Jenis-jenis ular yang memiliki bisa atau racun

Menyambung artikel terdahulu mengenai jenis-jenis ular di Indonesia, berikut beberapa jenis ular yang dikenal memiliki racun atau bisa (venom) yang cukup berbahaya. Di alam liar, mereka menggunakan racunnya tersebut untuk tujuan melumpuhkan mangsanya sebelum dimakan. Racun tersebut mengalir melalui gigi / taring yang disuntiikan langsung kedalam lapisan kulit mangsanya dengan cara menggigitnya. 



Sebagian besar efek racun dari ular-ular berbisa ini akan menyerang sistem saraf dan pernafasan yang menyebabkan korban yang terkena racun ini akan langsung mengalami ketidak mampuan menggerakan otot badannya (lumpuh), dalam kasus yang fatal bisa menyebabkan kematian.

Secara umum beberapa ular-ular yang dikenal memiliki racun yang berbahaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut ( tidak mutlak namun cukup umum ).
  • Ular tersebut memiliki bentuk kepala yang pipih dengan ujung yang lancip (seperti huruf V)
  • Rata-rata memiliki ukuran tubuh kecil dan pendek, terkecuali ular King Cobra yang bisa memiliki panjang hingga 5 meter.
  • Memiliki dua gigi taring tajam di bagian atasnya.
Berikut beberapa spesies ular yang memiliki racun

1. King Cobra




  • Nama latin : Ophiopagus Hannah
  • Penyebaran : Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi
  • Ukuran dewasa : 200 - 550 cm
  • Habitat : Hutan tropis, padang rumput, dataran rendah, sampai pada Ketinggian 1800 m dpl
  • Jenis bisa : Postsynaptic Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, hingga kematian.
  • Efek klinis : Terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 70% - 85%.

2. Cobra Jawa



  • Nama latin : Naja sputatrix
  • Penyebaran : Jawa
  • Ukuran dewasa : 130 - 185 cm
  • Habitat : Hutan tropis, sawah, sungai, padang rumput terbuka.
  • Jenis bisa : Postsynaptic neurotoxin
  • Efek gigitan : sakit, bengkak, memar, cell mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 60%.

3. Weling



  • Nama latin : Bungarus Candidus
  • Penyebaran : Jawa, Sumatra, Bali, Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 80 - 160 cm
  • Habitat : Dataran rendah, sawah, perbukitan sampai pd ketinggian 1600m dpl.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa sangat besar dan berpotensi mematikan. Tingkat kematian 60% - 80%.

4. Welang


  • Nama latin : Bungarus Fasciatus
  • Penyebaran : Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
  • Ukuran dewasa : 110 - 213 cm
  • Habitat : Hutan bakau, persawahan, perkebunan karet,atau di sekitar permukiaman penduduk.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan, lumpuh.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa sangat besar dan berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 60% - 80%.

5. Malayan Pit Viper

  • Nama latin : Calloselasma Rhodostoma
  • Penyebaran : Pulau jawa
  • Ukuran dewasa : 50 - 110 cm
  • Habitat : Hutan bambu, hutan karet, lahan perkebunan, dan sekitar persawahan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan :Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, Kematian.
  • Efek klinis : Terkena bisa 60% - 80% berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 45% - 70%.

6. Vipera Russelii

  • Nama latin : Daboia Russelii Siamensis
  • Penyebaran : Jawa Timur, dan NTT (P. Ende, P. Flores, P. Komodo, P. Lomblen)
  • Ukuran dewasa : 100 - 150 cm. Jantan lebih besar dari betina.
  • Habitat : Arboreal. Ladang pertanian, persawahan, daerah bebatuan, atau padang rumput pd ketinggian sampai 2000 dpl
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, kematian.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 60% - 80%.

7. White Lipped Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Albolabris
  • Penyebaran : P.Sumatra, P.Kalimantan, P. Sulawesi, P.Jawa,P. Madura, P.Lombok, P. Sumbawa, P. Komodo, Flores, Sumba, P. Roti, Timor, Kisar, Wetar.
  • Ukuran dewasa : 40 - 100 cm
  • Habitat : Arboreal. Hutan bambu, semak belukar dengan pepohonan kecil tidak jauh dari sungai atau kali kecil.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Bengkak, sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, kematian.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa tidak di ketahui namun berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

8. Wagler's Pit Viper


  • Nama latin : Tropidolaemus Wagleri
  • Penyebaran : Sumatra, Mentawi, Nias, Kepulauan Riau , Billiton, Bangka, Natuna, Kalimantan, Karimata, Buton, Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 80 - 135 cm
  • Habitat : Arboreal. Dapat di temukan di hutan hujan pd ketinggian sampai 1200 dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Bengkak/memar, terasa panas, sell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa tidak diketahui namun berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

9. Flat Nosed Pit Viper


  • Nama latin : Trimeresurus Puniceus
  • Penyebaran : Jawa, Sumatra, Simalur, Mentawai, Kepulauan Natuna.
  • Ukuran dewasa : 50 - 90 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah hutan hujan sampai ketingian 1450 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : belum diketahui. berpotensi mematian.

10. Insularis

  • Nama latin : Trimeresurus Insularis
  • Penyebaran : Adonara, Alor, Bali, Flores, Komodo, Lombok, Padar, Rinca, Romang, Roti, Sumba, Sumbawa, Timor, Wetar.
  • Ukuran dewasa : 40 - 70 cm
  • Habitat : Arboreal, Hutan hujan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Belum diketahui. Tingkat kematian karena tdk tertangani sekitar 40% - 75%.

11. Hageni Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Hageni
  • Penyebaran : Sumatra (Batu, Bangka, Mentawai, Nias, Simalur /Simeulue).
  • Ukuran dewasa : 75 - 100 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah pd hutan hujan sampai pada ketinggian 1000 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Belum diketahui. Tingkat kematian sekitar 40% - 75%.

12. Borneo Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Borneensis
  • Penyebaran : Sumatra dan Kalimantan.
  • Ukuran dewasa : 50 - 90 cm
  • Habitat : Hutan hujan sampai pada ketinggian 800 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa tidak di ketahui. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

13. Banded Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Fasciatus
  • Penyebaran : P. Tanahjampea
  • Ukuran dewasa : 35 - 54 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah di hutan hujan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa tidak di ketahui namun berpotensi mematikan.

14. Death Adder


  • Nama latin : Acanthophis Antarcticus
  • Penyebaran : Irian jaya, P. Seram
  • Ukuran dewasa : 60 - 97 cm
  • Habitat : Hutan hujan, perkebunan kopi, dan padang rumput.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan.
  • Efek klinis : Terkena bisa 40% - 60% berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 75% - 80%.

15. Blue Coral


  • Nama latin : Maticora Bivirgata
  • Penyebaran : Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 90 - 140 cm
  • Habitat : Nocturnal, Hutan tropis pada ketinggian dibawah 600 m dpl.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, pembekuan aliran darah.
  • Efek klinis : Terkena bisa 40% - 60% berpotensi sangat mematikan. Tingkat kematian karena tidak tertangani sekitar 80% - 95%
---

Beberapa ciri-ciri yang membedakan ular yang memiliki racun/bisa dengan yang tidak memiliki racun



Jenis-jenis bisa atau racun yang dimiliki oleh hampir semua jenis ular:
  1. Neurotoxin, yang menyerang jaringan saraf dan bersifat bertentangan dengan tranmisi rangsangan saraf. Menyebabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jaringan otak.
  2. Hemotoxin, yang menyerang darah dan system peredarannya. Dapat menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak dan menggumpal.
  3. Kardiotoxin, yang diserang adalah otot jantung.
  4. Miksotoxin, yang diserang cairan dalam tubuh.

Pertolongan pertama jika terjadi gigitan dari ular yang dianggap berbisa :
  1. Lindungi korban / cari perlindungan sendiri dari serangan berikutnya, kenali ular dari bentuk, warna, dan habitatnya (pohon,bebatuan, tanah,dsb).
  2. Ikat bagian tangan (jika gigitan berada di tangan) dengan kain, agar aliran darah mengalir secara lambat ke jantung dan bagian tubuh lainnya.
  3. Lepaskan semua aksesoris spt jam tangan, cincin atau benda lain yg sifatnya menghambat peredaran darah.
  4. Tidak di sarankan untuk memberikan minuman selain air putih kepada korban.
  5. Luka gigitan tidak boleh di hisap (menggunakan mulut atau alat lainnya), atau di pijat.
  6. Banyak diantaranya akan cenderung panik atau histeris sehingga akan berakibat serangan jantung karena shock (sudden death), maka usahakan agar korban untuk tetap tenang. Perlu di ingat juga bebrapa hal berikut juga dpt menjadi penenang, fakta yg menyebutkan bahwa banyak dari ular berbisa (terutama keluarga Elapid) tdk menyuntikkan bisa pd waktu gigitan pertama (Dry bite), kinerja/efektifitas bisa yg disuntikan pd tubuh mulai dari yg lambat hingga cepat (Elapid dalam hitungan jam, Viper dalam hitungan hari).
  7. Segera cari pertolongan untuk mencapai RS terdekat. Jika tidak ada kendaraan yg dpt gunakan, usahakan utk berjalan sesantai mungkin untuk menghindari detak jantung yg terlalu cepat.
Alternatf pertolongan pertama :

1. Menggunakan daun Sansevieria, ada dua cara :


  • Kerok bagiak kulit daun sansevieria. lalu tempelkan pada gigitan ular tersebut. lalu iket dengan tali, jangan kenceng-kenceng gan.. asal nempel aja.. daun sansivera bisa menghisap racun ular secara perlahan.
  • Gigit dan kunyah daun sansevieria kemudian tempelkan di bagian yg tergena gigitan ular, terus ikat dengan kain.
-
Sebenarnya masih banyak lagi jenis-jenis ular beracun yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia, namun karena keterbatasan halaman, maka akan kita lanjutkan lagi dalam tulisan berikutnya. Stay tuned saja ya ..

Semoga bermanfaat

Baca juga :

Mengenal beberapa jenis - Jenis ular di Indonesia 
Ular welang si pemalu yang mematikan 
Mengenali karakter ular yang mengandung racun
Sumber :  Semua informasi terkait dari internet


Menyambung artikel terdahulu mengenai jenis-jenis ular di Indonesia, berikut beberapa jenis ular yang dikenal memiliki racun atau bisa (venom) yang cukup berbahaya. Di alam liar, mereka menggunakan racunnya tersebut untuk tujuan melumpuhkan mangsanya sebelum dimakan. Racun tersebut mengalir melalui gigi / taring yang disuntiikan langsung kedalam lapisan kulit mangsanya dengan cara menggigitnya. 



Sebagian besar efek racun dari ular-ular berbisa ini akan menyerang sistem saraf dan pernafasan yang menyebabkan korban yang terkena racun ini akan langsung mengalami ketidak mampuan menggerakan otot badannya (lumpuh), dalam kasus yang fatal bisa menyebabkan kematian.

Secara umum beberapa ular-ular yang dikenal memiliki racun yang berbahaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut ( tidak mutlak namun cukup umum ).
  • Ular tersebut memiliki bentuk kepala yang pipih dengan ujung yang lancip (seperti huruf V)
  • Rata-rata memiliki ukuran tubuh kecil dan pendek, terkecuali ular King Cobra yang bisa memiliki panjang hingga 5 meter.
  • Memiliki dua gigi taring tajam di bagian atasnya.
Berikut beberapa spesies ular yang memiliki racun

1. King Cobra




  • Nama latin : Ophiopagus Hannah
  • Penyebaran : Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi
  • Ukuran dewasa : 200 - 550 cm
  • Habitat : Hutan tropis, padang rumput, dataran rendah, sampai pada Ketinggian 1800 m dpl
  • Jenis bisa : Postsynaptic Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, hingga kematian.
  • Efek klinis : Terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 70% - 85%.

2. Cobra Jawa



  • Nama latin : Naja sputatrix
  • Penyebaran : Jawa
  • Ukuran dewasa : 130 - 185 cm
  • Habitat : Hutan tropis, sawah, sungai, padang rumput terbuka.
  • Jenis bisa : Postsynaptic neurotoxin
  • Efek gigitan : sakit, bengkak, memar, cell mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 60%.

3. Weling



  • Nama latin : Bungarus Candidus
  • Penyebaran : Jawa, Sumatra, Bali, Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 80 - 160 cm
  • Habitat : Dataran rendah, sawah, perbukitan sampai pd ketinggian 1600m dpl.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa sangat besar dan berpotensi mematikan. Tingkat kematian 60% - 80%.

4. Welang


  • Nama latin : Bungarus Fasciatus
  • Penyebaran : Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
  • Ukuran dewasa : 110 - 213 cm
  • Habitat : Hutan bakau, persawahan, perkebunan karet,atau di sekitar permukiaman penduduk.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan, lumpuh.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa sangat besar dan berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 60% - 80%.

5. Malayan Pit Viper

  • Nama latin : Calloselasma Rhodostoma
  • Penyebaran : Pulau jawa
  • Ukuran dewasa : 50 - 110 cm
  • Habitat : Hutan bambu, hutan karet, lahan perkebunan, dan sekitar persawahan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan :Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, Kematian.
  • Efek klinis : Terkena bisa 60% - 80% berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 45% - 70%.

6. Vipera Russelii

  • Nama latin : Daboia Russelii Siamensis
  • Penyebaran : Jawa Timur, dan NTT (P. Ende, P. Flores, P. Komodo, P. Lomblen)
  • Ukuran dewasa : 100 - 150 cm. Jantan lebih besar dari betina.
  • Habitat : Arboreal. Ladang pertanian, persawahan, daerah bebatuan, atau padang rumput pd ketinggian sampai 2000 dpl
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, kematian.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa 80% (20% dry bite) berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 60% - 80%.

7. White Lipped Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Albolabris
  • Penyebaran : P.Sumatra, P.Kalimantan, P. Sulawesi, P.Jawa,P. Madura, P.Lombok, P. Sumbawa, P. Komodo, Flores, Sumba, P. Roti, Timor, Kisar, Wetar.
  • Ukuran dewasa : 40 - 100 cm
  • Habitat : Arboreal. Hutan bambu, semak belukar dengan pepohonan kecil tidak jauh dari sungai atau kali kecil.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Bengkak, sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan, pingsan, kematian.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa tidak di ketahui namun berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

8. Wagler's Pit Viper


  • Nama latin : Tropidolaemus Wagleri
  • Penyebaran : Sumatra, Mentawi, Nias, Kepulauan Riau , Billiton, Bangka, Natuna, Kalimantan, Karimata, Buton, Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 80 - 135 cm
  • Habitat : Arboreal. Dapat di temukan di hutan hujan pd ketinggian sampai 1200 dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Bengkak/memar, terasa panas, sell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Jika terkena bisa tidak diketahui namun berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

9. Flat Nosed Pit Viper


  • Nama latin : Trimeresurus Puniceus
  • Penyebaran : Jawa, Sumatra, Simalur, Mentawai, Kepulauan Natuna.
  • Ukuran dewasa : 50 - 90 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah hutan hujan sampai ketingian 1450 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : belum diketahui. berpotensi mematian.

10. Insularis

  • Nama latin : Trimeresurus Insularis
  • Penyebaran : Adonara, Alor, Bali, Flores, Komodo, Lombok, Padar, Rinca, Romang, Roti, Sumba, Sumbawa, Timor, Wetar.
  • Ukuran dewasa : 40 - 70 cm
  • Habitat : Arboreal, Hutan hujan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Belum diketahui. Tingkat kematian karena tdk tertangani sekitar 40% - 75%.

11. Hageni Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Hageni
  • Penyebaran : Sumatra (Batu, Bangka, Mentawai, Nias, Simalur /Simeulue).
  • Ukuran dewasa : 75 - 100 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah pd hutan hujan sampai pada ketinggian 1000 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Belum diketahui. Tingkat kematian sekitar 40% - 75%.

12. Borneo Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Borneensis
  • Penyebaran : Sumatra dan Kalimantan.
  • Ukuran dewasa : 50 - 90 cm
  • Habitat : Hutan hujan sampai pada ketinggian 800 m dpl.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa tidak di ketahui. Tingkat kematian sekitar 40% - 70%.

13. Banded Pit Viper

  • Nama latin : Trimeresurus Fasciatus
  • Penyebaran : P. Tanahjampea
  • Ukuran dewasa : 35 - 54 cm
  • Habitat : Arboreal. Dataran rendah di hutan hujan.
  • Jenis bisa : Hemotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, memar, terasa panas, cell tdk berfungsi/mati (necrosis), pembusukan.
  • Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa tidak di ketahui namun berpotensi mematikan.

14. Death Adder


  • Nama latin : Acanthophis Antarcticus
  • Penyebaran : Irian jaya, P. Seram
  • Ukuran dewasa : 60 - 97 cm
  • Habitat : Hutan hujan, perkebunan kopi, dan padang rumput.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit kepala, mual, muntah, sakit pd perut, pusing/vertigo, pendarahan,pingsan.
  • Efek klinis : Terkena bisa 40% - 60% berpotensi mematikan. Tingkat kematian sekitar 75% - 80%.

15. Blue Coral


  • Nama latin : Maticora Bivirgata
  • Penyebaran : Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.
  • Ukuran dewasa : 90 - 140 cm
  • Habitat : Nocturnal, Hutan tropis pada ketinggian dibawah 600 m dpl.
  • Jenis bisa : Neurotoxin
  • Efek gigitan : Sakit, bengkak, pembekuan aliran darah.
  • Efek klinis : Terkena bisa 40% - 60% berpotensi sangat mematikan. Tingkat kematian karena tidak tertangani sekitar 80% - 95%
---

Beberapa ciri-ciri yang membedakan ular yang memiliki racun/bisa dengan yang tidak memiliki racun



Jenis-jenis bisa atau racun yang dimiliki oleh hampir semua jenis ular:
  1. Neurotoxin, yang menyerang jaringan saraf dan bersifat bertentangan dengan tranmisi rangsangan saraf. Menyebabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jaringan otak.
  2. Hemotoxin, yang menyerang darah dan system peredarannya. Dapat menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak dan menggumpal.
  3. Kardiotoxin, yang diserang adalah otot jantung.
  4. Miksotoxin, yang diserang cairan dalam tubuh.

Pertolongan pertama jika terjadi gigitan dari ular yang dianggap berbisa :
  1. Lindungi korban / cari perlindungan sendiri dari serangan berikutnya, kenali ular dari bentuk, warna, dan habitatnya (pohon,bebatuan, tanah,dsb).
  2. Ikat bagian tangan (jika gigitan berada di tangan) dengan kain, agar aliran darah mengalir secara lambat ke jantung dan bagian tubuh lainnya.
  3. Lepaskan semua aksesoris spt jam tangan, cincin atau benda lain yg sifatnya menghambat peredaran darah.
  4. Tidak di sarankan untuk memberikan minuman selain air putih kepada korban.
  5. Luka gigitan tidak boleh di hisap (menggunakan mulut atau alat lainnya), atau di pijat.
  6. Banyak diantaranya akan cenderung panik atau histeris sehingga akan berakibat serangan jantung karena shock (sudden death), maka usahakan agar korban untuk tetap tenang. Perlu di ingat juga bebrapa hal berikut juga dpt menjadi penenang, fakta yg menyebutkan bahwa banyak dari ular berbisa (terutama keluarga Elapid) tdk menyuntikkan bisa pd waktu gigitan pertama (Dry bite), kinerja/efektifitas bisa yg disuntikan pd tubuh mulai dari yg lambat hingga cepat (Elapid dalam hitungan jam, Viper dalam hitungan hari).
  7. Segera cari pertolongan untuk mencapai RS terdekat. Jika tidak ada kendaraan yg dpt gunakan, usahakan utk berjalan sesantai mungkin untuk menghindari detak jantung yg terlalu cepat.
Alternatf pertolongan pertama :

1. Menggunakan daun Sansevieria, ada dua cara :


  • Kerok bagiak kulit daun sansevieria. lalu tempelkan pada gigitan ular tersebut. lalu iket dengan tali, jangan kenceng-kenceng gan.. asal nempel aja.. daun sansivera bisa menghisap racun ular secara perlahan.
  • Gigit dan kunyah daun sansevieria kemudian tempelkan di bagian yg tergena gigitan ular, terus ikat dengan kain.
-
Sebenarnya masih banyak lagi jenis-jenis ular beracun yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia, namun karena keterbatasan halaman, maka akan kita lanjutkan lagi dalam tulisan berikutnya. Stay tuned saja ya ..

Semoga bermanfaat

Baca juga :

Mengenal beberapa jenis - Jenis ular di Indonesia 
Ular welang si pemalu yang mematikan 
Mengenali karakter ular yang mengandung racun
Sumber :  Semua informasi terkait dari internet


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Jenis-jenis ular yang memiliki bisa atau racun"

  1. main kartu yuk. add pin kami yang mau main :)
    BBM : D8B84EE1
    LINE : agens128
    Whatsapp : 087867202559

    BalasHapus