Kisah Sarinah bukan lagi toko murah

Peristiwa teror bom dan penembakan di depan Sarinah Thamrin, Jakarta telah membuka mata kita bahwa teror bukanlah sesuatu yang harus ditakuti tapi justru harus dihadapi bersama-sama.  

Seperti keramaian yang terjadi beberapa hari lalu, keramaian yang sama pernah terjadi di kawasan ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat itu, tanggal 17 Agustus 1962, Presiden Sukarno meletakkan batu pertama pembangunan department store pertama di Indonesia yang diberi nama: Sarinah


Sarinah

 
Siapakah Sarinah?

Sarinah adalah nama seorang pengasuh Sukarno sejak kecil. Ia merupakan perempuan desa yang mengajari Sukarno akan cinta dan kasih sayang. Sarinah pula yang mengajarinya untuk mencintai rakyat. 


 
Ajaran kemanusiaan yang bergulir setiap pagi, setiap kali Sarinah memasak di gubuk kecilnya dengan Sukarno kecil duduk disampingnya, Sarinah kerap berpidato.

“Karno, pertama engkau harus mencintai ibumu. Kemudian, kamu harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.”


Sarinah adalah toko murah bukan toko mewah


Gagasan mendirikan department store itu lantaran seringnya ia melihat keberadaan department store bermodel kerakyatan dalam setiap kunjungannya ke berbagai negara.


Dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada tanggal 15 Januari 1966, Sukarno kembali menegaskanbahwa Sarinah diperlukan untuk sosialistische economie (ekonomi sosialis). 


“Tidak ada satu negara sosialis tidak mempunyai satu distrubusi legal, tidak mempunyai department store. Datanglah ke Hanoi, ada. Datanglah ke Peking, ada. Datanglah ke Nanking, ada. Datanglah ke Shanghai, ada. Datanglah ke Moskow, ada. Datanglah ke Budapest, ada. Datanglah ke Praha, ada,” tandas Sukarno.


Selain sebagai alat distribusi legal, Sarinah berfungsi untuk menurunkan dan menekan harga atau sebagai "prijs stabilisator", sehingga orang-orang diluar department store tidak berani menjual harga dengan lebih tinggi. 


Sukarno juga mengingatkan bahwa sebagian besar barang yang dijual di Sarinah haruslah barang berdikari, alias barang buatan Indonesia. “Yang boleh impor hanya 40%. Tidak boleh lebih. 60% mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri,” kata Bung Karno. 


Untuk mewujudkan pembangunan Sarinah, Sukarno kemudian menunjuk R.Soeharto selaku Menteri Muda Perindustrian Rakyat yang juga dokter pribadinya untuk menjadi presiden direktur PT. Department Store Sarinah.
Dalam mewujudkan misi membangun sebuah toko murah bukan toko mewah, pembangunan Sarinah tak luput dari tantangan. Namun Sukarno tetap dengan pendiriannya. 


 “Sarinah harus merupakan pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Pembangunan department store itu perlu dikaitkan dengan pendidikan tenaga trampil dan ahli konstruksi gedung bertingkat tinggi. Mengenai bidang manajemennya sejalan dengan apa yang kita lakukan mengenai pembangunan Hotel Indonesia. 

Bangunannya dirancang dengan bantuan arsitek Abel Sorensen dari Denmark, dibangun oleh kontraktor Jepang, dan pembiayaannya dari rampasan perang Jepang.”

“Kalau Sarinah di Thamrin itu sukses, untuk Jakarta saya perintahkan buat tiga lagi. Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur. Another there, my dear friends, another three. Department Store Sarinah itu,” kata Sukarno.


Tanggal 15 Agustus 1966,  pembangunan Sarinah Department Store yang berlantai 14 itu diresmikan oleh Sukarno, peresmian tersebut juga menandai lahirnya toko serba ada pertama di Asia Tenggara


 
Namun setelah lengsernya Sukarno  pasca huru-hara 1965, ekonomi Indonesia bergeser dari sistem ekonomi kerakyatan atau sosialis ke sistem kapitalis. Hal ini bisa terlihat dari perkembangan Sarinah di era setelah Sukarno. Harapan Sukarno pun tinggal kenangan, Sarinah bukan lagi toko murah ... 


Sumber:
Historia.id
Wikipedia
Rosodaras.wordpress.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Sarinah bukan lagi toko murah"

Posting Komentar