Inilah kisah caleg yang gagal pada pileg 2014

Pemilihan umum legislatif 2014 sudah berakhir, dan menyisakan kisah tragis bagi beberapa orang calon legislatif (caleg) yang gagal menjadi angota dewan lantaran tidak mendapat suara yang diharapkan. Padahal untuk menjadi seorang caleg partai, mereka sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Tidak sedikit diantara mereka yang memilih berhutang besar karena sudah merasa yakin akan terpilih dan bisa membayar hutang mereka dengan gaji mereka sebagai anggota dewan.

Selain itu banyak juga para caleg yang memberikan bantuan, uang, atau sumbangan dengan tujuan agar mereka mau memilih sang caleg itu pada hari pencoblosan, dan setelah perolehan suara mereka jeblok. Akibat terlalu stress, barang-barang yang telah dikeluarkan sang caleg seperti bantuan, sumbangan bahkan uang pun diminta kembali. 



Berikut beberapa kisah caleg-caleg yang stres lantaran gagal duduk di kursi DPR, DPRD Provinsi atau DPRD Kota dan Kabupaten.

Anak gagal jadi anggota dewan, sang ayah blokir jalan dan aniaya warga

Ayah calon anggota legislatif (caleg) di Kabupaten Serang, Banten, mengamuk karena perolehan suara anak tidak memenuhi harapan. Emosi RH tak terkendali sehingga memukuli warga dan memblokir jalan akses kampung.

RH mengamuk dan memblokir Jalan Sumerang, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Penutupan jalan menuju akses Jalan Raya Anyer dilakukan menggunakan batu dan menyebabkan dua kampung terisolir yakni kampung Sumerang dan Kampung Pematang Warung.

"Ini masih diblokir, warga juga pada kumpul. Penyebabnya gara-gara anaknya yang nyaleg dari Partai Demokrat tidak mendapat suara yang diinginkan, dan merasa enggak didukung sama masyarakat di sini," ujar Edi Marwoto salah seorang warga, Jumat (11/4).

Tidak hanya itu, RH juga menganiaya dua orang warga yakni Nia Kuswati dan Nia Amut. Keduanya mengalami luka. Korban langsung melakukan visum dan melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke pihak kepolisian.


Tak dipilih warga, caleg tutup jalan masuk perumahan dengan balok kayu
Caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN), Anselmus Petrus Youw, nekat menutup jalan masuk Perumahan Satpol PP dengan balok kayu, Jumat (11/4). Penutupan dilakukan Anselmus, karena warga setempat tidak memilih dirinya saat Pemilu Rabu (9/4) lalu.

“Benar, Anselmus memblokir perumahan karena warga setempat tidak memilih dia,” tutur anggota Panitia Pengawas Pemilu Distrik Nabire, Micky, seperti dikutip dari Antara.

Anselmus yang mantan bupati Nabire itu merasa kecewa karena sudah memberikan tanahnya untuk pembangunan perumahan, namun warga setempat tidak “mencoblosnya”.

Bersama puluhan pendukungnya, dia menutup gapura masuk perumahan di Kampung Wadio, Kelurahan Bumi Wonorejo, Nabire, Papua.

Kalah suara, massa caleg PAN aniaya petugas TPS

Di lain peristiwa, Pieter Madae, seorang caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) nyaris tidak mendapat suara di TPS 2 Topo, Nabire, Papua. Caleg yang kecewa tersebut pun mengerahkan massa untuk menyerang Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS). “Pieter mengerahkan massa sekitar 40 orang dan meminta tambahan suara ke KPPS,” kata Kabid Humas Papua Kombes Pol Pudjo Sulistyo dalam keterangan pers kepada wartawan, Kamis (10/4).

Seorang petugas PPS yang mencoba menenangkan massa malah dianiaya beramai-ramai. Massa juga merusak fasilitas di sekitaran TPS. “Massa memukul Syaiful Bahri dengan menggunakan linggis hingga korban luka parah. Selain memukuli korban, massa juga merusak balai desa dengan cara memecahi kaca-kaca dan merobohkan pos ojek,” jelas Pudjo.

Polisi sudah memproses aksi main hakim sendiri ini dan mengimbau agar warga tidak terprovokasi. Sementara korban penganiayaan mendapat perawatan di rumah sakit.

Caleg meminta kembali sumbangan material pembangunan mushola

Kasus Caleg yang meminta uang sumbangan juga terjadi lagi. Kini kejadiannya di Tulungagung. Ceritanya, caleg dari Partai Hanura — Haji Miftahul Huda, meminta kembali sumbangan atas pembangunan mushola di RT 2 RT 2 Desa Majan, Kecamatan Kedung Waru, Tulungagung, Jawa Timur.

Penyebabnya tidak lain karena Miftahul kecewa perolehan suaranya pada pemilu legislatif 9 April lalu di luar harapannya. Sumbangan Miftahul berupa 2000 batu bata, 10 sak semen dan satu truk pasir dia minta kembali. “Pak Miftahul Huda menarik kembali sumbangan ini, karena di tempat ini ia hanya memperoleh 29 suara,” ujar Suyani, Ketua RT setempat.

Caleg jagoannya kalah, Kades segel TK dan Paud

Sementara itu seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, nekat menyegel sekolah Taman Kanak Kanak (TK) dan bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Pak Kades juga mengancam mengusir seluruh guru dan kepala sekolahnya. Aksi tersebut dilakukan setelah dua orang caleg titipan sang kades kalah di TPS dusun tersebut.

Menurut Darma, Kepala Sekolah TK, dua caleg titipan kades tersebut dari Partai PKP dan PDIP. Akibat penyegelan ini sebanyak 27 siswa TK terpaksa belajar di rumahnya masing-masing.

Bongkar atap pasar
Ini ada cerita Caleg stres lainnya. Masnelly (44), salah seorang caleg dari Partai Nasdem, bersama pendukungnya nekat membongkar paksa atap seng bangunan Jambur Pasar VII, Dusun Kutambaru, Langkat, Sumatera Utara, Rabu (4/4).

Bangunan yang atapnya dibongkar tersebut sebelumnya difungsikan sebagai TPS saat Pemilu. Akibat ulah mereka, proses penghitungan suara di TPS tersebut dipindahkan ke rumah Masten Ginting, Ketua KPPS setempat.

Aksi caleg diduga dipicu kekecewaan, karena gagal meraih dukungan suara maksimal dari para pemilih di TPS tempat caleg bersangkutan tinggal. Menurut warga, Masnelly merupakan salah satu penyumbang material untuk pembangunan Jambur.
Pemilihan umum legislatif 2014 sudah berakhir, dan menyisakan kisah tragis bagi beberapa orang calon legislatif (caleg) yang gagal menjadi angota dewan lantaran tidak mendapat suara yang diharapkan. Padahal untuk menjadi seorang caleg partai, mereka sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Tidak sedikit diantara mereka yang memilih berhutang besar karena sudah merasa yakin akan terpilih dan bisa membayar hutang mereka dengan gaji mereka sebagai anggota dewan.

Selain itu banyak juga para caleg yang memberikan bantuan, uang, atau sumbangan dengan tujuan agar mereka mau memilih sang caleg itu pada hari pencoblosan, dan setelah perolehan suara mereka jeblok. Akibat terlalu stress, barang-barang yang telah dikeluarkan sang caleg seperti bantuan, sumbangan bahkan uang pun diminta kembali. 



Berikut beberapa kisah caleg-caleg yang stres lantaran gagal duduk di kursi DPR, DPRD Provinsi atau DPRD Kota dan Kabupaten.

Anak gagal jadi anggota dewan, sang ayah blokir jalan dan aniaya warga

Ayah calon anggota legislatif (caleg) di Kabupaten Serang, Banten, mengamuk karena perolehan suara anak tidak memenuhi harapan. Emosi RH tak terkendali sehingga memukuli warga dan memblokir jalan akses kampung.

RH mengamuk dan memblokir Jalan Sumerang, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Penutupan jalan menuju akses Jalan Raya Anyer dilakukan menggunakan batu dan menyebabkan dua kampung terisolir yakni kampung Sumerang dan Kampung Pematang Warung.

"Ini masih diblokir, warga juga pada kumpul. Penyebabnya gara-gara anaknya yang nyaleg dari Partai Demokrat tidak mendapat suara yang diinginkan, dan merasa enggak didukung sama masyarakat di sini," ujar Edi Marwoto salah seorang warga, Jumat (11/4).

Tidak hanya itu, RH juga menganiaya dua orang warga yakni Nia Kuswati dan Nia Amut. Keduanya mengalami luka. Korban langsung melakukan visum dan melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke pihak kepolisian.


Tak dipilih warga, caleg tutup jalan masuk perumahan dengan balok kayu
Caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN), Anselmus Petrus Youw, nekat menutup jalan masuk Perumahan Satpol PP dengan balok kayu, Jumat (11/4). Penutupan dilakukan Anselmus, karena warga setempat tidak memilih dirinya saat Pemilu Rabu (9/4) lalu.

“Benar, Anselmus memblokir perumahan karena warga setempat tidak memilih dia,” tutur anggota Panitia Pengawas Pemilu Distrik Nabire, Micky, seperti dikutip dari Antara.

Anselmus yang mantan bupati Nabire itu merasa kecewa karena sudah memberikan tanahnya untuk pembangunan perumahan, namun warga setempat tidak “mencoblosnya”.

Bersama puluhan pendukungnya, dia menutup gapura masuk perumahan di Kampung Wadio, Kelurahan Bumi Wonorejo, Nabire, Papua.

Kalah suara, massa caleg PAN aniaya petugas TPS

Di lain peristiwa, Pieter Madae, seorang caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) nyaris tidak mendapat suara di TPS 2 Topo, Nabire, Papua. Caleg yang kecewa tersebut pun mengerahkan massa untuk menyerang Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS). “Pieter mengerahkan massa sekitar 40 orang dan meminta tambahan suara ke KPPS,” kata Kabid Humas Papua Kombes Pol Pudjo Sulistyo dalam keterangan pers kepada wartawan, Kamis (10/4).

Seorang petugas PPS yang mencoba menenangkan massa malah dianiaya beramai-ramai. Massa juga merusak fasilitas di sekitaran TPS. “Massa memukul Syaiful Bahri dengan menggunakan linggis hingga korban luka parah. Selain memukuli korban, massa juga merusak balai desa dengan cara memecahi kaca-kaca dan merobohkan pos ojek,” jelas Pudjo.

Polisi sudah memproses aksi main hakim sendiri ini dan mengimbau agar warga tidak terprovokasi. Sementara korban penganiayaan mendapat perawatan di rumah sakit.

Caleg meminta kembali sumbangan material pembangunan mushola

Kasus Caleg yang meminta uang sumbangan juga terjadi lagi. Kini kejadiannya di Tulungagung. Ceritanya, caleg dari Partai Hanura — Haji Miftahul Huda, meminta kembali sumbangan atas pembangunan mushola di RT 2 RT 2 Desa Majan, Kecamatan Kedung Waru, Tulungagung, Jawa Timur.

Penyebabnya tidak lain karena Miftahul kecewa perolehan suaranya pada pemilu legislatif 9 April lalu di luar harapannya. Sumbangan Miftahul berupa 2000 batu bata, 10 sak semen dan satu truk pasir dia minta kembali. “Pak Miftahul Huda menarik kembali sumbangan ini, karena di tempat ini ia hanya memperoleh 29 suara,” ujar Suyani, Ketua RT setempat.

Caleg jagoannya kalah, Kades segel TK dan Paud

Sementara itu seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, nekat menyegel sekolah Taman Kanak Kanak (TK) dan bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Pak Kades juga mengancam mengusir seluruh guru dan kepala sekolahnya. Aksi tersebut dilakukan setelah dua orang caleg titipan sang kades kalah di TPS dusun tersebut.

Menurut Darma, Kepala Sekolah TK, dua caleg titipan kades tersebut dari Partai PKP dan PDIP. Akibat penyegelan ini sebanyak 27 siswa TK terpaksa belajar di rumahnya masing-masing.

Bongkar atap pasar
Ini ada cerita Caleg stres lainnya. Masnelly (44), salah seorang caleg dari Partai Nasdem, bersama pendukungnya nekat membongkar paksa atap seng bangunan Jambur Pasar VII, Dusun Kutambaru, Langkat, Sumatera Utara, Rabu (4/4).

Bangunan yang atapnya dibongkar tersebut sebelumnya difungsikan sebagai TPS saat Pemilu. Akibat ulah mereka, proses penghitungan suara di TPS tersebut dipindahkan ke rumah Masten Ginting, Ketua KPPS setempat.

Aksi caleg diduga dipicu kekecewaan, karena gagal meraih dukungan suara maksimal dari para pemilih di TPS tempat caleg bersangkutan tinggal. Menurut warga, Masnelly merupakan salah satu penyumbang material untuk pembangunan Jambur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Inilah kisah caleg yang gagal pada pileg 2014"

Posting Komentar