Ironis, 93% anak-anak Bangladesh berprofesi sebagai buruh

Masa kanak-kanak adalah masa yang mestinya penuh dengan keceriaan, namun berbeda dengan yang dialami sebagian besar anak-anak Bangladesh ini. Dalam usia yang masih sangat muda, mereka harus berjuang membantu orangtuanya dengan mencari nafkah, dan meninggalkan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak yaitu bermain dan belajar.Sungguh ironis, karena 93% anak-anak Bangladesh usia dibawah 14 tahun ternyata sudah menjadi buruh kasar.





Seperti dilansir dari Daily Mail, menurut catatan dari Organisasi Burung Internasional (ILO), lebih dari satu juta anak Bangladesh terlibat dalam dunia kerja buruh yang bisa membahayakan mereka.
Anak-anak kecil mulai dari usia lima tahun bekerja di beberapa pabrik yang terdapat di negara sebagai buruh kasar bersama kedua orangtuanya. Rata-rata anak-anak ini bekerja mulai dari hal yang ringan seperti mewarnai cairan balon hingga yang berat seperti membawa barang atau mengemas produk.

Ironisnya, hal tersebut sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan meski sering terjadi kasus bangunan pabrk yang ambruk di Dhaka, Bangladesh yang sering menelan banyak korban jiwa, namun 1,3 juta buruh anak-anak tetap bekerja dalam situasi yang bisa membahayakan nyawanya.



Selama ini, pemerintah Bangladesh memang mensyaratkan batas minimal untuk anak-anak bekerja adalah di atas 14 tahun. Namun, faktanya, sepert dilaporkan UNICEF, 93% anak-anak usia dibawah 14 tahun diterima bekerja di pabrik dan industri rumahan bersama dengan orangtuanya.



Kemiskinan yang selama ini menjadi faktor utama yang memicu para orangtua mempekerjakan anak-anak mereka, bahkan mereka  tak segan-segan memasukkan anak-anak mereka dalam pekerjaan konstruksi dan pabrik daur-ulang yang notabene cukup membahayakan nyawa mereka, dan ironisnya meski melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang dewasa, namun bayaran yang diterima anak-anak tersebut jauh lebih rendah.  Rata-rata seorang anak berusia 5 hingga 17 tahun hanya dibayar dengan upah minimum 66 US Dollar atau sekitar Rp 750 ribu per bulan, padahal banyak dari anak-anak tersebut yang bekerja lebih dari 12 jam per hari.

"Jam kerja yang panjang, upah rendah, keterbatasan pasokan pangan, dan situasi kerja yang berbahaya dapat membahayakan kesehatan dan fisik anak. Pekerja cilik juga berpotensi terkena kekerasan, perilaku tidak pantas serta diskriminasi dalam menjalani pekerjaannya," seperti ditulis dalam laporan UNICEF.

Tak cukup sampai di situ, anak-anak juga dibiarkan bekerja di sektor pertanian. Bocah cilik berusia rata-rata lima tahun itu dipaksa bekerja dengan beban kerja yang berat dan menggunakan peralatan berbahaya.

Bukan itu saja, bocah-bocah cilik dengan usia rata-rata lima tahun itu dibiarkan bekerja di sektor pertanian, dan dipaksa untuk bekerja dengan beban berat dan menggunakan peralatan yang bisa membahayakan dirinya.



Disaat kita sibuk menuntut upah yang dianggap layak (termasuk uang pulsa, koran, dan parfum), buruh di belahan dunia lain akan tetap memiliki nasib yang kurang beruntung, termasuk juga buruh anak -anak di Indonesia.


Masa kanak-kanak adalah masa yang mestinya penuh dengan keceriaan, namun berbeda dengan yang dialami sebagian besar anak-anak Bangladesh ini. Dalam usia yang masih sangat muda, mereka harus berjuang membantu orangtuanya dengan mencari nafkah, dan meninggalkan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak yaitu bermain dan belajar.Sungguh ironis, karena 93% anak-anak Bangladesh usia dibawah 14 tahun ternyata sudah menjadi buruh kasar.





Seperti dilansir dari Daily Mail, menurut catatan dari Organisasi Burung Internasional (ILO), lebih dari satu juta anak Bangladesh terlibat dalam dunia kerja buruh yang bisa membahayakan mereka.
Anak-anak kecil mulai dari usia lima tahun bekerja di beberapa pabrik yang terdapat di negara sebagai buruh kasar bersama kedua orangtuanya. Rata-rata anak-anak ini bekerja mulai dari hal yang ringan seperti mewarnai cairan balon hingga yang berat seperti membawa barang atau mengemas produk.

Ironisnya, hal tersebut sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan meski sering terjadi kasus bangunan pabrk yang ambruk di Dhaka, Bangladesh yang sering menelan banyak korban jiwa, namun 1,3 juta buruh anak-anak tetap bekerja dalam situasi yang bisa membahayakan nyawanya.



Selama ini, pemerintah Bangladesh memang mensyaratkan batas minimal untuk anak-anak bekerja adalah di atas 14 tahun. Namun, faktanya, sepert dilaporkan UNICEF, 93% anak-anak usia dibawah 14 tahun diterima bekerja di pabrik dan industri rumahan bersama dengan orangtuanya.



Kemiskinan yang selama ini menjadi faktor utama yang memicu para orangtua mempekerjakan anak-anak mereka, bahkan mereka  tak segan-segan memasukkan anak-anak mereka dalam pekerjaan konstruksi dan pabrik daur-ulang yang notabene cukup membahayakan nyawa mereka, dan ironisnya meski melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang dewasa, namun bayaran yang diterima anak-anak tersebut jauh lebih rendah.  Rata-rata seorang anak berusia 5 hingga 17 tahun hanya dibayar dengan upah minimum 66 US Dollar atau sekitar Rp 750 ribu per bulan, padahal banyak dari anak-anak tersebut yang bekerja lebih dari 12 jam per hari.

"Jam kerja yang panjang, upah rendah, keterbatasan pasokan pangan, dan situasi kerja yang berbahaya dapat membahayakan kesehatan dan fisik anak. Pekerja cilik juga berpotensi terkena kekerasan, perilaku tidak pantas serta diskriminasi dalam menjalani pekerjaannya," seperti ditulis dalam laporan UNICEF.

Tak cukup sampai di situ, anak-anak juga dibiarkan bekerja di sektor pertanian. Bocah cilik berusia rata-rata lima tahun itu dipaksa bekerja dengan beban kerja yang berat dan menggunakan peralatan berbahaya.

Bukan itu saja, bocah-bocah cilik dengan usia rata-rata lima tahun itu dibiarkan bekerja di sektor pertanian, dan dipaksa untuk bekerja dengan beban berat dan menggunakan peralatan yang bisa membahayakan dirinya.



Disaat kita sibuk menuntut upah yang dianggap layak (termasuk uang pulsa, koran, dan parfum), buruh di belahan dunia lain akan tetap memiliki nasib yang kurang beruntung, termasuk juga buruh anak -anak di Indonesia.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ironis, 93% anak-anak Bangladesh berprofesi sebagai buruh "

Posting Komentar