Kisah Ken Arok dan kutukan keris Mpu Gandring

Cerita megenai keris Mpu Gandring dan Ken Arok telah lama dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai legenda sepanjang masa. 

Diceritakan bahwa keris ini telah diberi kutukan oleh si pembuatnya yaitu Mpu Gandring akan menjadi keris yang akan membawa malapetaka.

Kisah mengenai keris yang dikutuk tersebut diceritakan dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (1478 - 1489 ). 

Namun diluar kisah mengenai keris itu,  legenda ini juga menggambarkan bagaimana suksesi berdarah dalam perjalanan Kerajaan Singosari yang didirikan ole Ken Arok.


Kutukan keris Mpu Gandring

Dalam perjalanan sejarahnya, keris kutukan Mpu Gandring ini telah merenggut enam korban yang semuanya memiliki hubungan dengan Ken Arok. 


Kematian Mpu Gandring 


Pada suatu masa, Ken Arok merasa terpesona oleh kecantikan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Arok pernah mendengar dari pendeta Lohgawe bahwasanya siapa orang yang berhasil menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya, maka orang itu akan menjadi raja besar. Dengan ambisinya yang besar, Ken Arok bertekad untuk membunuh Tunggul Ametung. 


Ayah angkat Ken Arok, Bango Samparan mengetahui niatan putra angkatnya itu lalu memberi sarang agar Ken Arok memesan keris pada sahabat karibnya, Mpu Gandring yang pada waktu itu dikenal sebagai seorang pembuat keris yang ampuh di Lulumbang. 


Tak butuh waktu lama, Ken Arok segera berangkat menemui Mpu Gandring. Ia meminta agar keris yang dipesannya itu bisa selesai dalam waktu lima bulan, namun Mpu Gandring meminta waktu satu tahun untuk proses pembuatannya.
 

Setelah lima bulan kemudian, Ken Arok kembali mengunjungi si pandai besi itu untuk mengambil keris pesanannya. Sesampainya di sana ia mendapati Mpu Gandring tengah mengasah keris pesanannya, oleh karena belum selesai Mpu Gandring menolak memberikan keris tersebut pada Ken Arok. Merasa tidak sabar menunggu hingga beberapa bulan lagi, Ken Arok pun merebut keris itu dan menikam Mpu Gandring. 

Namun sebelum tewas, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok dan tujuh turunannya akan mati oleh keris tersebut. Merasa bersalah, Ken Arok pun berjanji kalau cita-citanya menjadi raja berhasil terwujud, maka ia akan menunjukkan rasa terimakasi kepada keturunan Mpu Gandring. 


Kematian Tunggul Ametung 


Semasa berada di Tumapel, Ken Arok berkawan akrab dengan Kebo Ijo, seorang yang sangat dekat dan dipercaya oleh Tunggul Ametung.  Dengan cerdiknya, Ken Arok berhasil membuat Kebo Ijo tertarik pada keris berukiran kayu cangkring yang dimilikinya. Ia pun meminjamkan keris tersebut pada Kebo Ijo. 


Kebo Ijo dengan bangganya memamerkan keris tersebut pada semua orang di Tumapel. Pada suatu malam, Ken Arok mengambil keris tersebut dengan diam-diam dari Kebo Ijo. Keris itu kemudian digunakannya untuk menikam Tunggul Ametung yang sedang tertidur lelap dan meninggalkan keris tersebut tetap tertancap di dadanya. 


Kematian Kebo Ijo


Kematian Tunggul Ametung membuat heboh semua orang di Tumapel apalagi keris yang masih menancap itu diketahui milik Kebo Ijo yang sebelumnya pernah dipamer-pamerkan.  Mereka pun segera menuduhnya sebagai pembunuh Tunggul Ametung, lalu mengeroyok dan membunuh Kebo Ijo dengan kerisnya itu. 


Sedangkan Ken Arok, ia melenggang dengan bebasnya karena terbebas dari tuduhan namun tetap saja ia tidak terbebas dari kutukan Mpu Gandring.  Saat melihat Kebo Randi yang masih kecil menangisi kematian ayahnya, Kebo Ijo, Ken Arok pun merasa iba lalu mengangkatnya menjadi seorang  abdi (pekatik).


Usai peristiwa itu, Ken Arok pun melancarkan rayuannya pada Ken Dedes dan berhasil memperistrinya. Tidak ada satupun orang Tumapel yang berani mengganggu gugat, termasuk juga keluarga Tunggul Ametung. 


Apa yang telah diramalka oleh pendeta Lohgawe pun terbukti, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya alias Dandang gelis. Ia pun mendirikan Kerajaan Singasari pada tahun 1222. 


Kematian Ken Arok 


Saat Ken Dedes diperistri oleh Ken Arok, ia sebenarnya tengah mengandung tiga bulan, hasil hubungannya dengan Tunggul Ametung. Saat anaknya lahir, kemudian diberinama Anusapati. 


Dari hubungannya dengan Ken Arok, Ken Dedes melahirkan tiga putra dan satu putri yang masing-masing bernama Mahisa wunga Teleng, Panji Saprang, Agni Bhaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari pernikahannya dengan Ken Umang, ia mendapatkan tida putra dan seorang putri yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi. 


Selama hidupnya, Ken Dedes selalu merahasiakan kematian suami pertamanya, Tunggul Ametung. Namun saat Anusapati sudah dewasa, ia bertanya pada ibunya mengapa Sang Amurwabhumi (Ken Arok) memperlakukannya berbeda dibanding saudara-saudaranya yang lain. Ia pun bertanya kenapa Mahisa wunga Teleng yang dinobatkan sebagai raja Kediri bukan dirinya yang merupakan saudara tertua mereka. 


Ken Dedes pun akhirnya membongkar rahasia yang selama ini dipendamnya. Anusapati bukanlah anak kandung Ken Arok, ia hanyalah seorang anak tiri yang ayahnya telah mati dibunuh oleh Ken Arok. Mendengar hal itu, naik pitamlah Anusapati. Ia pun meminta keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan oleh Ken Dedes. 


Senja hari pada tahun 1247 atau dalam Negarakertagama disebutkan tahun 1227, Anusapati menyuruh Ki Pengalasan dari Desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ki Pengalasan berhasil menjalankan misinya dengan membunuh Ken Arok yang sedang makan. 


Kematian Ki Pengalasan 


Misi berhasil, Ki Pengalasan pun melaporkan kabar baik itu pada sang majikan. Anusapati pun segera memberinya hadiah. Namun lantaran takut Ki Pengalasan membuka rahasia siapa yang telah menyuruhnya membunuh Ken Arok, ia pun kemudian membunuhnya. 


Kematian Anusapati 


Setelah kematian Ken Arok, Anusapati kemudian dinobatkan sebagai raja Singasari. Namun Anusapati menjadi orang yang selalu merasa khawatir akan keselamatan jiwanya, sampai-sampai dibuatkan selokan mengelilingi kamar tidurnya dan halamannya dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaannya. 


Panji Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang mengetahui bahwa Ki Pengalasan hanyalah orang suruhan Anusapati yang diberi misi menghabisi ayahnya. Ia pun melakukan siasat dengan berpura-pura mengajak Anusapati menyabung ayam.  Saat itu ia berhasil meminjam keris Mpu Gandring dari Anusapati lalu menukarkannya dengan keris lain. 


Saking terlenanya dengan sabung ayam membuat Anusapati dengan mudah dibunuh oleh Tohjaya. Anusapati bersimpuh bersimpah darah dengan keris Mpu Gandring menancap di dadanya.  Kejadian tewasnya Anusapati terjadi pada tahun 1249 , namun dalam Negarakertagama disebutkan kalau Anusapati mati dengan cara yang wajar. 


Kematian Tohjaya 


Meski bukan mati disebabkan oleh keris Mpu Gandring, namun kematian Tohjaya masih memiliki kaitan dengan kisah-kisah sebelumnya.
Semasa berkuasa, Tohjaya sering diliputi oleh rasa cemas dan ketakutan, kecurigaannya bertambah besar pada Rangga Wuni, anak dari Anusapati. 


Rangga Wuni yang menyimpan dendam atas kematian sang ayahanda, mencari bantuan dan bersekutu dengan Mahisa Campaka, anak Mahisa Wunga Teleng yang tidak terima tahta kerajaan Kediri dipegang oleh Tohjaya. 


Pada suatu masa, Rangga Wuni melakukan pemberontakan dengan menyerang istana. Dalam peristiwa itu, Tohjaya berhasil melarikan diri. Namun karena luka-luka yang dideritanya termasuk parah, Tohjaya pun tewas dalam pelariannya. 


Setelah itu, Rangga Wuni naik tahta dan memerintah Kerajaan Singasari dan menyandang gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Sedangkan Mahisa Cempaka ikut memerintah dengan gelar Narasimhamurti. Mereka berdua melakukan penyatuan Kerajaan Singasari dan Kediri. Negarakertagama mengibaratkan keduanya sebagai Wisnu dan Indra. 



Sejak saat itu lenyaplah kutukan keris Mpu Gandring yang juga mengakhiri peristiwa-peristiwa berdarah yang pernah terjadi antara keturunan Ken Arok dengan Tunggul Ametung. 


Sumber dan Referensi:
Historia.id
Wikipedia.com


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Ken Arok dan kutukan keris Mpu Gandring "

Posting Komentar