Ketika anak-anak harus berjuang (pertaruhkan nyawa) untuk sekolah

Bagi sebagian besar orang tua dan anak-anak, menyeberang jalan untuk berangkat sekolah adalah bagian paling berisiko ketika berangkat menuju sekolah. 

Tapi cobalah lihat bagaimana perjuangan anak-anak dari daerah terpencil ini menuju sekolah hanya untuk belajar. 

Tebing yang curam, arus sungai yang kencang dan dalam, jembatan yang terputus tetap tidak menyurutkan semangat mereka untuk memperoleh pelajaran dari sekolahnya.

Beberapa kisah perjalanan mereka mungkin akan terdengar luar biasa, tapi begitulah kehidupan anak-anak dari daerah terpencil yang mampu melewati berbagai rintangan hanya untuk sekedar mendapatkan ilmu baru di sekolahan. 


Di Sumatera, Indonesia, sekitar 20 murid berkemauan keras dari desa Batu Busuk harus tali berjalan 30 meter di atas sungai yang mengalir untuk sampai ke kelas tepat waktu dan kemudian berjalan lebih jauh tujuh mil melalui hutan ke sekolah mereka di kota Padang . Anak-anak itu harus melintasi jembatan dengan menjaga keseimbangannya selama dua tahun terakhir sejak jembatan gantung runtuh dalam hujan lebat.




Sementara itu di lokasi berbeda yaitu di desa Sanghiang Tanjung, anak-anak sekolah harus melintas jembatan gantung yang rusak sedangkan di bawahnya Sungai Ciberang mengalir dengan cukup deras dan dalam. Perjalanan anak-anak melintasi jembatan tersebut telah menarik perhatian seluruh dunia dan menjulukinya sebagai jembatan Indiana Jones. 

Setelah ramai diberitakan, sebuah jembatan baru dibangun oleh PT Krakatau Steel dengan pemerintah setempat menggantikan jembatan yang rusak akibat banjir pada Januari 2012. 






Di desa yang lain, anak-anak berjalan melalui saluran air yang menghubungkan Desa Suro dengan Desa Plempungan di Jawa, Indonesia. Anak-anak ini mengatakan lebih senang melintasi saluran air ini karena bisa sampai lebih cepat di sekolah mereka meski cukup berbahaya daripada harus berjalan lebih dari enam kilometer menuju sekolahnya.





Masalah seperti ini ternyata tidak hanya dialami anak-anak dari desa terpencil di Indonesia saja, tetapi terjadi juga di Filipina dan negara-negara lainnya. 

Di Filipina, anak-anak sekolah dasar ini harus menggunakan ban kendaraan untuk melintasi sungai dalam perjalanannya ke sekolah di sebuah desa terpencil di Provinsi Rizal, sebelah timur Manila.  Anak-anak ini harus berjalan selama satu jam sehari untuk menuju dan pulang sekolahnya. Namun ketika sungai tersebut sedang banjir, dengan terpaksa mereka tidak masuk sekolah atau menginap di rumah kerabat terdekat. Untungnya masyarakat di sana sangat peduli dan langsung mengajukan petisi kepada pemerintah daerah untuk segera memasang jembatan gantung untuk keperluan mereka dan penduduk dari desa terpencil. 






Jika di Filipina anak-anaknya menggunakan ban bekas kendaraan sebagai rakitnya, maka lain lagi dengan yang dialami oleh anak-anak sekolah dari Vietnam ini, Nasib mereka tidak seberuntung anak-anak Filipina, karena untuk menuju sekolahnya puluhan anak-anak mulai dari kelas 1 hingga kelas 5 sekolah dasar harus berenang dua kali sehari untuk menyeberangi sungai agar sampai sekolah tepat waktu di Trong Hoa Komune, distrik Minh Hoa. 

Untuk menjaga tas, pakaian, buku dan alat tulisnya dari basah, mereka menyimpannya dalam kantong plastik besar yang tertutup rapat ketika melintasi sungai tersebut dengan kondisi setengah telanjang. Setelah sampai di seberang sungai selebar 15 - 20 meter itu mereka akan kembali mengenakan pakaiannya.



Di Nepal , menggunakan gondola adalah salah satu hal yang bisa dilakukan agar bisa tiba di sekolahnya dengan tepat waktu, daripada harus berjalan naik turun bukit yang bisa mencapai berkilo-kilo meter jauhnya. Namun selama beberapa dekade, banyak anak-anak yang tewas atau cedera akibat terjatuh dari gondola yang berada di ketinggian itu. Untungnya, beberapa LSM berniat membangun jembatan yang aman dan membuat gondola yang aman untuk mengurangi kecelakaan. 



Di Colombia, anak-anak dari beberapa keluarga yang tinggal di hutan hujan, 40 km sebelah tenggara dari ibukota Bogota, bolak-balik melalui kabel baja yang menghubungkan satu sisi lembah yang lain. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai sekolah. Kabel baja sepanjang 800 meter yang terangkai 400m di atas permukaan tanah menderu di atas Rio Negro.



Di China, sekitar 80 anak-anak sekolah yang tinggal di Pili harus memulai perjalanan berbahayanya dengan melintasi 125 mil perjalanan melalui pegunungan Xinjiang di Daerah Otonomi Uighur. Anak-anak ini harus melewati bukit-bukit curam dan terjal, empat sungai yang sangat dingin dan beku, menyeberangi jembatan rantai sepanang 650 kaki, serta empat jembatan yang terbuat dari selembar papan. Perjalanan mereka memakan waktu hingga dua hari sebelum akhirnya tiba di sekolah mereka. 





Palestina, sebuah gambaran mencolok yang berhasil ditangkap kamera oleh fotografer Reuter Ammar Awad pada tahn 2010 silam. Ketika terjadi bentrokan antara pasukan Israel dan Palestina di kamp pengungsian Suhafat, dekat Yerusalem tampak seorang gadis dengan tenangnya berjalan menuju sekolah. Gadis tersebut berada di tengah lokasi bentrokan yang penuh dengan batu-batu antara kedua kubu yang bertikai tersebut. 


Kemauan keras dari para anak-anak sekolah yang kita lihat gambarannya di atas adalah wujud dari keinginan dan tekad mereka untuk bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan. Karena itu mereka sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah dan warga setempat dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai agar mereka bisa mencapai apa yang dicita-citakannya. 


Bagi sebagian besar orang tua dan anak-anak, menyeberang jalan untuk berangkat sekolah adalah bagian paling berisiko ketika berangkat menuju sekolah. 

Tapi cobalah lihat bagaimana perjuangan anak-anak dari daerah terpencil ini menuju sekolah hanya untuk belajar. 

Tebing yang curam, arus sungai yang kencang dan dalam, jembatan yang terputus tetap tidak menyurutkan semangat mereka untuk memperoleh pelajaran dari sekolahnya.

Beberapa kisah perjalanan mereka mungkin akan terdengar luar biasa, tapi begitulah kehidupan anak-anak dari daerah terpencil yang mampu melewati berbagai rintangan hanya untuk sekedar mendapatkan ilmu baru di sekolahan. 


Di Sumatera, Indonesia, sekitar 20 murid berkemauan keras dari desa Batu Busuk harus tali berjalan 30 meter di atas sungai yang mengalir untuk sampai ke kelas tepat waktu dan kemudian berjalan lebih jauh tujuh mil melalui hutan ke sekolah mereka di kota Padang . Anak-anak itu harus melintasi jembatan dengan menjaga keseimbangannya selama dua tahun terakhir sejak jembatan gantung runtuh dalam hujan lebat.




Sementara itu di lokasi berbeda yaitu di desa Sanghiang Tanjung, anak-anak sekolah harus melintas jembatan gantung yang rusak sedangkan di bawahnya Sungai Ciberang mengalir dengan cukup deras dan dalam. Perjalanan anak-anak melintasi jembatan tersebut telah menarik perhatian seluruh dunia dan menjulukinya sebagai jembatan Indiana Jones. 

Setelah ramai diberitakan, sebuah jembatan baru dibangun oleh PT Krakatau Steel dengan pemerintah setempat menggantikan jembatan yang rusak akibat banjir pada Januari 2012. 






Di desa yang lain, anak-anak berjalan melalui saluran air yang menghubungkan Desa Suro dengan Desa Plempungan di Jawa, Indonesia. Anak-anak ini mengatakan lebih senang melintasi saluran air ini karena bisa sampai lebih cepat di sekolah mereka meski cukup berbahaya daripada harus berjalan lebih dari enam kilometer menuju sekolahnya.





Masalah seperti ini ternyata tidak hanya dialami anak-anak dari desa terpencil di Indonesia saja, tetapi terjadi juga di Filipina dan negara-negara lainnya. 

Di Filipina, anak-anak sekolah dasar ini harus menggunakan ban kendaraan untuk melintasi sungai dalam perjalanannya ke sekolah di sebuah desa terpencil di Provinsi Rizal, sebelah timur Manila.  Anak-anak ini harus berjalan selama satu jam sehari untuk menuju dan pulang sekolahnya. Namun ketika sungai tersebut sedang banjir, dengan terpaksa mereka tidak masuk sekolah atau menginap di rumah kerabat terdekat. Untungnya masyarakat di sana sangat peduli dan langsung mengajukan petisi kepada pemerintah daerah untuk segera memasang jembatan gantung untuk keperluan mereka dan penduduk dari desa terpencil. 






Jika di Filipina anak-anaknya menggunakan ban bekas kendaraan sebagai rakitnya, maka lain lagi dengan yang dialami oleh anak-anak sekolah dari Vietnam ini, Nasib mereka tidak seberuntung anak-anak Filipina, karena untuk menuju sekolahnya puluhan anak-anak mulai dari kelas 1 hingga kelas 5 sekolah dasar harus berenang dua kali sehari untuk menyeberangi sungai agar sampai sekolah tepat waktu di Trong Hoa Komune, distrik Minh Hoa. 

Untuk menjaga tas, pakaian, buku dan alat tulisnya dari basah, mereka menyimpannya dalam kantong plastik besar yang tertutup rapat ketika melintasi sungai tersebut dengan kondisi setengah telanjang. Setelah sampai di seberang sungai selebar 15 - 20 meter itu mereka akan kembali mengenakan pakaiannya.



Di Nepal , menggunakan gondola adalah salah satu hal yang bisa dilakukan agar bisa tiba di sekolahnya dengan tepat waktu, daripada harus berjalan naik turun bukit yang bisa mencapai berkilo-kilo meter jauhnya. Namun selama beberapa dekade, banyak anak-anak yang tewas atau cedera akibat terjatuh dari gondola yang berada di ketinggian itu. Untungnya, beberapa LSM berniat membangun jembatan yang aman dan membuat gondola yang aman untuk mengurangi kecelakaan. 



Di Colombia, anak-anak dari beberapa keluarga yang tinggal di hutan hujan, 40 km sebelah tenggara dari ibukota Bogota, bolak-balik melalui kabel baja yang menghubungkan satu sisi lembah yang lain. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai sekolah. Kabel baja sepanjang 800 meter yang terangkai 400m di atas permukaan tanah menderu di atas Rio Negro.



Di China, sekitar 80 anak-anak sekolah yang tinggal di Pili harus memulai perjalanan berbahayanya dengan melintasi 125 mil perjalanan melalui pegunungan Xinjiang di Daerah Otonomi Uighur. Anak-anak ini harus melewati bukit-bukit curam dan terjal, empat sungai yang sangat dingin dan beku, menyeberangi jembatan rantai sepanang 650 kaki, serta empat jembatan yang terbuat dari selembar papan. Perjalanan mereka memakan waktu hingga dua hari sebelum akhirnya tiba di sekolah mereka. 





Palestina, sebuah gambaran mencolok yang berhasil ditangkap kamera oleh fotografer Reuter Ammar Awad pada tahn 2010 silam. Ketika terjadi bentrokan antara pasukan Israel dan Palestina di kamp pengungsian Suhafat, dekat Yerusalem tampak seorang gadis dengan tenangnya berjalan menuju sekolah. Gadis tersebut berada di tengah lokasi bentrokan yang penuh dengan batu-batu antara kedua kubu yang bertikai tersebut. 


Kemauan keras dari para anak-anak sekolah yang kita lihat gambarannya di atas adalah wujud dari keinginan dan tekad mereka untuk bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan. Karena itu mereka sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah dan warga setempat dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai agar mereka bisa mencapai apa yang dicita-citakannya. 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika anak-anak harus berjuang (pertaruhkan nyawa) untuk sekolah"

Posting Komentar