Karna, kisah seorang ksatria sejati yang terbuang

Salah satu peristiwa yang paling menguras air mata dalam kisah Mahabharata adalah episode ketika Dewi Kunti menghampiri Karna yang terbaring setelah terkena panah yang dilepaskan oleh Arjuna.
 

Dalam suasana yang haru itu, Karna memanggil Kunti dengan sebutan Ibu, sebutan yang selama ini tidak pernah di dengarkan Kunti dari mulut Karna meski ia telah mengetahui bahwa dirinya adalah anak dari Kunti.

Kisah ini bermula ketika Krishna gagal mengusahakan perdamaian bagi kedua musuh bebuyutan itu yaitu Pandawa dan Kurawa. Krishna pun menghampiri Kunti dan berkata bahwa perang di Kurukshetra tidak bisa dielakkan lagi. 


Mendengar itu, Dewi Kunti merasa sangat sedih ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Hatinya disisipin pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. " Bagaimana mungkin aku mengatakan isi hatiku pada putra-putraku agar perang tidak terjadi? Apakah aku harus berkata pikullah hinaan ini. Kita tak usah meminta bagian kerajaan agar perang tidak terjadi."

Tapi bagaimana dengan tradisi para ksatria? Tapi sebaliknya apa gunanya saling bunuh dengan saudara sendiri. Kebanggaan macam apa yang akan didapat dari hasil membunuh saudara sendiri. Bagaimana aku harus menghadapi pilihan ini?." benak Kunti terus berkecamuk.


Hati Dewi Kunti terbagi dalam dua pilihan, disatu sisi kehancuran total, tapi di sisi lain kehormatan para ksatria yang adalah anak-anaknya yang dipertaruhkan. Namun di pihak Kurawa di sana ada Bisma yang agung, Dorna sang ahli senjata, dan Karna. " Bagaimana mungkin anak-anakku bisa mengalahkan mereka, 3 kstaria pilih tanding itu ?,"

Kepada Bisma ia merasa yakin kalau Bisma tidak akan mungkin tega atau melukai apalagi sampai membunuh Pandawa Lima yang terdiri dari Puntadewa / Yudhistira, Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula dan Sadewa. Begitu juga Kunti menaruh harapan pada Dorna, ia yakin Dorna tidak akan mau membunuh mantan murid-murid kesayangannya itu. 



Tapi pada Karna. Karna adalah ksatria tanpa tanding yang sangat terobsesi untuk membunuh Arjuna demi menyenangkan hati Duryudana. Namun sungguh ironis bagi Kunti, karena Karna adalah anak kandungnya sendiri, kakak tiri dari Arjuna.



Karena kekhawatirannya itulah kemudian Kunti memutuskan untuk menemui Karna di sungai Gangga tempat di mana Karna biasa melakukan pemujaan pada Dewata, dengan satu tujuan menerangkan kepadanya tentang siapa Karna dan Arjuna sebenarnya. Begitu Karna mengetahui asal-usul dirinya, Kunti berharap Karna mau meninggalkan Duryudana dan berbalik membela Pandawa.

Setelah begitu lama menunggu Karna bersemedi, akhirnya Karna selesai juga dari semedinya. Demi melihat Kunti yang tersengat matahari begitu lama karena menunggunya bersemedi, Karna segera membuka baju untuk melindungi kepala Kunti dari sengatan matahari.

Sesuai dengan adat kebiasaan, Karna kemudian menghaturkan sembah, “Anak Rada dan sais kereta menghaturkan sembah hormat.”

Kemudian Kunti pun menjawab, “Karna, sebenarnya kau bukan anak Rada dan sais kereta. Kau adalah anak Batara Surya yang lahir dari rahim Pritha yang sekarang dikenal sebagai Dewi Kunti. Semoga kesejahteraan ada padamu selalu.”

Setelah itu, Kunti menerangkan tentang asal-usul kelahiran Karna, dan memintanya untuk bergabung bersama Pandawa untuk menegakkan kebenaran dan menjanjikan sebuah tahta kerajaan setelah perang usai nanti.

Setelah mengetahui siapa dirinya, Karna mulai bimbang antara meikuti kata-kata ibunya atau tetap membela Duryudana yang selama ini membesarkan namanya. 




Dan setelah agak lama terdiam akhirnya Karna pun dengan keteguhan hatinya menjawab, “Ibu ratu, yang engkau katakan berlawanan dengan dharma. Jika meninggalkan kewajibanku, aku akan menyakiti diriku lebih parah daripada apa yang bida dilakukan seorang musuh kepadaku di medan perang. Ibu ratu telah merenggut semua hakku dengan membuangku, seorang bayi yang tak berdaya, ke sungai. Mengapa sekarang ibu ratu bicara padaku tentang kewajiban seorang ksatria? Ibu ratu tidak pernah membicarakan cinta ibu yang adalah hak setiap anak. Dan sekarang, karena mencemaskan anak-anak ibu ratu yang lain, ibu ratu menceritakan asal-usul kelahiranku. Jika aku bergabung dengan Pandawa, apakah dunia nanti tidak akan mengutukku sebagai seorang pengecut? Aku dihidupi asam garam putra-putra Destarata. Mereka percaya kepadaku sebagai sekutu setia. Aku berhutang budi kepada mereka. Mereka memberiku perhatian dan kebaikan hati. Setelah perang menjelang, engkau menghendakiku meninggalkan Kurawa dan bergabung dengan Pandawa. Ibu ratu, mengapa kau memintaku untuk menghianati asam garam yang telah kumakan? Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka? Adakah yang lebih hina daripada orang yang menghianati orang yang telah menolongnya? Ibu ratu terkasih, aku harus membayar hutangku, jika perlu dengan nyawaku. Jika tidak, aku akan tidak lebih dari seorang pencuri yang makan curian selama bertahun-tahun ini. Mohon maafkan aku.”

Lanjutnya: “Namun demikian, aku tidak akan menolak sepenuhnya permintaan ibu ratu. Persoalannya adalah antara aku dengan Arjuna. Dia atau aku yang harus mati di medan laga nanti. Aku tidak akan membunuh anak-anak ibu ratu yang lain, apa pun yang mereka lakukan kepadaku. Ibu ratu para ksatria perkasa, engkau tidak akan kehilangan putra. Putramu akan tetap lima. Salah satu dari kami, aku atau Arjuna akan tetap hidup setelah perang ini.”

Mendengar kata-kata putra sulungnya yang teguh dan sesuai norma-norma ksatria, hati Kunti semakin sedih. Pikirannya campur aduk tidak keruan. Ia tidak kuasa berkata-kata lagi. Segera dipeluknya Karna dan pergi tanpa bersuara. 


"Siapa yang bisa menentang takdir.. Setidaknya ia sudah berjanji tidak akan membunuh keempat anakku yang lain. Itu sudah cukup, Semoga Dewata memberkatinya." Pikirnya.

Dalam perang Bharatayuddha, Karna adalah sosok yang paling tangguh di antara para ksatria lainnya. Senjata pamungkasnya yang seharusnya digunakan untuk membunuh Arjuna, rela digunakan untuk membunuh Gatot Kaca atas suruhan Duryudana.  

Dan Krishna faham betul siapa Karna sebenarnya, Arjuna tidak akan pernah bisa menang melawannya. Karena itu pula Krishna mendesak Arjuna untuk segera melepaskan panahnya ketika Karna sedang memperbaiki roda keretanya dengan mengingatkan Arjuna akan Abimanyu puteranya yang tewas di tangan Kurawa. 



Karna adalah sosok anak yang sama sekali tidak pernah diinginkan oleh Kunti. Ketika memperoleh anugerah dari Resi Durwasa, Kunti yang masih remaja dengan isengnya menggunakan anugerah tersebut yang membuatnya mendapat seorang anak dari Batara Surya. 

Anak yang diberi nama Karna itu pun di asuhnya dengan sembunyi-sembunyi lantaran takut ketahuan oleh keluarga dan juga pelayannya. ketika menerima lamaran dari Pandu, Kunti membuang Karna ke sungai Gangga karena takut disebut sebagai seorang yang tidak perawan di mata Pandu. Selanjutnya Karna ditemukan oleh Adirata, seorang sais kereta kuda dan istrinya Rada yang kemudian mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.


Sebagai seorang anak yang berbakat, Karna pernah menantang Arjuna untuk unjuk kebolehan namun niatannya itu ditentang oleh para bangsawan yang menganggap seorang rakyat biasa apalagi keturunan sais kereta kuda tidak boleh beradu dengan keluarga ksatria, sehingga tantangannya itu pun tidak jadi dilakukan. 

Padahal niat Karna adalah ingin tahu siapa yang lebih mahir dalam memanah. Kalau saja mereka tahu siapa Karna .. . 

Tidak disitu saja, Karna pun harus mendapat hinaan dari Bima dengan kata-kata yang tidak layak dikatakan oleh seorang ksatria, bahkan Bima tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui penantang adiknya itu adalah anak seorang kusir kereta.. Ah Bima kalau saja kau tahu Karna adalah kakakmu . .. 

 "Ternyata lelaki yang mengaku ksatria ini hanyalah seorang anak sais kereta kuda! Hai anak sais kereta kuda, tak pantas engkau mati ditangan Arjuna!  Bahkan, sama sekali tak pantas pula sesungguhnya engkau menjadi Raja  Angga!" ujar Bima. 

Jalan hidup Karna memang sudah ditetapkan, ketika sedang berlatih, tanpa sengaja ia membunuh seekor sapi miliki seorang Brahmana. Meski telah meminta maaf atas kesalahannya namun Brahmana itu malah mengutuknya

 "Kelak di medan peperangan, roda keretamu akan terjebak lumpur,  dan engkau akan menemui ajalmu, seperti sapi yang tidak bersalah ini.! "

Dan memang dalam perang Bharatayuddha roda kereta yang ditunggangi Karna terjerembab dalam sebuah lubang yang penuh lumpur, dan saat itulah Arjuna memanahnya. 

Pernah pada suatu ketika, Karna ingin meningkatkan ilmunya pada Parasurama. Karna tahu kalau Parasurama sangat membenci kalangan ksatria, sehingga demi mendapatkan ilmu darinya Karna berbohong dengan mengaku sebagai brahmana sampai akhirnya ia pun diterima sebaga muridnya. 

Namun sepandai-pandai tupai melompat, lama-lama akan jatuh jua, hal itu juga yang menimpa Karna. Pada suatu hari ketika Parasurama sedang tertidur dalam pangkuan Karna, tiba-tiba ada ular berbisa yang hendak mengigit Karna. Karena tidak ingin membangunkan gurunya yang sedang tertidur. Karna membiarkan dirinya digigit oleh ular itu, namun cipratan darahnya mengenai sang guru yang langsung terbangun. 

Parasurama marah karena Karna telah berbohong kepadanya, lantaran tidak ada Brahmana yang kuat menahan gigitan ular berbisa, hanya para ksatrialah yang sanggup menahan perihnya. Akibatnya Karna dikutuk oleh gurunya itu.

"Engkau telah berani menipu gurumu! Dungu! Maka, ketika waktumu tiba, pengetahuanmu perihal astra yang engkau pelajari  dariku, sama sekali tidak akan bisa engkau gunakan!"

Bisa ditebak, ketika berhadapan dengan Arjuna di perang Bharatayuddha, Karna lupa akan ilmu-ilmu yang sudah didapatkannya.  






Sungguh malang nian nasib ksatria bernama Karna ini, ia harus menjalani hidupnya dengan penderitaan dan juga kutukan sampai akhirnya ia berteman baik dengan Duryudana yang telah menganggapnya sebagai seorang saudara. 



Salah satu peristiwa yang paling menguras air mata dalam kisah Mahabharata adalah episode ketika Dewi Kunti menghampiri Karna yang terbaring setelah terkena panah yang dilepaskan oleh Arjuna.
 

Dalam suasana yang haru itu, Karna memanggil Kunti dengan sebutan Ibu, sebutan yang selama ini tidak pernah di dengarkan Kunti dari mulut Karna meski ia telah mengetahui bahwa dirinya adalah anak dari Kunti.

Kisah ini bermula ketika Krishna gagal mengusahakan perdamaian bagi kedua musuh bebuyutan itu yaitu Pandawa dan Kurawa. Krishna pun menghampiri Kunti dan berkata bahwa perang di Kurukshetra tidak bisa dielakkan lagi. 


Mendengar itu, Dewi Kunti merasa sangat sedih ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Hatinya disisipin pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. " Bagaimana mungkin aku mengatakan isi hatiku pada putra-putraku agar perang tidak terjadi? Apakah aku harus berkata pikullah hinaan ini. Kita tak usah meminta bagian kerajaan agar perang tidak terjadi."

Tapi bagaimana dengan tradisi para ksatria? Tapi sebaliknya apa gunanya saling bunuh dengan saudara sendiri. Kebanggaan macam apa yang akan didapat dari hasil membunuh saudara sendiri. Bagaimana aku harus menghadapi pilihan ini?." benak Kunti terus berkecamuk.


Hati Dewi Kunti terbagi dalam dua pilihan, disatu sisi kehancuran total, tapi di sisi lain kehormatan para ksatria yang adalah anak-anaknya yang dipertaruhkan. Namun di pihak Kurawa di sana ada Bisma yang agung, Dorna sang ahli senjata, dan Karna. " Bagaimana mungkin anak-anakku bisa mengalahkan mereka, 3 kstaria pilih tanding itu ?,"

Kepada Bisma ia merasa yakin kalau Bisma tidak akan mungkin tega atau melukai apalagi sampai membunuh Pandawa Lima yang terdiri dari Puntadewa / Yudhistira, Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula dan Sadewa. Begitu juga Kunti menaruh harapan pada Dorna, ia yakin Dorna tidak akan mau membunuh mantan murid-murid kesayangannya itu. 



Tapi pada Karna. Karna adalah ksatria tanpa tanding yang sangat terobsesi untuk membunuh Arjuna demi menyenangkan hati Duryudana. Namun sungguh ironis bagi Kunti, karena Karna adalah anak kandungnya sendiri, kakak tiri dari Arjuna.



Karena kekhawatirannya itulah kemudian Kunti memutuskan untuk menemui Karna di sungai Gangga tempat di mana Karna biasa melakukan pemujaan pada Dewata, dengan satu tujuan menerangkan kepadanya tentang siapa Karna dan Arjuna sebenarnya. Begitu Karna mengetahui asal-usul dirinya, Kunti berharap Karna mau meninggalkan Duryudana dan berbalik membela Pandawa.

Setelah begitu lama menunggu Karna bersemedi, akhirnya Karna selesai juga dari semedinya. Demi melihat Kunti yang tersengat matahari begitu lama karena menunggunya bersemedi, Karna segera membuka baju untuk melindungi kepala Kunti dari sengatan matahari.

Sesuai dengan adat kebiasaan, Karna kemudian menghaturkan sembah, “Anak Rada dan sais kereta menghaturkan sembah hormat.”

Kemudian Kunti pun menjawab, “Karna, sebenarnya kau bukan anak Rada dan sais kereta. Kau adalah anak Batara Surya yang lahir dari rahim Pritha yang sekarang dikenal sebagai Dewi Kunti. Semoga kesejahteraan ada padamu selalu.”

Setelah itu, Kunti menerangkan tentang asal-usul kelahiran Karna, dan memintanya untuk bergabung bersama Pandawa untuk menegakkan kebenaran dan menjanjikan sebuah tahta kerajaan setelah perang usai nanti.

Setelah mengetahui siapa dirinya, Karna mulai bimbang antara meikuti kata-kata ibunya atau tetap membela Duryudana yang selama ini membesarkan namanya. 




Dan setelah agak lama terdiam akhirnya Karna pun dengan keteguhan hatinya menjawab, “Ibu ratu, yang engkau katakan berlawanan dengan dharma. Jika meninggalkan kewajibanku, aku akan menyakiti diriku lebih parah daripada apa yang bida dilakukan seorang musuh kepadaku di medan perang. Ibu ratu telah merenggut semua hakku dengan membuangku, seorang bayi yang tak berdaya, ke sungai. Mengapa sekarang ibu ratu bicara padaku tentang kewajiban seorang ksatria? Ibu ratu tidak pernah membicarakan cinta ibu yang adalah hak setiap anak. Dan sekarang, karena mencemaskan anak-anak ibu ratu yang lain, ibu ratu menceritakan asal-usul kelahiranku. Jika aku bergabung dengan Pandawa, apakah dunia nanti tidak akan mengutukku sebagai seorang pengecut? Aku dihidupi asam garam putra-putra Destarata. Mereka percaya kepadaku sebagai sekutu setia. Aku berhutang budi kepada mereka. Mereka memberiku perhatian dan kebaikan hati. Setelah perang menjelang, engkau menghendakiku meninggalkan Kurawa dan bergabung dengan Pandawa. Ibu ratu, mengapa kau memintaku untuk menghianati asam garam yang telah kumakan? Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka? Adakah yang lebih hina daripada orang yang menghianati orang yang telah menolongnya? Ibu ratu terkasih, aku harus membayar hutangku, jika perlu dengan nyawaku. Jika tidak, aku akan tidak lebih dari seorang pencuri yang makan curian selama bertahun-tahun ini. Mohon maafkan aku.”

Lanjutnya: “Namun demikian, aku tidak akan menolak sepenuhnya permintaan ibu ratu. Persoalannya adalah antara aku dengan Arjuna. Dia atau aku yang harus mati di medan laga nanti. Aku tidak akan membunuh anak-anak ibu ratu yang lain, apa pun yang mereka lakukan kepadaku. Ibu ratu para ksatria perkasa, engkau tidak akan kehilangan putra. Putramu akan tetap lima. Salah satu dari kami, aku atau Arjuna akan tetap hidup setelah perang ini.”

Mendengar kata-kata putra sulungnya yang teguh dan sesuai norma-norma ksatria, hati Kunti semakin sedih. Pikirannya campur aduk tidak keruan. Ia tidak kuasa berkata-kata lagi. Segera dipeluknya Karna dan pergi tanpa bersuara. 


"Siapa yang bisa menentang takdir.. Setidaknya ia sudah berjanji tidak akan membunuh keempat anakku yang lain. Itu sudah cukup, Semoga Dewata memberkatinya." Pikirnya.

Dalam perang Bharatayuddha, Karna adalah sosok yang paling tangguh di antara para ksatria lainnya. Senjata pamungkasnya yang seharusnya digunakan untuk membunuh Arjuna, rela digunakan untuk membunuh Gatot Kaca atas suruhan Duryudana.  

Dan Krishna faham betul siapa Karna sebenarnya, Arjuna tidak akan pernah bisa menang melawannya. Karena itu pula Krishna mendesak Arjuna untuk segera melepaskan panahnya ketika Karna sedang memperbaiki roda keretanya dengan mengingatkan Arjuna akan Abimanyu puteranya yang tewas di tangan Kurawa. 



Karna adalah sosok anak yang sama sekali tidak pernah diinginkan oleh Kunti. Ketika memperoleh anugerah dari Resi Durwasa, Kunti yang masih remaja dengan isengnya menggunakan anugerah tersebut yang membuatnya mendapat seorang anak dari Batara Surya. 

Anak yang diberi nama Karna itu pun di asuhnya dengan sembunyi-sembunyi lantaran takut ketahuan oleh keluarga dan juga pelayannya. ketika menerima lamaran dari Pandu, Kunti membuang Karna ke sungai Gangga karena takut disebut sebagai seorang yang tidak perawan di mata Pandu. Selanjutnya Karna ditemukan oleh Adirata, seorang sais kereta kuda dan istrinya Rada yang kemudian mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.


Sebagai seorang anak yang berbakat, Karna pernah menantang Arjuna untuk unjuk kebolehan namun niatannya itu ditentang oleh para bangsawan yang menganggap seorang rakyat biasa apalagi keturunan sais kereta kuda tidak boleh beradu dengan keluarga ksatria, sehingga tantangannya itu pun tidak jadi dilakukan. 

Padahal niat Karna adalah ingin tahu siapa yang lebih mahir dalam memanah. Kalau saja mereka tahu siapa Karna .. . 

Tidak disitu saja, Karna pun harus mendapat hinaan dari Bima dengan kata-kata yang tidak layak dikatakan oleh seorang ksatria, bahkan Bima tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui penantang adiknya itu adalah anak seorang kusir kereta.. Ah Bima kalau saja kau tahu Karna adalah kakakmu . .. 

 "Ternyata lelaki yang mengaku ksatria ini hanyalah seorang anak sais kereta kuda! Hai anak sais kereta kuda, tak pantas engkau mati ditangan Arjuna!  Bahkan, sama sekali tak pantas pula sesungguhnya engkau menjadi Raja  Angga!" ujar Bima. 

Jalan hidup Karna memang sudah ditetapkan, ketika sedang berlatih, tanpa sengaja ia membunuh seekor sapi miliki seorang Brahmana. Meski telah meminta maaf atas kesalahannya namun Brahmana itu malah mengutuknya

 "Kelak di medan peperangan, roda keretamu akan terjebak lumpur,  dan engkau akan menemui ajalmu, seperti sapi yang tidak bersalah ini.! "

Dan memang dalam perang Bharatayuddha roda kereta yang ditunggangi Karna terjerembab dalam sebuah lubang yang penuh lumpur, dan saat itulah Arjuna memanahnya. 

Pernah pada suatu ketika, Karna ingin meningkatkan ilmunya pada Parasurama. Karna tahu kalau Parasurama sangat membenci kalangan ksatria, sehingga demi mendapatkan ilmu darinya Karna berbohong dengan mengaku sebagai brahmana sampai akhirnya ia pun diterima sebaga muridnya. 

Namun sepandai-pandai tupai melompat, lama-lama akan jatuh jua, hal itu juga yang menimpa Karna. Pada suatu hari ketika Parasurama sedang tertidur dalam pangkuan Karna, tiba-tiba ada ular berbisa yang hendak mengigit Karna. Karena tidak ingin membangunkan gurunya yang sedang tertidur. Karna membiarkan dirinya digigit oleh ular itu, namun cipratan darahnya mengenai sang guru yang langsung terbangun. 

Parasurama marah karena Karna telah berbohong kepadanya, lantaran tidak ada Brahmana yang kuat menahan gigitan ular berbisa, hanya para ksatrialah yang sanggup menahan perihnya. Akibatnya Karna dikutuk oleh gurunya itu.

"Engkau telah berani menipu gurumu! Dungu! Maka, ketika waktumu tiba, pengetahuanmu perihal astra yang engkau pelajari  dariku, sama sekali tidak akan bisa engkau gunakan!"

Bisa ditebak, ketika berhadapan dengan Arjuna di perang Bharatayuddha, Karna lupa akan ilmu-ilmu yang sudah didapatkannya.  






Sungguh malang nian nasib ksatria bernama Karna ini, ia harus menjalani hidupnya dengan penderitaan dan juga kutukan sampai akhirnya ia berteman baik dengan Duryudana yang telah menganggapnya sebagai seorang saudara. 



Subscribe to receive free email updates: