Musim kemarau, daerah ini justru berlimpah air bersih

Musim kemarau yang terjadi di beberapa daerah di Nusantara terjadi akibat fenomena El Nino. Krisis air bersih pun terjadi di hampir semua daerah, mengkonsumsi air kotor kini jadi sesuatu yang biasa untuk mengakali kekeringan. Tapi ada yang berbeda, para penduduk di lerang selatan Gunung Slamet terutama di Banyumas, Jawa Tengah justru tidak mengalami krisis air. Air di desa mereka justru selalu berlimpah, bahkan mereka sengaja 'membuang' air-air bersih hanya karena bak air milik mereka tak mampu menampungnya. 


"Kalau tidak dibuang, kasihan nanti para petani yang ada di bagian bawah desa ini," kata Agus Murod, 45 warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Banyumas seperti dikutip dari mongabay.co.id. 


Sungai Prukut di Dusun Pesawahan Desa Sambirata Banyumas yang tetap mengalirkan airnya meski musim kemarau panjang melanda beberapa daerah di Indonesia. Foto: L. Darmawan | Mongabay.co.id

Hampir seluruh warga di desa setempat menggantungkan air bersih yang bersumber dari mata air yang tersebar di seluruh perbukitan setempat. Di kawasan perbukitan yang merupakan bagian dari lereng sebelah barat daya Gunung Slamet ini memang sangat kaya akan sumber mata airnya. Dari beberapa sumber mata air yang ada, sumber mata air Bunton adalah yang terbesar. Walau begitu, warga setempat umumnya lebih senang memanfaatkan sumber mata ar yang kecil-kecil saja, karena walaupun di musim kemarau panjang seperti ini, namun airnya tetap berlimpah. 


Untuk mengalirkan air-air tersebut ke rumah mereka, warga menggunakan sebuah bak penampungan. Dari penampungan itu, air kemudian dibagi-bagi. "Umumnya, penduduk di sini terus mengalirkan airnya, meski sudah penuh. Jadi, istilah airnya harus 'dibuang' itu adalah supaya air tetap mengalir ke tempat yang lebih rendah. Sebab, air tersebut masih banyak dibutuhkan oleh desa-desa lain yang ada di bawah seperti Desa Banjaranyar, Pasiraman Lor dan Pasiraman Kidul. Bukan saja untuk sawah tapi juga untuk kolam ikan," katanya. 


Bahkan menurut Agus, warga di sini justru lebih suka dengan air pada musim kemarau, lantaran air pada saat musim kemaru ini lebih bersih dan lebih dingin. "Kalau pada musim kemarau seperti saat ini, air benar-benar murni dari sumber mata air, sedangkan pada musim penghujan, airnya agak kecoklatan karena sudah bercampur tanah, tapi masih tetap bagus setelah diendapkan," tambahnya. 


Berkah lereng Gunung Slamet sebelah selatan juga bisa dirasakan oleh warga di Desa Dunung Lurah, Kecamatan Cilongkok, Banyumas. Tepatnya di Dusun Pesawahan, warga tidak hanya memanfaatkan air dari mata air Krangenan untuk kebutuhan hariannya saja, namun juga mata air itu dimanfatkan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas 30 kilowatt. 


Berlimpahnya sumber air di kawasan tersebut tak lain adalah karena kemauan warga setempat untuk menjaga dan melestarikan alam sekitarnya. Sehingga alam pun seolah berterima kasih dengan menyediakan sumber air yang banyak meskipun pada musim kemarau panjang seperti pada saat ini. Karena itu pula sejak jaman dahulu, warga yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi memang tidak pernah merasakan musim kering atau kekeringan.

Sumber: Mongabay.co.id
Musim kemarau yang terjadi di beberapa daerah di Nusantara terjadi akibat fenomena El Nino. Krisis air bersih pun terjadi di hampir semua daerah, mengkonsumsi air kotor kini jadi sesuatu yang biasa untuk mengakali kekeringan. Tapi ada yang berbeda, para penduduk di lerang selatan Gunung Slamet terutama di Banyumas, Jawa Tengah justru tidak mengalami krisis air. Air di desa mereka justru selalu berlimpah, bahkan mereka sengaja 'membuang' air-air bersih hanya karena bak air milik mereka tak mampu menampungnya. 


"Kalau tidak dibuang, kasihan nanti para petani yang ada di bagian bawah desa ini," kata Agus Murod, 45 warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Banyumas seperti dikutip dari mongabay.co.id. 


Sungai Prukut di Dusun Pesawahan Desa Sambirata Banyumas yang tetap mengalirkan airnya meski musim kemarau panjang melanda beberapa daerah di Indonesia. Foto: L. Darmawan | Mongabay.co.id

Hampir seluruh warga di desa setempat menggantungkan air bersih yang bersumber dari mata air yang tersebar di seluruh perbukitan setempat. Di kawasan perbukitan yang merupakan bagian dari lereng sebelah barat daya Gunung Slamet ini memang sangat kaya akan sumber mata airnya. Dari beberapa sumber mata air yang ada, sumber mata air Bunton adalah yang terbesar. Walau begitu, warga setempat umumnya lebih senang memanfaatkan sumber mata ar yang kecil-kecil saja, karena walaupun di musim kemarau panjang seperti ini, namun airnya tetap berlimpah. 


Untuk mengalirkan air-air tersebut ke rumah mereka, warga menggunakan sebuah bak penampungan. Dari penampungan itu, air kemudian dibagi-bagi. "Umumnya, penduduk di sini terus mengalirkan airnya, meski sudah penuh. Jadi, istilah airnya harus 'dibuang' itu adalah supaya air tetap mengalir ke tempat yang lebih rendah. Sebab, air tersebut masih banyak dibutuhkan oleh desa-desa lain yang ada di bawah seperti Desa Banjaranyar, Pasiraman Lor dan Pasiraman Kidul. Bukan saja untuk sawah tapi juga untuk kolam ikan," katanya. 


Bahkan menurut Agus, warga di sini justru lebih suka dengan air pada musim kemarau, lantaran air pada saat musim kemaru ini lebih bersih dan lebih dingin. "Kalau pada musim kemarau seperti saat ini, air benar-benar murni dari sumber mata air, sedangkan pada musim penghujan, airnya agak kecoklatan karena sudah bercampur tanah, tapi masih tetap bagus setelah diendapkan," tambahnya. 


Berkah lereng Gunung Slamet sebelah selatan juga bisa dirasakan oleh warga di Desa Dunung Lurah, Kecamatan Cilongkok, Banyumas. Tepatnya di Dusun Pesawahan, warga tidak hanya memanfaatkan air dari mata air Krangenan untuk kebutuhan hariannya saja, namun juga mata air itu dimanfatkan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas 30 kilowatt. 


Berlimpahnya sumber air di kawasan tersebut tak lain adalah karena kemauan warga setempat untuk menjaga dan melestarikan alam sekitarnya. Sehingga alam pun seolah berterima kasih dengan menyediakan sumber air yang banyak meskipun pada musim kemarau panjang seperti pada saat ini. Karena itu pula sejak jaman dahulu, warga yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi memang tidak pernah merasakan musim kering atau kekeringan.

Sumber: Mongabay.co.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Musim kemarau, daerah ini justru berlimpah air bersih"

Posting Komentar