseran kekuasaan ke tahta ke Tarusbawa, karena Tarusbawa ingin kembali ke kerajaannya sendiri, yang sebelumnya terletak di Sunda yang sebelumnya adalah merupakan bagian dari Tarumanagara. Setelah pengalihan kekuasaan ke Sunda, hanya (Sunda) Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari daerah sunda warisan Tarumanagara.

 Menurut buku Nusantara , Maharshi Rajadirajaguru Jayasingawarman menemukan kerajaan Tarumanagara pada 358 M . Jayasingawarman berasal dari Salankayana di India yang runtuh setelah invasi Samudragupta dari Kekaisaran Gupta . Setelah kembali menetap di Jawa Barat , ia menikah dengan seorang putri Sunda yang merupakan puteri dari Raja Dewawarman VIII Salakanagara . Dia meninggal pada 382 Masehi dan dimakamkan di tepi Kali Gomati sungai (sekarang Kota Bekasi ) . Putranya, Dharmayawarman memerintah 382-395 AD . Situs pemakaman adalah di Kali Chandrabaga . Cucunya Purnawarman adalah raja ketiga Tarumanagara dan memerintah 395-434 AD .



SEJARAH SINGKAT KERAJAAN TARUMANEGARA

Buku Nusantara , parwa II sarga 3 (halaman 159-162 ) mencatat bahwa di bawah pemerintahan Raja Purnawarman , Tarumanagara tetap menguasai 48 kerajaan kecil dengan daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura ke Purwalingga ( kota saat Purbalingga di Propinsi Jawa Tengah ) . Secara tradisional Cipamali sungai ( Sungai Brebes ) adalah perbatasan antara Sunda dan Jawa .

Pada 397 Masehi , Raja Purnawarman mendirikan ibu kota baru untuk kerajaan , terletak dekat pantai , yang disebut Sunda Pura berarti Suci atau Kota Suci. Dengan demikian , kata " Sunda " diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Raja Purnawarman pada tahun 397 . Sunda Pura bisa jadi berlokasi di sekitar Tugu ( Jakarta Utara ) , atau dekat dengan Bekasi . Dia meninggalkan tujuh batu prasasti dengan tulisan namanya yang tersebar di Banten dan di Jawa Barat . Prasasti tugu , yang beberapa tahun lebih tua dari Parasasti Ciaruteun merupakan prasasti tertua dari semua prasasti .

Ada banyak batu prasasti dengan tulisan dari zaman raja Purnawarman , beberapa dekat dengan kota Bogor . Prasasti-prasasti tersebut adalah Prasasti Muara Cianten , Prasasti Pasir Awi , Prasasti Cidanghiang , dan Parasasti Jambu . Prasasti Cidanghiang ( duduk jauh ke barat di Lebak di wilayah Pandeglang ) , yang terdiri dari dua baris , menyatakan Purnawarman sebagai standar untuk penguasa di seluruh dunia . Prasasti Jambu , dengan tulisan dua baris di Pallava / Sansekerta , menggambarkan jejak kaki besar raja.

Anak Purnawarman itu, Dharmayawarman memerintah 382-395 AD. Situs pemakaman adalah di Kali Chandrabaga. Raja-raja berikutnya Tarumanagara adalah:

  • Dari 434-455: Raja Wisnuwarman
  • Dari 455-515: Raja Indrawarman
  • Dari 515-535: Raja Candrawarman
  • Dari 535-561: Raja Suryawarman
Raja Suryawarman mendirikan ibu kota baru untuk kerajaan ke arah timur dan meninggalkan Sunda Pura dan masyarakat untuk mempertahankan ketertiban mereka sendiri. Kemudian, Sunda Pura menjadi kerajaan kecil baru yang disebut Sunda Sambawa yang berada di bawah kendali Tarumanagara. Sebelum raja memerintah Tarumanagara, Manikmaya, menantunya, di tahun 526, meninggalkan Sunda Pura tenggara dan mendirikan kerajaan baru di dekat Nagreg saat ini, kota Garut.

Setelah Suryawarman , Tarumanagara diperintah oleh raja-raja :

Dari 561-628 : Raja Kertawarman
Pada periode ini , cucu dari Manikmaya , Wretikandayun , di 612 mendirikan Galuh Raya , sebelah tenggara dari Garut saat ini dengan ibukotanya yang terletak di Banjar Pataruman.

Dari 628-650 Linggawarman
Putri kedua Raja Linggawarman , Putri Sobakancana menikah Dapunta Hyang Sri Jayanasa , yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya . Putri mereka, Manasih kemudian menikah Tarusbawa.

Tarumanagara kerajaan diserang dan dikalahkan oleh Sriwijaya sekitar tahun 650 . Setelah itu, pengaruh Tarumanegara atas kerajaan tetangganya mulai menurun. Keadaan ini kemudian dijadikan sebagai alasan oleh raja Wretikandayun ( pendiri monarki Galuh ) untuk memisahkan kerajaan kecil dari kuasa Tarumanagara dan meminta Raja Tarusbawa membagi wilayah Tarumanagara menjadi dua bagian.

Galuh mendapat dukungan dari kerajaan  Kalingga ( kerajaan pertama di Jawa Tengah ) untuk memisahkan diri dari Tarumanagara karena Galuh dan Kalingga telah membuat aliansi melalui pernikahan dinasti, seorang putra Raja Wretikandayun menikah Parwati ( putri Ratu Sima ) dari Kalingga dan Sana alias Bratasenawa alias Sena ( cucu Raja Wretikandayun ) menikah Sanaha ( cucu dari Ratu Sima ) . Dalam posisi lemah dan ingin menghindari perang saudara , kaum muda Raja Tarusbawa menerima permintaan tua Raja Wretikandayun. Pada tahun 670 , Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan : Kerajaan Sunda dan Galuh Raya dengan sungai Citarum sebagai batas . Kemudian Galuh Raya terdiri dari banyak kerajaan bawahan yang meliputi bidang kini Barat dan kini Jawa Tengah .

Raja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota baru kerajaannya dekat hulu sungai Cipakancilan yang berabad-abad kemudian menjadi kota Pakuan Pajajaran ( atau segera disebut Pakian atau Pajajaran ). Raja Tarusbawa menjadi nenek moyang raja melau.

Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

- See more at: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/10/sejarah-kerajaan-tarumanegara.html#sthash.wtimD7An.dpuf
Berikut daftar nama-nama raja yang pernah memerintah kerajaan Tarumanegara
  1. Jayasingawarman (358-382)
  2. Dharmayawarman (382-395)
  3. Purnawarman (395-434)
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)
     
 Semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan pembaca semua
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan Naskah Wangsakerta.

NO
Nama Raja
Tahun Memerintah
1.
Jayasingawarman
358-382 M
2.
Dharmayawarman
382-395 M
3.
Purnawarman
395-434 M
4.
Wisnuwarman
434-455 M
5.
Indrawarman
455-515 M
6.
Candrawarman
515-535 M
7.
Suryawarman
535-561 M
8.
Kertawarman
561-628 M
9.
Sudhawarman
628-639 M
10.
Hariwangsawarman
639-640 M
11.
Nagajayawarman
640-666 M
12.
Linggawarman
666-669 M
Semoga bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca semua. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat"

Posting Komentar