Drupadi di antara Cinta, Pengorbanan, dan Pengabdian

Siapa yang menolong ketika Drupadi menjerit mencoba melepaskan diri ketika rambutnya dijambak  oleh Dursasana dan tubuhnya diseret menuju balairung perjudian ? Tidak ada! semua yang ada di sana mendengar jeritannya, tapi tidak ada satu pun yang berusaha menghentikkannya. Yudhistira, Arjuna, Nakula, dan Sadewa semua yang kalah dalam perjudian itu diam membisu, hanya Bima yang menggeratakkan gerahammnya menahan amarah. 


Sambil menahan amarah Bima berbisik pada Yudhistira bahwa ia telah berbuat berlebihan, karena bahkan seorang pelacur pun tidak akan dipertaruhkan dalam sebuah pertandinan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”.

Sosok Drupadi dalam pewayangan Jawa
Siapakah Drupadi sebenarnya ? Drupadi, Dropadi atau Draupadi (द्रौपदी ) adalah puteri dari Prabu Drupada, seorang raja yang berkuasa di Kerajaan Panchala. Dalam kitab Mahabharata versi aslinya, Drupadi adalah istri dari  kelima orang anak Pandu (Pandawa Lima), tetapi dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Drupadi hanyalah bersuamikan Yudhistira saja. Drupadi yang secara harfiah berarti "puteri Drupada", selain itu Drupadi dikenal juga dengan nama "Pancali" yang berarti "puteri kerajaan Panchala".  

Diceritakan bahwa Drupadi adalah seorang anak yang tidak diharapkan oleh Drupada, karena ia lebih menginginkan kelahiran seorang anak laki-laki yang akan membantunya untuk membalaskan dendamnya setelah dipermalukan oleh Drona. Drupadi sendiri terlahir dari sebuah upacara Putrakama Yadnya, yaitu sebuah ritual memohon anak yang dilakukan oleh Drupada dibantu resi Jaya dan Upajaya. Mereka melakukan ritual tersebut dengan sarana api suci, dan Drupadi keluar dari api suci tersebut.

Drupadi yang terlahir dari api suci

Drupadi yang tidak diharapkan oleh Drupada pun sering mendapat ketidakadilan dari ayahnya itu, namun dengan bantuan Sri Kresna, Drupada akhirnya mau menerima Drupadi dengan penuh rasa bangga. 

Ketika itu Drupada yang mencoba membunuh Drona, dikejutkan oleh kedatangan seorang ksatria yang hendak menyerangnya. Lebih terkejut lagi ketika seluruh pasukan yang diperintah menyerang ksatria tersebut luluh lantak oleh senjata dari si ksatria yang bernama Kresna. Ketika Kresna "yang berpura-pura" akan menyerang Drupada yang terpojok dengan senjatanya, Drupadi segera berlari dan menghalangi senjata Kresna.

Drupada yang mengetahui hal itu merasa menyesal telah menyepelekan Drupadi, dan akhirnya mau menerima Drupadi dengan sepenuh hatinya. 

Pernikahan dengan semua Pandawa Lima

Dikisahkan Drupadi bersuamikan lima orang, yaitu lima orang anak Pandu. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Keraaan Panchala dan mengikuti sayembara memanah. Sayembara itu juga diikuti oleh para raja-raja dan ksatria dari berbagai kerajaan terkemuka di seluruh daratan Bharatawarsha (India Kuno) termasuk Salya dan Duryadana yang diwakili oleh Karna. 

Para pandawa yang datang ke arena sayembara tersebut tidak berpakaian sebagaimana seorang pangeran atau ksatria melainkan menyamar sebagai Brahmana. Sayembara memanah tersebut sebenarnya pasti akan dimenangkan oleh Karna, namun Drupadi menolak dengan alasan tidak mau menikah dengan putra seorang kusir. Ketika Arjuna berhasil memenangkan sayembara itu, Drupadi bersedia menerima Arjuna sebagai suaminya.


Alhasil para raja-raja dan ksatria yang menyaksikan hal itu merasa dipermalukan karena dikalahkan oleh seorang Brahmana, sehingga terjadilah keributan. Arjuna dan Bima pun tidak bisa menghindari pertarungan tersebut, sedangkan Yudhistira, Nakula, dan Sadewa pulang untuk menjaga Dewi Kunti, ibu mereka.

Kresna yang memang sudah mengetahui siapa para Brahmana itu dan telah menceritakan sosok Arjuna pada Drupadi menyebutkan bahwa Brahmana sudah berhak mendapatkan Drupadi, dan menyuruh mereka semua untuk menghentikkan keributannya.

Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang berdoa sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hadiah untuk ibunya. Dewi Kunti yang tidak mengetahui apa yang dibawa oleh mereka langsung menyuruh agar mereka membagi rata apa yang telah mereka peroleh. 


Namun bukan main terkejutnya Dewi Kunti ketika tahu bahwa hadiah yang dibawa anaknya adalah seorang wanita. Dewi Kunti sadar bahwa ia tidak mungkin mencabut ucapannya kembali, maka Arjuna pun memaksa para saudara-saudaranya untuk menikahi Drupadi juga. 

Drupadi dekat dengan Kresna

Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, termasuk sepupunya yang licik dan selalu iri, yaitu Duryodana. Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. 


Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.

Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. 


Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan Cakra Sudarsana. 

Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.

Dihina di ajang perjudian 

Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di Indraprastha. 

Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan untuk merebut kekayaan Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya, Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang.

Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Duryodana dan Sangkuni. Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Dropadi. Akhirnya Yudistira kalah dan Dropadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. 


Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. 



Dursasana menyeret Drupadi dengan menjambak rambutnya dari kaputren Amarta hingga sampai ke arena judi di Pendopo Istana Kuru. Dan dengan perasaan yang hancur karena merasa terhina, Drupadi terkapar di tanah, matanya memerah, bajunya nyaris koyak, dan rambutnya acak-acakan. Ia mempertanyakan moral para tetua Kuru, Bhisma, para Kurawa, dan juga Pandawa yang kalah!. 

Drupadi yang telah dimenangkan oleh Duryudana, maka Duryudana pun dianggap berhak melakukan apa saja terhadapnya. Dalam batinnya sebenarnya ingin bertanya pada Yudhistira, siapa yang melempat dadu? berhakkah seorang pelempar dadu mempertaruhkan apa yang bukan miliknya? Ia seorang perempuan, seorang puteri dari Kerajaan Pancala, menantu dari Istana Kuru, istri para Pandawa, sepupu ipar dari Kurawa, dan "belahan jiwa" Kresna. Ia merasa telah dipertaruhkan tanpa sepengatahuannya, Drupadi meras dilecehkan tanpa sedikitpun mendapatkan pembelaan dari kelima orang suaminya.  

Drupadi menggugat sikap yang ditunjukan para Kurawa di hadapan Bisma, Drestarata, Karna, dan Widura sedangkan suami-suami mereka, anak-anak Kunti yang telah ia nikahi hanya bisa tertunduk meski hati mereka tidak bisa menerima penghinaan tersebut. 

Begitu pula ketika Duryudana, di hadapan para tetua, pengawal dan para ksatria yang berusaha menelanjangi Drupadi dengan menarik lapisan kain yang menutupi tubuhnya, tak ada satupun yang membelanya.  Meski darah Bima bergolak namun pandangan Yudhistira membuat Bima menahan diri. Bagaimanapun hinaan tersebut harus mereka terima karena sebagai ksatria mereka terikat oleh Dharma dan harus menepati janji taruhan.

Satu-satunya yang menyelamatkan Drupadi dari hinaan saat itu adalah Kresna. Sang Sakha-nya, sahabat sejatinya yang telah menjodohkan dirinya dengan Arjuna hingga bersuamikan lima orang. Dengan kekuatannya Kresna membuat Duryudana selalu gagal membuka lapisan kain demi kain yang menutupi tubuh Drupadi. Semakin bernafsu Duryudana menarik kain itu, semakin panjang pula kain itu menutupi Drupadi.

Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.



Hanya ada satu orang yang memberikan pembelaan kepada Drupadi dipuncak hinaan yang ia terima, orang itu adalah Wikarna, yang tak lain adalah saudara Duryudana sendiri. Setidaknya Wikarna telah menunjukkan sikap adil dengan memberi jawaban atas gugatan Drupadi mengenai moral para ksatria yang ada di pendopo itu.

Selain Wikarna, Drupadi benar-benar sendirian. Bahkan yang lebih ironis, setelah dirinya dipertaruhkan, ditelanjangi di depan banyak orang, Drupadi lah yang justru menjadi penyelamat dan pembela suami-suaminya, para lelaki yang bermental lembek yang selalu bersembunyi di balik argumen norma ksatria. 

Drupadi yang mengajukan permintaan agar para Pandawa tetap diperbolehkan membawa senjatanya ketika harus menerima hukuman pembuangan di hutan selama 13 tahun, setelah Yudhistira kembali kalah dalam permainan dadu melawan Duryudana dan Sengkuni.

Selama 13 tahun itu Drupadi menemani para Pandawa melewati masa-masa pembuangannya, padahal ia bisa saja meninggalkan kelima suaminya itu lalu kembali ke Pancala atau ikut dengan Kresna. Seperti Kunti, Drupadi mengikuti Pandawa dengan penuh kesabaran.

Namun dibalik kesabarannya itu, Drupadi juga lah yang telah menyalakan api pada Yudhistira dan memainkan bandul perang Bharatayidha. Drupadi meminta kepada Yudhistira, jika hukuman mereka selesai dilaksanakan, maka waktunya untuk membalas penghinaan anak-anak Destrarata.


Kematian Drupadi 

Beberapa lama setelah perang Mahabharata, Dinasti Yadu musnah. Para Pandawa dan Drupadi memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan sui mengelilingi Bharatawarsha dengan tujuan akhir perjalanan meraka adalah pegunungan Himalaya. 


Setelah melewati gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha , Drupadi meninggal dunia. 



Siapa yang menolong ketika Drupadi menjerit mencoba melepaskan diri ketika rambutnya dijambak  oleh Dursasana dan tubuhnya diseret menuju balairung perjudian ? Tidak ada! semua yang ada di sana mendengar jeritannya, tapi tidak ada satu pun yang berusaha menghentikkannya. Yudhistira, Arjuna, Nakula, dan Sadewa semua yang kalah dalam perjudian itu diam membisu, hanya Bima yang menggeratakkan gerahammnya menahan amarah. 


Sambil menahan amarah Bima berbisik pada Yudhistira bahwa ia telah berbuat berlebihan, karena bahkan seorang pelacur pun tidak akan dipertaruhkan dalam sebuah pertandinan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”.

Sosok Drupadi dalam pewayangan Jawa
Siapakah Drupadi sebenarnya ? Drupadi, Dropadi atau Draupadi (द्रौपदी ) adalah puteri dari Prabu Drupada, seorang raja yang berkuasa di Kerajaan Panchala. Dalam kitab Mahabharata versi aslinya, Drupadi adalah istri dari  kelima orang anak Pandu (Pandawa Lima), tetapi dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Drupadi hanyalah bersuamikan Yudhistira saja. Drupadi yang secara harfiah berarti "puteri Drupada", selain itu Drupadi dikenal juga dengan nama "Pancali" yang berarti "puteri kerajaan Panchala".  

Diceritakan bahwa Drupadi adalah seorang anak yang tidak diharapkan oleh Drupada, karena ia lebih menginginkan kelahiran seorang anak laki-laki yang akan membantunya untuk membalaskan dendamnya setelah dipermalukan oleh Drona. Drupadi sendiri terlahir dari sebuah upacara Putrakama Yadnya, yaitu sebuah ritual memohon anak yang dilakukan oleh Drupada dibantu resi Jaya dan Upajaya. Mereka melakukan ritual tersebut dengan sarana api suci, dan Drupadi keluar dari api suci tersebut.

Drupadi yang terlahir dari api suci

Drupadi yang tidak diharapkan oleh Drupada pun sering mendapat ketidakadilan dari ayahnya itu, namun dengan bantuan Sri Kresna, Drupada akhirnya mau menerima Drupadi dengan penuh rasa bangga. 

Ketika itu Drupada yang mencoba membunuh Drona, dikejutkan oleh kedatangan seorang ksatria yang hendak menyerangnya. Lebih terkejut lagi ketika seluruh pasukan yang diperintah menyerang ksatria tersebut luluh lantak oleh senjata dari si ksatria yang bernama Kresna. Ketika Kresna "yang berpura-pura" akan menyerang Drupada yang terpojok dengan senjatanya, Drupadi segera berlari dan menghalangi senjata Kresna.

Drupada yang mengetahui hal itu merasa menyesal telah menyepelekan Drupadi, dan akhirnya mau menerima Drupadi dengan sepenuh hatinya. 

Pernikahan dengan semua Pandawa Lima

Dikisahkan Drupadi bersuamikan lima orang, yaitu lima orang anak Pandu. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Keraaan Panchala dan mengikuti sayembara memanah. Sayembara itu juga diikuti oleh para raja-raja dan ksatria dari berbagai kerajaan terkemuka di seluruh daratan Bharatawarsha (India Kuno) termasuk Salya dan Duryadana yang diwakili oleh Karna. 

Para pandawa yang datang ke arena sayembara tersebut tidak berpakaian sebagaimana seorang pangeran atau ksatria melainkan menyamar sebagai Brahmana. Sayembara memanah tersebut sebenarnya pasti akan dimenangkan oleh Karna, namun Drupadi menolak dengan alasan tidak mau menikah dengan putra seorang kusir. Ketika Arjuna berhasil memenangkan sayembara itu, Drupadi bersedia menerima Arjuna sebagai suaminya.


Alhasil para raja-raja dan ksatria yang menyaksikan hal itu merasa dipermalukan karena dikalahkan oleh seorang Brahmana, sehingga terjadilah keributan. Arjuna dan Bima pun tidak bisa menghindari pertarungan tersebut, sedangkan Yudhistira, Nakula, dan Sadewa pulang untuk menjaga Dewi Kunti, ibu mereka.

Kresna yang memang sudah mengetahui siapa para Brahmana itu dan telah menceritakan sosok Arjuna pada Drupadi menyebutkan bahwa Brahmana sudah berhak mendapatkan Drupadi, dan menyuruh mereka semua untuk menghentikkan keributannya.

Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang berdoa sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hadiah untuk ibunya. Dewi Kunti yang tidak mengetahui apa yang dibawa oleh mereka langsung menyuruh agar mereka membagi rata apa yang telah mereka peroleh. 


Namun bukan main terkejutnya Dewi Kunti ketika tahu bahwa hadiah yang dibawa anaknya adalah seorang wanita. Dewi Kunti sadar bahwa ia tidak mungkin mencabut ucapannya kembali, maka Arjuna pun memaksa para saudara-saudaranya untuk menikahi Drupadi juga. 

Drupadi dekat dengan Kresna

Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, termasuk sepupunya yang licik dan selalu iri, yaitu Duryodana. Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. 


Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.

Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. 


Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan Cakra Sudarsana. 

Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.

Dihina di ajang perjudian 

Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di Indraprastha. 

Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan untuk merebut kekayaan Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya, Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang.

Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Duryodana dan Sangkuni. Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Dropadi. Akhirnya Yudistira kalah dan Dropadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. 


Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. 



Dursasana menyeret Drupadi dengan menjambak rambutnya dari kaputren Amarta hingga sampai ke arena judi di Pendopo Istana Kuru. Dan dengan perasaan yang hancur karena merasa terhina, Drupadi terkapar di tanah, matanya memerah, bajunya nyaris koyak, dan rambutnya acak-acakan. Ia mempertanyakan moral para tetua Kuru, Bhisma, para Kurawa, dan juga Pandawa yang kalah!. 

Drupadi yang telah dimenangkan oleh Duryudana, maka Duryudana pun dianggap berhak melakukan apa saja terhadapnya. Dalam batinnya sebenarnya ingin bertanya pada Yudhistira, siapa yang melempat dadu? berhakkah seorang pelempar dadu mempertaruhkan apa yang bukan miliknya? Ia seorang perempuan, seorang puteri dari Kerajaan Pancala, menantu dari Istana Kuru, istri para Pandawa, sepupu ipar dari Kurawa, dan "belahan jiwa" Kresna. Ia merasa telah dipertaruhkan tanpa sepengatahuannya, Drupadi meras dilecehkan tanpa sedikitpun mendapatkan pembelaan dari kelima orang suaminya.  

Drupadi menggugat sikap yang ditunjukan para Kurawa di hadapan Bisma, Drestarata, Karna, dan Widura sedangkan suami-suami mereka, anak-anak Kunti yang telah ia nikahi hanya bisa tertunduk meski hati mereka tidak bisa menerima penghinaan tersebut. 

Begitu pula ketika Duryudana, di hadapan para tetua, pengawal dan para ksatria yang berusaha menelanjangi Drupadi dengan menarik lapisan kain yang menutupi tubuhnya, tak ada satupun yang membelanya.  Meski darah Bima bergolak namun pandangan Yudhistira membuat Bima menahan diri. Bagaimanapun hinaan tersebut harus mereka terima karena sebagai ksatria mereka terikat oleh Dharma dan harus menepati janji taruhan.

Satu-satunya yang menyelamatkan Drupadi dari hinaan saat itu adalah Kresna. Sang Sakha-nya, sahabat sejatinya yang telah menjodohkan dirinya dengan Arjuna hingga bersuamikan lima orang. Dengan kekuatannya Kresna membuat Duryudana selalu gagal membuka lapisan kain demi kain yang menutupi tubuh Drupadi. Semakin bernafsu Duryudana menarik kain itu, semakin panjang pula kain itu menutupi Drupadi.

Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.



Hanya ada satu orang yang memberikan pembelaan kepada Drupadi dipuncak hinaan yang ia terima, orang itu adalah Wikarna, yang tak lain adalah saudara Duryudana sendiri. Setidaknya Wikarna telah menunjukkan sikap adil dengan memberi jawaban atas gugatan Drupadi mengenai moral para ksatria yang ada di pendopo itu.

Selain Wikarna, Drupadi benar-benar sendirian. Bahkan yang lebih ironis, setelah dirinya dipertaruhkan, ditelanjangi di depan banyak orang, Drupadi lah yang justru menjadi penyelamat dan pembela suami-suaminya, para lelaki yang bermental lembek yang selalu bersembunyi di balik argumen norma ksatria. 

Drupadi yang mengajukan permintaan agar para Pandawa tetap diperbolehkan membawa senjatanya ketika harus menerima hukuman pembuangan di hutan selama 13 tahun, setelah Yudhistira kembali kalah dalam permainan dadu melawan Duryudana dan Sengkuni.

Selama 13 tahun itu Drupadi menemani para Pandawa melewati masa-masa pembuangannya, padahal ia bisa saja meninggalkan kelima suaminya itu lalu kembali ke Pancala atau ikut dengan Kresna. Seperti Kunti, Drupadi mengikuti Pandawa dengan penuh kesabaran.

Namun dibalik kesabarannya itu, Drupadi juga lah yang telah menyalakan api pada Yudhistira dan memainkan bandul perang Bharatayidha. Drupadi meminta kepada Yudhistira, jika hukuman mereka selesai dilaksanakan, maka waktunya untuk membalas penghinaan anak-anak Destrarata.


Kematian Drupadi 

Beberapa lama setelah perang Mahabharata, Dinasti Yadu musnah. Para Pandawa dan Drupadi memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan sui mengelilingi Bharatawarsha dengan tujuan akhir perjalanan meraka adalah pegunungan Himalaya. 


Setelah melewati gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha , Drupadi meninggal dunia. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Drupadi di antara Cinta, Pengorbanan, dan Pengabdian"

Posting Komentar