Tat-tit-tut dari dingdong hingga playstation

Sejarah game konsol di dunia

16 tahun lalu tepatnya tanggal 20 April 1999 di Colorade, Amerika Serikat dua orang remaja usia 18 tahun menembaki teman dan guru sekolanya di SMA Colombine. Dalam kejadian tersebut 12 orang murid dan seorang guru tewas, sedangkan 24 lainnya terluka. Aksi brutal Eric David Harris dan Dyland Klebold tersebut ternyata terinspirasi oleh sebuah permainan video game, DOOM II.  Sebuah permainan tembak-tembakan yang dibuat pertama kalinya pada tahun 1993. 

Kisah tragis akibat video game lainnya terjadi pada tanggal 7 Juni 2013, seorang pria bernama Devin Moore ditangkap setelah melakukan beberapa tindakan kriminal di antaranya mencuri mobil, menembak dua orang polisi dan seorang operator sampai tewas. Aksi Moore tersebut terinspirasi oleh game besutan Rockstar yaitu Grand Theft Auto (GTA). 


Terlepas dari aksi-aksi jagoan tersebut,  popularitas video game tidak pernah surut terutama di kalangan anak-anak dan remaja.  Perusahaan-perusahaan video game terus mengembangkan berbagai strategi guna meningkatkan angka penjualan console dan game-game mereka termasuk memasukkan unsur-unsur kekerasan. 


Video game memang identik dengan kekerasan, bakan asal usul video game ini erat kaitannya dengan perang. Pada awalnya, video game berasal dari pengembangan tabung sinar katoda yang terdapat dalam sistem peluru pertahanan pada akhir Perang Dunia II. Program-progam awal tersebut kemudian diadaptasikan menjadi sebuah bentuk permainan sederhana. 


Di tahun 1947, Thomas Toliver Goldsmith Jr dan Estle Ray Mann berhasil menciptakan sebuah permainan simulator yang mereka berinama Rudal Cathode Ray Tube Device Amusement. Permainan mereka terinspirasi oleh kecanggihan radar dalam Perang Dunia II. Permainan tersebut inilah yang menjadi permainan elektronik pertama dalam sejarah. 



Walaupun memiliki unsur 'bermain game' namun permainan ini kurang begitu populer lantaran penggunaan terbatas pada kepentingan simulasi latihan militer. Grafiknya juga masih sangat-sangat-sangat sederhana dan hanya mengeluarkan suara tat-tit-tut saja.


Barulah sekitar tahun 1970 permainan elektronik mulai masuk ke rumah-rumah. Teknologi video game pertama itu diciptakan oleh seorang Jerman keturunan Yahudi, Ralph Baer.  Baer menjual idenya ke Perusahaan Magnafox. Mereka kemudian membuat prototype video game yang bernama Brown Box. Alat buatan Baer ini kemudian dirilis ke pasaran denan nama Magnafox Odyssey, yang berisikan 16 permainan di dalamnya yang bisa diganti-ganti dengan menggunakan sebuah switch. permainan itu pun cukup populer  dan membuat Ralph Baer mendapat julukan sebagai "Bapak Game Dunia". 


 
Perkembangan game terus berlanjut, dan popularitasnya kian menanjak setelah seorang pengusaha Nolan Bushnell mendesain sebuah game arcade pertama di dunia yang diberi nama Computer space. Perangkat ini mengandalkan sistem koin untuk menyalakannya, di Indonesia permainan ini dikenal dengan sebutan mesin Ding-Dong. 


Game simulasi pertama yang dibuat Bushnell adalah permainan bola pingpong yang bernama Pong. Game ini cukup laris di pasaran, hampis setiap keluara di Amerika bermimpi bisa memiliki game ini. Di berbagai taman hiburan dan kafe, orang-orang bahkan rela antri demi bisa memainkannya. Bahkan pihak pengelola pun harus membongkar mesinnya setiap 24 jam untuk mengeluarkan koin yang berjejalan di dalamnya. 



Tidak puas dengan Pong, Bushnell kembali memberikan kejutan dengan diluncurkannya Atari 2600, teknologi permainan yang berbasis konsol untuk menjalankannya. Setelah itu ia kembali menggebrak publik dengan Atari 7800 yang disebut-sebut sebagai pelopor penggunaan joystick. 


Namun kejayaan Atari tidak mampu bertahan lama, sistem permainan dan grafik yang tidak ada perubahan dalam setiap gamenya membuat pasar menjadi bosan. Angka penjualan terus merosot yang membuat sebagian perusahaan game Amerika mengalihkan usahanya ke bisnis lain atau bangkrut. Kaum eksekuti dan para analis industri melihat hal ini sebagai tanda bahwa video game hanyalah sebuah keisengan. 



Di tengah keterpurukan Atari, muncul pendatang baru dari Jepang, Nintendo yang menggebrak pasar video game dunia dengan mesin konsol paling modern, Famicom. Dibandingkan Atari, konsol Famicom sudah dilengkapi dengan grafik dan animasi yang beresolusi tinggi untuk pertama kalinya. 



Kemunculan Famicom yang disambut dengan sangat antusias oleh banyak keluarga di Jepang membuatnya melakukan ekspansi pasar ke Amerika.
Sekitar tahun 1989, Nintento berhasil mengendalikan 0 persen pasar video game di Amerika dan dunia. Tahun 1990 saja, satu dari lima keluarga di yang tinggal di Amerika pasti memiliki konsol permainan Nintendo. 


Keberhasilan Nintendo merajai pasar dan memanjakan para penggemarnya dengan game-game berbasis kartidge baru yang terus bermunculan membuat para pesaingnya tidak mampu mengejar ketinggalannya. Bahkan perusahaan konsol tandingan, SEGA yang memunculkan SONIC The Hedgehog sering kalah cepat dalam pengembangan permainannya. 


Pada tahun 1994, Nintendo punya pesaing yang tidak bisa dianggap enteng. Sony, sebuah perusahaan elektronik terkemuka di dunia meluncurkan perangkat konsol Sony Playstation (PSX) yang menggunakan kepingan CD untuk menjalankan permainannya. 

  


PSX berhasil terjual hingga ratusan juta unit, bahkan belum usai fenomena PSX, SONY kembali menggebrak pasar dan pecinta game dengan konsol terbarunya Sony Playstation 2 yang sudah berbasis DVD dengan tampilan grafik yang lebih realistis dibanding versi terdahulunya.


Perang Bit pun dimulai, Nintendo meluncurkan N64, Sega dengan Dreamcastnya, dan Xbok milik Microsoft mengeluarkan produk-produk mereka yang paling gres, namun tetap tidak bisa mengalahkan Sony dengan Playstationnya. 


Satu satu konsol tersebut bertumbangan, namun begitu mereka tetap mengeluarkan produk-produk terbaru mereka untuk dipasarkan. Nintendo menciptakan Wii, Microsoft dengan Xbox 360 sedangkan SEGA tewas!. 


Selama tahun 2005, konsol-konsol tersebut memanfaatkan media HD-DVD dengan segudan fitur-fitur istimwanya. Kini persaingan beralih secara halus, dari perangkat konsol menjadi inovasi dan penemuan baru. Nntendo berhasil kembali merajai pasar dengan stik kontrol yang mereka sebut "Motion Sensitive", mengalahkan Sony dengan Playstation 3 nya. 


Untuk membalas kekalahannya, Sony meluncurkan sebuah perangkat konsol terbaru dengan prosesor dan kartu grafis yang lebih canggih yaitu Sony Playstation 4 atau disingkat PS4. Dengan tampilan grafik yang hampir nyata, membuat konsol ini merajai pasaran dunia. 



Namun persaingan tidak lantas terhenti di sini, karena kabarnya Apple, sebuah perusahaan terkemuka yang sukses dengan notebook, iPod, iPad, dan iPhone itu mempunyai rencana untuk terjun ke industri konsol video game. Persaingan pun diperkirakan akan jadi lebih ketat di antara Sony, Nintendo dan Microsoft. 


Siapa yang akan jadi pemenangnya, kita jugalah yang akan menikmati hasilnya selama tidak bertingkah seperti Eric dan Dyland di Colorado, Amerika.


Sejarah game konsol di dunia

16 tahun lalu tepatnya tanggal 20 April 1999 di Colorade, Amerika Serikat dua orang remaja usia 18 tahun menembaki teman dan guru sekolanya di SMA Colombine. Dalam kejadian tersebut 12 orang murid dan seorang guru tewas, sedangkan 24 lainnya terluka. Aksi brutal Eric David Harris dan Dyland Klebold tersebut ternyata terinspirasi oleh sebuah permainan video game, DOOM II.  Sebuah permainan tembak-tembakan yang dibuat pertama kalinya pada tahun 1993. 

Kisah tragis akibat video game lainnya terjadi pada tanggal 7 Juni 2013, seorang pria bernama Devin Moore ditangkap setelah melakukan beberapa tindakan kriminal di antaranya mencuri mobil, menembak dua orang polisi dan seorang operator sampai tewas. Aksi Moore tersebut terinspirasi oleh game besutan Rockstar yaitu Grand Theft Auto (GTA). 


Terlepas dari aksi-aksi jagoan tersebut,  popularitas video game tidak pernah surut terutama di kalangan anak-anak dan remaja.  Perusahaan-perusahaan video game terus mengembangkan berbagai strategi guna meningkatkan angka penjualan console dan game-game mereka termasuk memasukkan unsur-unsur kekerasan. 


Video game memang identik dengan kekerasan, bakan asal usul video game ini erat kaitannya dengan perang. Pada awalnya, video game berasal dari pengembangan tabung sinar katoda yang terdapat dalam sistem peluru pertahanan pada akhir Perang Dunia II. Program-progam awal tersebut kemudian diadaptasikan menjadi sebuah bentuk permainan sederhana. 


Di tahun 1947, Thomas Toliver Goldsmith Jr dan Estle Ray Mann berhasil menciptakan sebuah permainan simulator yang mereka berinama Rudal Cathode Ray Tube Device Amusement. Permainan mereka terinspirasi oleh kecanggihan radar dalam Perang Dunia II. Permainan tersebut inilah yang menjadi permainan elektronik pertama dalam sejarah. 



Walaupun memiliki unsur 'bermain game' namun permainan ini kurang begitu populer lantaran penggunaan terbatas pada kepentingan simulasi latihan militer. Grafiknya juga masih sangat-sangat-sangat sederhana dan hanya mengeluarkan suara tat-tit-tut saja.


Barulah sekitar tahun 1970 permainan elektronik mulai masuk ke rumah-rumah. Teknologi video game pertama itu diciptakan oleh seorang Jerman keturunan Yahudi, Ralph Baer.  Baer menjual idenya ke Perusahaan Magnafox. Mereka kemudian membuat prototype video game yang bernama Brown Box. Alat buatan Baer ini kemudian dirilis ke pasaran denan nama Magnafox Odyssey, yang berisikan 16 permainan di dalamnya yang bisa diganti-ganti dengan menggunakan sebuah switch. permainan itu pun cukup populer  dan membuat Ralph Baer mendapat julukan sebagai "Bapak Game Dunia". 


 
Perkembangan game terus berlanjut, dan popularitasnya kian menanjak setelah seorang pengusaha Nolan Bushnell mendesain sebuah game arcade pertama di dunia yang diberi nama Computer space. Perangkat ini mengandalkan sistem koin untuk menyalakannya, di Indonesia permainan ini dikenal dengan sebutan mesin Ding-Dong. 


Game simulasi pertama yang dibuat Bushnell adalah permainan bola pingpong yang bernama Pong. Game ini cukup laris di pasaran, hampis setiap keluara di Amerika bermimpi bisa memiliki game ini. Di berbagai taman hiburan dan kafe, orang-orang bahkan rela antri demi bisa memainkannya. Bahkan pihak pengelola pun harus membongkar mesinnya setiap 24 jam untuk mengeluarkan koin yang berjejalan di dalamnya. 



Tidak puas dengan Pong, Bushnell kembali memberikan kejutan dengan diluncurkannya Atari 2600, teknologi permainan yang berbasis konsol untuk menjalankannya. Setelah itu ia kembali menggebrak publik dengan Atari 7800 yang disebut-sebut sebagai pelopor penggunaan joystick. 


Namun kejayaan Atari tidak mampu bertahan lama, sistem permainan dan grafik yang tidak ada perubahan dalam setiap gamenya membuat pasar menjadi bosan. Angka penjualan terus merosot yang membuat sebagian perusahaan game Amerika mengalihkan usahanya ke bisnis lain atau bangkrut. Kaum eksekuti dan para analis industri melihat hal ini sebagai tanda bahwa video game hanyalah sebuah keisengan. 



Di tengah keterpurukan Atari, muncul pendatang baru dari Jepang, Nintendo yang menggebrak pasar video game dunia dengan mesin konsol paling modern, Famicom. Dibandingkan Atari, konsol Famicom sudah dilengkapi dengan grafik dan animasi yang beresolusi tinggi untuk pertama kalinya. 



Kemunculan Famicom yang disambut dengan sangat antusias oleh banyak keluarga di Jepang membuatnya melakukan ekspansi pasar ke Amerika.
Sekitar tahun 1989, Nintento berhasil mengendalikan 0 persen pasar video game di Amerika dan dunia. Tahun 1990 saja, satu dari lima keluarga di yang tinggal di Amerika pasti memiliki konsol permainan Nintendo. 


Keberhasilan Nintendo merajai pasar dan memanjakan para penggemarnya dengan game-game berbasis kartidge baru yang terus bermunculan membuat para pesaingnya tidak mampu mengejar ketinggalannya. Bahkan perusahaan konsol tandingan, SEGA yang memunculkan SONIC The Hedgehog sering kalah cepat dalam pengembangan permainannya. 


Pada tahun 1994, Nintendo punya pesaing yang tidak bisa dianggap enteng. Sony, sebuah perusahaan elektronik terkemuka di dunia meluncurkan perangkat konsol Sony Playstation (PSX) yang menggunakan kepingan CD untuk menjalankan permainannya. 

  


PSX berhasil terjual hingga ratusan juta unit, bahkan belum usai fenomena PSX, SONY kembali menggebrak pasar dan pecinta game dengan konsol terbarunya Sony Playstation 2 yang sudah berbasis DVD dengan tampilan grafik yang lebih realistis dibanding versi terdahulunya.


Perang Bit pun dimulai, Nintendo meluncurkan N64, Sega dengan Dreamcastnya, dan Xbok milik Microsoft mengeluarkan produk-produk mereka yang paling gres, namun tetap tidak bisa mengalahkan Sony dengan Playstationnya. 


Satu satu konsol tersebut bertumbangan, namun begitu mereka tetap mengeluarkan produk-produk terbaru mereka untuk dipasarkan. Nintendo menciptakan Wii, Microsoft dengan Xbox 360 sedangkan SEGA tewas!. 


Selama tahun 2005, konsol-konsol tersebut memanfaatkan media HD-DVD dengan segudan fitur-fitur istimwanya. Kini persaingan beralih secara halus, dari perangkat konsol menjadi inovasi dan penemuan baru. Nntendo berhasil kembali merajai pasar dengan stik kontrol yang mereka sebut "Motion Sensitive", mengalahkan Sony dengan Playstation 3 nya. 


Untuk membalas kekalahannya, Sony meluncurkan sebuah perangkat konsol terbaru dengan prosesor dan kartu grafis yang lebih canggih yaitu Sony Playstation 4 atau disingkat PS4. Dengan tampilan grafik yang hampir nyata, membuat konsol ini merajai pasaran dunia. 



Namun persaingan tidak lantas terhenti di sini, karena kabarnya Apple, sebuah perusahaan terkemuka yang sukses dengan notebook, iPod, iPad, dan iPhone itu mempunyai rencana untuk terjun ke industri konsol video game. Persaingan pun diperkirakan akan jadi lebih ketat di antara Sony, Nintendo dan Microsoft. 


Siapa yang akan jadi pemenangnya, kita jugalah yang akan menikmati hasilnya selama tidak bertingkah seperti Eric dan Dyland di Colorado, Amerika.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tat-tit-tut dari dingdong hingga playstation "

Posting Komentar