Aswathama ksatria terakhir Kurawa yang dikutuk hidup abadi

Aswahtama (Sansekerta: अश्वत्थामा, Aśvatthāmā) atau Ashwatthaman (Sansekerta: अश्वत्थामन्, Aśvatthāman) adalah anak satu-satunya dari guru Drona dan Krepi yang sangat disayanginya. 

Di kisahkan Aswatama merupakan perwujudan salah satu dari delapan Dewa Rudra dan juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin (mahluk yang abadi) yang dikutuk untuk hidup selamanya tanpa rasa cinta setelah melakukan pembunuhan terhadap lima putra Pandawa dan mencoba membunuh janin yang dikandung Utari istri abimanyu. 

Sebelum terlahir ke dunia, sang ayah yaitu Resi Drona telah melalui berbagai usaha yang cukup berat untuk mengabdi kepada Dewa Siwa dengan tujuan agar diberkati seorang anak lelaki yang memiliki keberanian seperti Mahadewa.  




Aswatama pun lahir dengan membawa permata di dahinya. Permata itu memberinya kekuasaan atas semua mahluk hidup yang lebih rendah dari manusia. Permata itu juga yang melindunginya dari serangan mahluk halus, jin, raksasa, serangga beracun, binatang buas, dan sebagainya. 

Drona sangat mencintai anak tunggalnya itu, bahkan ketika mendengar desas-desus kemaitan anaknya dalam perang kurukshetra Resi Drona menjadi tidak memiliki semangat lagi untuk hidup yang membuatnya gugur di tangan Pangeran Drestadyumn. Padahal kabar yang ia dengar adalah kabar mengenai kematian seekor gajah yang bernama Hestitama bukan Aswatama. 

Setelah perang besar di Kurukshetra, Aswatama diyakini sebagai satu-satunya musuh Pandawa yang masih hidup. Aswatama memang bukan orang sembarangan ia adalah Brahmana Ksatria sebagaimana Bisma, Drona, Krepa, Karna, dan Arjuna. 

Ia adalah seorang ahli ilmu perang yang terpandang sebagai salah satu ksatria ulung pada masanya. Aswatama pun menyandang gelar maharathi, serta merupakan salah satu jenderal andalan para Kurawa dalam perang Bharatayuddha. 

Setelah perang berakhir dengan kekalahan Kurawa, Aswatama berjanji kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh para Pandawa untuknya. Dengan liciknya ia menyelinap secara diam-diam ke dalam perkemahan Pandawa pada tengah malam, dan ketika melihat lima orang yang tertidur pulas di kemah para Pandawa ia pun segera membunuhnya dengan membabi buta. Ia tidak tahu bahwa orang-orang yang ia bunuh itu bukamlah para Pandawa, melainkan kelima orang putra Pandawa dari Drupadi (Pancawala). Selain berhasil membunuh lima anaknya itu, Aswatama juga berhasil membunuh Drestadyumna, Srikandi, Utamauja, dan para pimpinan pasukan yang masih hidup.

Pandawa yang mengetahui hal itu menjadi sangat murka dan segera memburu Aswatama sampai akhirnya terjadi pertarungan dengan Arjuna. Dalam pertarungan tersebut Aswatama memanggil senjata Brahmastra yang dulu pernah ingin ia tukar dengan senjata cakra milik Kresna namun tidak berhasil. 

Dengan Brahmastra ia mencoba menyerang Arjuna, dan Arjuna pun membalasnya dengan menggunakan senjata yang sama. Kresna yang mengetahui hal tersebut segera datang untuk menengahi keduanya, ia merasa Khawatir akan dampak yang timbul jika kedua senjata pamungkas itu beradu, itu artinya kehancuran bagi dunia!. 



Ia menyuruh mereka berdua untuk memanggil senjatanya kembali. Arjuna berhasil memanggil Brahmastranya akan tetapi Aswatama tampaknya tidak mempunyai pengetahuan bagaimana memanggil senjatanya itu kembali sehingga pilihannya adalah menggunakan senjatanya itu. Aswatama yang masih dendam dengan Pandawa akhirnya berkata bahwa ia akan menghancurkan keturunan terakhir Pandawa, dan senjata itu pun melesat menuju rahim para wanita dalam keluarga Pandawa, salah satunya adalah Utari istri Abimanyu yang tengah mengandung. 

Akibat senjata itu janin yang dikandung Utari meninggal karena terbakar di dalam perutnya. Namun Kresna berhasil menghidupkannya kembali. Karena perbuatannya itu Kresna kemudian mengutuk Aswatama aswatama dengan penderitaan yang harus dijalaninya seumur hidupnya. 



Karena kutukan tersebut Aswatama menderita Kusta, dan seketika itu pula permata yang ada di dahinya lepas dan membuat tubuh Aswatama mengeluarkan bau yang sangat busuk dari setiap pori-porinya, dengan kondisi tersebut ia akan merasakan hinaan, dan cercaan dari manusia yang melihatnya sampai akhir zaman Kaliyuga.

Aswatama dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Aswatama dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kisah Mahabharata yang berasal dari India. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.


Dalam pewayangan Jawa, Aswatama juga dikenal sebagai putra Bhagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Kripi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan. 

Aswatama berasal dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya, ia memihak para Korawa saat perang Bharatayuddha. Ketika ayahnya menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.

Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong. 



Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodana yang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari perang Bharatayudha. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Hastinapura, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudistira), Banowati (Janda Duryodana) dan Srikandi. Diceritakan bahwa akhirnya ia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

3 Dosa besar Aswatama

Aswatama bertempur di sisi ayahnya untuk Duryodana dalam Perang Besar. Dia telah melakukan 3 dosa dalam perjalanan hidupnya:
 

1. Pembunuhan terhadap seorang anak dengan cara yang tidak adil: 

Aswatama adalah salah satu dari tuju maharathis (prajurit besar) yang membunuh Abimanyu, anak Arjuna dalam sebuah pertarungan yang tidak adil dan keji. Tujuh prajurit besar mengelilingi satu anak, menyerang dari semua sisi, dan terus menyerang bahkan setelah Abimanyu kehilangan senjatanya dan menjadi tak berdaya. (Karna menyerang dari belakang dan mematahkan busur Abimanyu - tampaknya kejahatan Karna yang paling memalukan dalam epik Mahabarata). Berpartisipasi dalam tindakan pembunuhan adalah dosa pertama yang di lakukan Aswatama.

2. Genosida - Membunuh orang tak berdosa dalam tidur mereka: 


Pada hari ke-18 Perang Besar, setelah Duryodana dikalahkan oleh Bhima dalam pertempuran tunggal dan ketika ia berbaring di darahnya sendiri, tiga Ksatria yang tersisa dari pasukannya - Aswatama, Resi Krepa dan Kritawarma - datang untuk menemuinya. Duryodana mengumumkan Aswatama menjadi komandan pasukannya yang tersisa. Aswatama, buta dengan kemarahan atas kematian ayahnya (Drona yang ditipu dan dibunuh sebelumnya) berkomplot bersama dengan Kritawarma dan Resi Krepa, menyerang perkemahan Pandawa di malam hari dan menyembelih semua orang pemimpin pasukan Pandawa - termasuk Dhrishtadyumna (komandan tertinggi Pandawa), lima anak Dropadi (Pancawala), Srikandi, Uttamaujas dan Yudhamanyu.

3. Foeticide - Membunuh janin yang masih dalam kandungan:


Para Pandawa, marah dengan tindakan di atas, mengejar Aswatthama sehingga pertarungannya dengan Arjuna di mana keduanya memanggil Senjata Brahmashirsha. Takut akan kehancuran dunia, Resi Wiyasa menyarankan keduanya untuk mengambil kembali senjata mereka. Sementara Arjuna dapat melakukannya, Aswatama tidak dapat menarik mantranya, dan diberikan pilihan untuk memilih salah satu target untuk dihancurkan. Karena dendam, Aswatama mengarahkan senjata ke rahim perempuan Pandawa - khususnya Uttari, putri Arjuna sebagai mertua (istri Abimanyu dan putri Raja Wirata).

Krisna mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi sampai akhir zaman Kaliyuga. sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang dan dicintai.




Legenda mengenai keberadaan Aswatama hingga kini 


Aswatama telah dikutuk untuk hidup dengan penderitaan sampai akhir zaman, dan karena itu pula banyak yang menganggap sosok Aswatama hingga kini masih hidup meski dalam wujud yang tidak diketahui rupa dan bentuknya. 

Sebuah legenda menyebutkan bahwa Aswatama  mengembara ke daerah yang sekarang dikenal sebagai semenanjung Arab.
 

Namun ada juga legenda yang mengatakan Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan.
 

Bahkan sebuah benteng kuno yang terletak di dekat Burhanpur, India yang terkenal dengan Asirgarh mempunyai kuil Siwa di puncaknya, dan konon setiap subuh Aswatama secara rutin mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. Penduduk sekitar pun banyak yang penasaran ingin menyaksikannya namun tidak pernah berhasil, bahkan menurut cerita orang yang bisa menyaksikannya akan menjadi buta atau bisu. 

Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan konon ia masih hidup di sana sebagai seorang Chiranjiwin.



Aswahtama (Sansekerta: अश्वत्थामा, Aśvatthāmā) atau Ashwatthaman (Sansekerta: अश्वत्थामन्, Aśvatthāman) adalah anak satu-satunya dari guru Drona dan Krepi yang sangat disayanginya. 

Di kisahkan Aswatama merupakan perwujudan salah satu dari delapan Dewa Rudra dan juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin (mahluk yang abadi) yang dikutuk untuk hidup selamanya tanpa rasa cinta setelah melakukan pembunuhan terhadap lima putra Pandawa dan mencoba membunuh janin yang dikandung Utari istri abimanyu. 

Sebelum terlahir ke dunia, sang ayah yaitu Resi Drona telah melalui berbagai usaha yang cukup berat untuk mengabdi kepada Dewa Siwa dengan tujuan agar diberkati seorang anak lelaki yang memiliki keberanian seperti Mahadewa.  




Aswatama pun lahir dengan membawa permata di dahinya. Permata itu memberinya kekuasaan atas semua mahluk hidup yang lebih rendah dari manusia. Permata itu juga yang melindunginya dari serangan mahluk halus, jin, raksasa, serangga beracun, binatang buas, dan sebagainya. 

Drona sangat mencintai anak tunggalnya itu, bahkan ketika mendengar desas-desus kemaitan anaknya dalam perang kurukshetra Resi Drona menjadi tidak memiliki semangat lagi untuk hidup yang membuatnya gugur di tangan Pangeran Drestadyumn. Padahal kabar yang ia dengar adalah kabar mengenai kematian seekor gajah yang bernama Hestitama bukan Aswatama. 

Setelah perang besar di Kurukshetra, Aswatama diyakini sebagai satu-satunya musuh Pandawa yang masih hidup. Aswatama memang bukan orang sembarangan ia adalah Brahmana Ksatria sebagaimana Bisma, Drona, Krepa, Karna, dan Arjuna. 

Ia adalah seorang ahli ilmu perang yang terpandang sebagai salah satu ksatria ulung pada masanya. Aswatama pun menyandang gelar maharathi, serta merupakan salah satu jenderal andalan para Kurawa dalam perang Bharatayuddha. 

Setelah perang berakhir dengan kekalahan Kurawa, Aswatama berjanji kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh para Pandawa untuknya. Dengan liciknya ia menyelinap secara diam-diam ke dalam perkemahan Pandawa pada tengah malam, dan ketika melihat lima orang yang tertidur pulas di kemah para Pandawa ia pun segera membunuhnya dengan membabi buta. Ia tidak tahu bahwa orang-orang yang ia bunuh itu bukamlah para Pandawa, melainkan kelima orang putra Pandawa dari Drupadi (Pancawala). Selain berhasil membunuh lima anaknya itu, Aswatama juga berhasil membunuh Drestadyumna, Srikandi, Utamauja, dan para pimpinan pasukan yang masih hidup.

Pandawa yang mengetahui hal itu menjadi sangat murka dan segera memburu Aswatama sampai akhirnya terjadi pertarungan dengan Arjuna. Dalam pertarungan tersebut Aswatama memanggil senjata Brahmastra yang dulu pernah ingin ia tukar dengan senjata cakra milik Kresna namun tidak berhasil. 

Dengan Brahmastra ia mencoba menyerang Arjuna, dan Arjuna pun membalasnya dengan menggunakan senjata yang sama. Kresna yang mengetahui hal tersebut segera datang untuk menengahi keduanya, ia merasa Khawatir akan dampak yang timbul jika kedua senjata pamungkas itu beradu, itu artinya kehancuran bagi dunia!. 



Ia menyuruh mereka berdua untuk memanggil senjatanya kembali. Arjuna berhasil memanggil Brahmastranya akan tetapi Aswatama tampaknya tidak mempunyai pengetahuan bagaimana memanggil senjatanya itu kembali sehingga pilihannya adalah menggunakan senjatanya itu. Aswatama yang masih dendam dengan Pandawa akhirnya berkata bahwa ia akan menghancurkan keturunan terakhir Pandawa, dan senjata itu pun melesat menuju rahim para wanita dalam keluarga Pandawa, salah satunya adalah Utari istri Abimanyu yang tengah mengandung. 

Akibat senjata itu janin yang dikandung Utari meninggal karena terbakar di dalam perutnya. Namun Kresna berhasil menghidupkannya kembali. Karena perbuatannya itu Kresna kemudian mengutuk Aswatama aswatama dengan penderitaan yang harus dijalaninya seumur hidupnya. 



Karena kutukan tersebut Aswatama menderita Kusta, dan seketika itu pula permata yang ada di dahinya lepas dan membuat tubuh Aswatama mengeluarkan bau yang sangat busuk dari setiap pori-porinya, dengan kondisi tersebut ia akan merasakan hinaan, dan cercaan dari manusia yang melihatnya sampai akhir zaman Kaliyuga.

Aswatama dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Aswatama dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kisah Mahabharata yang berasal dari India. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.


Dalam pewayangan Jawa, Aswatama juga dikenal sebagai putra Bhagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Kripi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan. 

Aswatama berasal dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya, ia memihak para Korawa saat perang Bharatayuddha. Ketika ayahnya menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.

Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong. 



Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodana yang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari perang Bharatayudha. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Hastinapura, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudistira), Banowati (Janda Duryodana) dan Srikandi. Diceritakan bahwa akhirnya ia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

3 Dosa besar Aswatama

Aswatama bertempur di sisi ayahnya untuk Duryodana dalam Perang Besar. Dia telah melakukan 3 dosa dalam perjalanan hidupnya:
 

1. Pembunuhan terhadap seorang anak dengan cara yang tidak adil: 

Aswatama adalah salah satu dari tuju maharathis (prajurit besar) yang membunuh Abimanyu, anak Arjuna dalam sebuah pertarungan yang tidak adil dan keji. Tujuh prajurit besar mengelilingi satu anak, menyerang dari semua sisi, dan terus menyerang bahkan setelah Abimanyu kehilangan senjatanya dan menjadi tak berdaya. (Karna menyerang dari belakang dan mematahkan busur Abimanyu - tampaknya kejahatan Karna yang paling memalukan dalam epik Mahabarata). Berpartisipasi dalam tindakan pembunuhan adalah dosa pertama yang di lakukan Aswatama.

2. Genosida - Membunuh orang tak berdosa dalam tidur mereka: 


Pada hari ke-18 Perang Besar, setelah Duryodana dikalahkan oleh Bhima dalam pertempuran tunggal dan ketika ia berbaring di darahnya sendiri, tiga Ksatria yang tersisa dari pasukannya - Aswatama, Resi Krepa dan Kritawarma - datang untuk menemuinya. Duryodana mengumumkan Aswatama menjadi komandan pasukannya yang tersisa. Aswatama, buta dengan kemarahan atas kematian ayahnya (Drona yang ditipu dan dibunuh sebelumnya) berkomplot bersama dengan Kritawarma dan Resi Krepa, menyerang perkemahan Pandawa di malam hari dan menyembelih semua orang pemimpin pasukan Pandawa - termasuk Dhrishtadyumna (komandan tertinggi Pandawa), lima anak Dropadi (Pancawala), Srikandi, Uttamaujas dan Yudhamanyu.

3. Foeticide - Membunuh janin yang masih dalam kandungan:


Para Pandawa, marah dengan tindakan di atas, mengejar Aswatthama sehingga pertarungannya dengan Arjuna di mana keduanya memanggil Senjata Brahmashirsha. Takut akan kehancuran dunia, Resi Wiyasa menyarankan keduanya untuk mengambil kembali senjata mereka. Sementara Arjuna dapat melakukannya, Aswatama tidak dapat menarik mantranya, dan diberikan pilihan untuk memilih salah satu target untuk dihancurkan. Karena dendam, Aswatama mengarahkan senjata ke rahim perempuan Pandawa - khususnya Uttari, putri Arjuna sebagai mertua (istri Abimanyu dan putri Raja Wirata).

Krisna mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi sampai akhir zaman Kaliyuga. sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang dan dicintai.




Legenda mengenai keberadaan Aswatama hingga kini 


Aswatama telah dikutuk untuk hidup dengan penderitaan sampai akhir zaman, dan karena itu pula banyak yang menganggap sosok Aswatama hingga kini masih hidup meski dalam wujud yang tidak diketahui rupa dan bentuknya. 

Sebuah legenda menyebutkan bahwa Aswatama  mengembara ke daerah yang sekarang dikenal sebagai semenanjung Arab.
 

Namun ada juga legenda yang mengatakan Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan.
 

Bahkan sebuah benteng kuno yang terletak di dekat Burhanpur, India yang terkenal dengan Asirgarh mempunyai kuil Siwa di puncaknya, dan konon setiap subuh Aswatama secara rutin mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. Penduduk sekitar pun banyak yang penasaran ingin menyaksikannya namun tidak pernah berhasil, bahkan menurut cerita orang yang bisa menyaksikannya akan menjadi buta atau bisu. 

Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan konon ia masih hidup di sana sebagai seorang Chiranjiwin.



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Aswathama ksatria terakhir Kurawa yang dikutuk hidup abadi"

  1. LIVE BULL DI CF88 AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10%
    untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5%
    ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini

    BBM : D8B84EE1
    LINE : agens128
    Whatsapp : 087867202559

    BalasHapus