Cerita dari bangsal Rumah Sakit Jiwa Bogor

Perawatan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa di rumah sakit mental di Eropa sebelumnya menerapkan metode penyiksaan mengalami perombakan total setelah diperkenalkannya pendekatan dengan terapi moral oleh Philipe Pinel, seorang psikiater Prancis pada tahun 1773. 

 Rumah Sakit Jiwa Bogor


Pinel yang kemudian mempelopori pelepasan belenggu yang selama ini dilakukan terhadap pasien sakit jiwa dan mulai memberikan bimbingan moral dan disiplin agar mereka bisa kembali berfungi di masyarakat. Walaupun demikian, Pinel masih tetap melakukan pengecualian terhadap pasien yang dianggap tidak bisa diatur. Ia pula yang menyarankan untuk mengikat mereka dengan semacam jaket yang bagian lengannya bisa diikat atau straitjacket.

Terapi yang dilakukan oleh Pinel menerapkan metode pendekatan terapi okupansi atau Occupational therapy, di mana dalam terapi tersebut sang pasien dibiarkan untuk melakukan berbagai pekerjaan dengan diselingi istirahat agar pikiran mereka disibukkan dengan hal-hal yang positif. Pendekatan ini yang kemudian diadopsi di berbagai negara untuk penanganan pasien rumah sakit mental pada abad ke-19 dan 20.

Di Batavia (sekarang Jakarta), metode terapi ala Pinel dilakukan terhadap pasien penderita gangguan mental pada tahun 1946, sebagian besar dari mereka ditampug di sebuah rumah sakit Cina, yang berdiri sejak 1645 dengan menggunakan pajak orang-orang Tionghoa. Pasiennya terdiri dari beberapa etnis, 

Metode terapi ala Pinel tersebut dilakukan pula terhadap pasien gangguan mental yang ada di Batavia tahun 1646. Sebagian besar penderita gangguan mental tersebut dirawat di Rumah Sakit Cina yang didirikan pada tahun 1646 dengan menggunakan pajak dari orang-orang Tionghoa. Pasiennya tidak hanya orang-orang Tionghoa saja namun juga terdiri dari berbagai etnis. Namun karena kapasitas rumah sakit yang tidak  mencukupi, maka pemerintah kota Batavia mendirikan penampungan lain yang bernama Panti Asuhan Fakir Miskin di tahun 1662. Di tempat ini pada penderita gangguan mental ditempatkan bersama-sama dengan orang miskin dan jompo yang terlantar.

Semua pasien diperlakukan dengan cara yang sama, mereka semua dimasukkan ke dalam bilik yang gelap, kata Hendrik E Niemeijer dalam bukunya "Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII". Lamanya waktu penanganannya tidak tentu, namun biasanya seseorang sudah dianggap sembuh jika sudah melewati masa obersvasi selama setengah tahun. Namun sering terjadi pasien yang kumat dan akhirnya balik lagi ke panti, sedangkan pasien-pasien baru terus berdatangan.

Untuk mengatasi keterbatasan daya tampung, pemerintah kota kemudian merujuk pasien ke rumah sakit tentara. Namun tidak seperti di panti, penanganan pasien di dalam rumah sakit tentara terbilang sangat keras. Mereka ditempatkan dalam kamar yang mirip penjara. Jeruji besi terpasang di setiap kamar, pintunya sangat kokoh dan dijaga ketat oleh penjaga. Bagi mereka, pasien gangguan mental dianggap berbahaya sehingga perlu penanganan lebih serius.

Pada masa itu, sebagian besar pasien dianggap mengalami gangguan mental jika memiliki kebiasaan sering menenggak arak, alasan lainnya adalah maniak dan depresi berat. Bahkan orang yang cenderung menunjukkan sifat agresif dan sering menyakiti diri sendiri juga akan ditampung di rumah sakit tersebut.

Jumlah pasien gangguan mental yang semakin bertambah ini membuat pihak militer atau tentara ikut mengambilalih urusan dalam penangananannya. Keadaan tersebut berlangsung hingga pertengahan abad ke-19. Sampai kemudian muncul desakan untuk memperbaiki penanganan penderita gangguan mental sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan mental.  

Pembangunan Rumah Sakit Mental di Buitenzorg

Guna mengetahui secara pasti jumlah penderita gangguan jiwa ini, pemerintah Hindia Belanda menggelar sensus kesehatan mental yang dilakukan pertama kali pada tahun 1862. Sensus tersebut berjalan dibawah pimpinan Dr G.Wassink, seorang kepala medeis Hindia Belanda dan hasil sensusnya mencatat 586 penduduk di Pulau Jawa termasuk dalam kategori "Gila dan Berbahaya", dengan 252 orang di antaranya ditampung di berbagai panti yang tersebar di kota-kota besar.

Seperti dikutip Dirk Schoute dalam Occidental Therapeutics in the Netherlands East Indies During Three Centuries of Netherlands Settlement (1690-1900), Wassink mengusulkan agar pemerintah segera membangun sebuah rumah sait khusus untuk bangsa Eropa yang masuk kategori "Gila dan Berbahaya. Sedangkan mereka yang tidak masuk kategori tersebut dianggap tidak perlu dipisahkan dari keluarganya.

Sebelum menanggapi usulan Wassink tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengirimkan dua orang dokternya yaitu FH Bauer dan WM Smit untuk melakukan obersvasi standar perawatan rumah sakit mental di beberapa negara di Eropa. Setelah obervasi, keduanya kemudian mengajukan surat rekomendasi ke Inspektur Urusan Asylum di Belanda pada bulan September 1865. Surat tersebut ditembuskan pada sang Ratu yang kemudian menyetujuinya pada bulan Desember 1865.

Bauer dan Smit menjejakkan kaki mereka di Batavia pada tahun 1867. Lokasi yang tepat untuk dijadikan sebagai rumah sakit mental terbesar pun segera dilakukan. Adapun kriteria lokasi yang mereka inginkan adalah tidak jauh dari Batavia, dekat dengan Jalan Raya Pos, dan berlokasi di tempat yang tenang sesuai prinsip perawatan mental. Akhirnya Buitenzorg pun terpilih sebagai lokasinya.

Sebelum memulai pembangunan rumah sakit mental di Buitenzorg, pada tahun 1868 Bauer dan Smit mempublikasikan hasil penelitiannya selama berada di Eropa. Mereka mulai memperkenalkan terapi modern untuk pasien ketebelakangan mental seperti terapi moral dan okupansi yang sesuai dengan standar internasional pada waktu itu. Namun, tidak semua orang menanggapi positif publikasi mereka. 

Pembangunan rumah sakit mental dianggap sebagai pemborosan, apalagi di Belanda pasien rumah sakit mental yang berhasil sembuh hanya 30 persen saja. Sebagian besar dokter di Belanda bahkan menyebut kalau pasien dengan keterbelakangan mental cukup dititipkan di rumah sakit umum atau tentara.  Namun begitu, tekad Bauer dan Smit sudah bulat, mereka tetap dengan pendiriannya untuk membangun sebuah rumah sakit mental terbesar di Hindia Belanda. 

Bangunan Rumah Sakit Mental Buitenzorg


Tahun 1882, rumah sakit mental di Buitenzorg selesai dibangun dengan sebagian besar penghuninya adalah kaum lelaki yang merupakan pindahan dari rumah sakit militer dan Cina. Ada sekitar 35 orang Eropa dan 95 pegawai pribumi dan keturunan Tionghoa yang bekerja di rumah sakit ini. Seorang dokter yang bernama Sumeru menjadi satu-satunya dokter pribumi di rumah sakit ini. (kelak namanya diabadikan nama sebuah jalan yang menuju area rumah sakit tersebut yaitu Jl Dr. Sumeru).

Tidak seperti kebanyakan rumah sakit Belanda saat itu, rumah sakit mental di Buitenzorg tidak berhubungan atau terafiliasi denan militer. Juga  tidak membedakan latar belakang pasiennya. Terapi yang dilakukan terhadap tiap-tiap pasien sama. 

"Bahkan selama perawatan dengan pendekatan medis, rumah sakit ini memberikan pasiennya terapi okupansi melalui kegiatan kelompok seperti menyulam atau membatik," kata Setyonegoro seperti dikutip dalam Sejarah Kesehatan Jiwa di Indonesia

Pasien yang belajar menenun | Tropen Museum


Seuai peraturan pemerintah Hindia Belanda, rumah sakit mental hanya dikhususkan melayani pasien dengan kategori "berbahaya" yang dirujuk oleh aparat hukum atau instansi pemerintahan. Namun memasuki abad ke-20, salah satu direktur rumah sakti mental Lawang, P.K.M Travaligno mengkritik keras aturan tersebut. 

Menurutnya seperti tertulis dalam The Psychosis of the Native in Relation to His Character (1920) bahwa pemerintah akan lebih menghemat dana jika pasien bisa diterima secara langsung di rumah sakit. Ia yakin benar bahwa diagnosis dan perawatan yang lebih cepat akan membuat pasien bisa segera disembuhkan, keadaannya tentu akan berbeda ketika pasien dibawa sudah dalam kondisi kritis.

Metode perawatan sakit mental kian berkembang pada permulaan abad ke-20. Hal ini ditandai dengan berbaga penemunan medis, mulai dari pemberian suntikan insulin untuk menenangkan pasien schizoprenia, penggunaan ECT (electroshcok therapy) untuk menghapus memori dan penyembuhan depresi, serta lobotomi (leucotomy) yaitu tindakan memutus saraf melalui pembedahan agar pasien yang agresif / sering mengamuk menjadi pasif. Kelak, beberapa rumah sakit mental yang ada di Hindia Belanda mengadopsi perkembangan metode perawatan ini sesuai ketersediaan sumberdaya di instituisinya masing-masing.

Kedatangan Jepang

Kedatangan dan pendudukan Jepang pada pertengahan tahun 1942 membuyarkan semuanya. Mereka kemudian menduduki dan menguasai beberapa rumah sakit dan bangunan vital lainnya, termasuk rumah sakit mental di Grogol, Batavia. 

Para pekerjaannya pun dengan sangat terpaksa harus mengabdi pada Jepang. Merasa khawatir dengan keselamatan pasien, mereka memindahkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bogor. Peristiwa menegangkan tersebut disaksikan oleh seorang dokter asal Sumatera, Yunus yang kemudian bertugas mengurus para pasien sampai di Buitenzorg.

Sesampainya di Buitenzorg, mereka tidak bisa langsung tenang. Pihak Jepang ternyata telah bergerak hingga Buitenzorg. Para dokter dan perawat mulai merasa khawatir akan nasib para pasiennya itu, khawatir kalau-kalau para pasien mereka bakal dijadikan tenaga kerja paksa. 

Hanya dalam hitungan hari, Jepang telah tiba di rumah sakit tersebut, mereka lantas menduduki dan menjadikannya sebagai tempat penampungan tentara, padahal saat itu di rumah sakit tersebut terdapat sekitar 2000 pasien, jumlah ini jauh melampaui kapasitas rumah sakit, belum lagi ditambah para serdadu Jepang yang memakai ruangan-ruangan pasien sebagai barak mereka.

Namun di luar perkiraan banyak pihak, Jepang ternyata tidak menjadikan para pasien sakit mental itu sebagai tenaga kerja, namun justru menelantarkan mereka. Jepang merasa tidak butuh mereka, sehingga tidak diperlakukan dengan layak. 

Penghuni Rumah Sakit yang ditelantarkan oleh Jepang | Tropen Museum
 

"Banyak dari pasien yang mengalami kurang makan dan terserang disentri, pada akhirnya tidak sedikit yang mati. Bangsal penuh mayat dan darah, sedangkan pihak Jepang hanya mengurusi dirinya sendiri," kata Yunus seperti dikutip dari Kompas tanggal 14 Oktober 1979. Setelah peristiwa tersebut , Yunus mengaku sangat membenci Jepang, menurutnya para pasien sakit mental harus tetap diperlakukan sebagai manusia juga. 

Foto: Tropen Museum


Setelah tragedi tersebut, para dokter dan perawat berjuang sebisa mungkin untuk merawat pasien yang tersisa. Hanya tinggal 500 pasien saja yang hidup dan bisa menikmati saat-saat kemerdekaan, termasuk pasien peninggalan Belanda. 

Sedangkan beberapa bagian dari rumah sakit itu sudah mulai rusak, sementera dana pemeliharaan yang didapat sangat minim. Pada masa itu, pemerintah lebih fokus pada revolusi fisik, namun setelah memasuki era 1950-an, pemerintah mulai tergerak hatinya dan membantu memperbaiki beberapa bangunan yang sudah rusak. Hal ini pun berlangsung sejak masa Orde Lama hingga masa Orde Baru.

Namun sayang, setelah datang perhatian dari pemerintah, sikap masyarakat justru berbanding terbalik. Banyak dari mereka yang menganggap penderita gangguan jiwa sebagai aib yang harus disembunyikan. 

Kalaupun ada yang dibawa ke rumah sakit, itu pun kondisinya sudah sangat parah, sehingga proses penyembuhannya bisa berlangsung cukup lama. Begitu pula ketika seorang pasien dianggap sudah sembut, tidak sedikit dari mereka menolak kehadirannya.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, para dokter dan perawat di RSJ Bogor menggunakan pendekatan dari sisi lain yaitu dengan menggelar pameran kerajinan tangan hasil karya para pasien, dan mengundang masyarakat untuk hadir setiap perayaan 17 Agustusan untuk menyaksikan kehidupan para pasien.

 

Namun sayang, tradisi pendekatan yang sudah berlangsung sejak lama itu kini tidak lagi terdengar kabar beritanya setelah Rumah Sakit Jiwa Bogor berubah nama menjadi RS Dokter Marzoeki Mahdi pada tahun 2002. Pameran dan lomba Agustusan sudah jarang lagi digelar. Padahal inti dari acara-acara tersebut adalah agar masyarakat tergerak untuk kembali menerima mereka.

Sumber dan referensi:

Wikipedia bebas

Google
Historia.id
Tropen Museum

Sejarah Rumah Sakit Jiwa Grogol
Perawatan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa di rumah sakit mental di Eropa sebelumnya menerapkan metode penyiksaan mengalami perombakan total setelah diperkenalkannya pendekatan dengan terapi moral oleh Philipe Pinel, seorang psikiater Prancis pada tahun 1773. 

 Rumah Sakit Jiwa Bogor


Pinel yang kemudian mempelopori pelepasan belenggu yang selama ini dilakukan terhadap pasien sakit jiwa dan mulai memberikan bimbingan moral dan disiplin agar mereka bisa kembali berfungi di masyarakat. Walaupun demikian, Pinel masih tetap melakukan pengecualian terhadap pasien yang dianggap tidak bisa diatur. Ia pula yang menyarankan untuk mengikat mereka dengan semacam jaket yang bagian lengannya bisa diikat atau straitjacket.

Terapi yang dilakukan oleh Pinel menerapkan metode pendekatan terapi okupansi atau Occupational therapy, di mana dalam terapi tersebut sang pasien dibiarkan untuk melakukan berbagai pekerjaan dengan diselingi istirahat agar pikiran mereka disibukkan dengan hal-hal yang positif. Pendekatan ini yang kemudian diadopsi di berbagai negara untuk penanganan pasien rumah sakit mental pada abad ke-19 dan 20.

Di Batavia (sekarang Jakarta), metode terapi ala Pinel dilakukan terhadap pasien penderita gangguan mental pada tahun 1946, sebagian besar dari mereka ditampug di sebuah rumah sakit Cina, yang berdiri sejak 1645 dengan menggunakan pajak orang-orang Tionghoa. Pasiennya terdiri dari beberapa etnis, 

Metode terapi ala Pinel tersebut dilakukan pula terhadap pasien gangguan mental yang ada di Batavia tahun 1646. Sebagian besar penderita gangguan mental tersebut dirawat di Rumah Sakit Cina yang didirikan pada tahun 1646 dengan menggunakan pajak dari orang-orang Tionghoa. Pasiennya tidak hanya orang-orang Tionghoa saja namun juga terdiri dari berbagai etnis. Namun karena kapasitas rumah sakit yang tidak  mencukupi, maka pemerintah kota Batavia mendirikan penampungan lain yang bernama Panti Asuhan Fakir Miskin di tahun 1662. Di tempat ini pada penderita gangguan mental ditempatkan bersama-sama dengan orang miskin dan jompo yang terlantar.

Semua pasien diperlakukan dengan cara yang sama, mereka semua dimasukkan ke dalam bilik yang gelap, kata Hendrik E Niemeijer dalam bukunya "Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII". Lamanya waktu penanganannya tidak tentu, namun biasanya seseorang sudah dianggap sembuh jika sudah melewati masa obersvasi selama setengah tahun. Namun sering terjadi pasien yang kumat dan akhirnya balik lagi ke panti, sedangkan pasien-pasien baru terus berdatangan.

Untuk mengatasi keterbatasan daya tampung, pemerintah kota kemudian merujuk pasien ke rumah sakit tentara. Namun tidak seperti di panti, penanganan pasien di dalam rumah sakit tentara terbilang sangat keras. Mereka ditempatkan dalam kamar yang mirip penjara. Jeruji besi terpasang di setiap kamar, pintunya sangat kokoh dan dijaga ketat oleh penjaga. Bagi mereka, pasien gangguan mental dianggap berbahaya sehingga perlu penanganan lebih serius.

Pada masa itu, sebagian besar pasien dianggap mengalami gangguan mental jika memiliki kebiasaan sering menenggak arak, alasan lainnya adalah maniak dan depresi berat. Bahkan orang yang cenderung menunjukkan sifat agresif dan sering menyakiti diri sendiri juga akan ditampung di rumah sakit tersebut.

Jumlah pasien gangguan mental yang semakin bertambah ini membuat pihak militer atau tentara ikut mengambilalih urusan dalam penangananannya. Keadaan tersebut berlangsung hingga pertengahan abad ke-19. Sampai kemudian muncul desakan untuk memperbaiki penanganan penderita gangguan mental sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan mental.  

Pembangunan Rumah Sakit Mental di Buitenzorg

Guna mengetahui secara pasti jumlah penderita gangguan jiwa ini, pemerintah Hindia Belanda menggelar sensus kesehatan mental yang dilakukan pertama kali pada tahun 1862. Sensus tersebut berjalan dibawah pimpinan Dr G.Wassink, seorang kepala medeis Hindia Belanda dan hasil sensusnya mencatat 586 penduduk di Pulau Jawa termasuk dalam kategori "Gila dan Berbahaya", dengan 252 orang di antaranya ditampung di berbagai panti yang tersebar di kota-kota besar.

Seperti dikutip Dirk Schoute dalam Occidental Therapeutics in the Netherlands East Indies During Three Centuries of Netherlands Settlement (1690-1900), Wassink mengusulkan agar pemerintah segera membangun sebuah rumah sait khusus untuk bangsa Eropa yang masuk kategori "Gila dan Berbahaya. Sedangkan mereka yang tidak masuk kategori tersebut dianggap tidak perlu dipisahkan dari keluarganya.

Sebelum menanggapi usulan Wassink tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengirimkan dua orang dokternya yaitu FH Bauer dan WM Smit untuk melakukan obersvasi standar perawatan rumah sakit mental di beberapa negara di Eropa. Setelah obervasi, keduanya kemudian mengajukan surat rekomendasi ke Inspektur Urusan Asylum di Belanda pada bulan September 1865. Surat tersebut ditembuskan pada sang Ratu yang kemudian menyetujuinya pada bulan Desember 1865.

Bauer dan Smit menjejakkan kaki mereka di Batavia pada tahun 1867. Lokasi yang tepat untuk dijadikan sebagai rumah sakit mental terbesar pun segera dilakukan. Adapun kriteria lokasi yang mereka inginkan adalah tidak jauh dari Batavia, dekat dengan Jalan Raya Pos, dan berlokasi di tempat yang tenang sesuai prinsip perawatan mental. Akhirnya Buitenzorg pun terpilih sebagai lokasinya.

Sebelum memulai pembangunan rumah sakit mental di Buitenzorg, pada tahun 1868 Bauer dan Smit mempublikasikan hasil penelitiannya selama berada di Eropa. Mereka mulai memperkenalkan terapi modern untuk pasien ketebelakangan mental seperti terapi moral dan okupansi yang sesuai dengan standar internasional pada waktu itu. Namun, tidak semua orang menanggapi positif publikasi mereka. 

Pembangunan rumah sakit mental dianggap sebagai pemborosan, apalagi di Belanda pasien rumah sakit mental yang berhasil sembuh hanya 30 persen saja. Sebagian besar dokter di Belanda bahkan menyebut kalau pasien dengan keterbelakangan mental cukup dititipkan di rumah sakit umum atau tentara.  Namun begitu, tekad Bauer dan Smit sudah bulat, mereka tetap dengan pendiriannya untuk membangun sebuah rumah sakit mental terbesar di Hindia Belanda. 

Bangunan Rumah Sakit Mental Buitenzorg


Tahun 1882, rumah sakit mental di Buitenzorg selesai dibangun dengan sebagian besar penghuninya adalah kaum lelaki yang merupakan pindahan dari rumah sakit militer dan Cina. Ada sekitar 35 orang Eropa dan 95 pegawai pribumi dan keturunan Tionghoa yang bekerja di rumah sakit ini. Seorang dokter yang bernama Sumeru menjadi satu-satunya dokter pribumi di rumah sakit ini. (kelak namanya diabadikan nama sebuah jalan yang menuju area rumah sakit tersebut yaitu Jl Dr. Sumeru).

Tidak seperti kebanyakan rumah sakit Belanda saat itu, rumah sakit mental di Buitenzorg tidak berhubungan atau terafiliasi denan militer. Juga  tidak membedakan latar belakang pasiennya. Terapi yang dilakukan terhadap tiap-tiap pasien sama. 

"Bahkan selama perawatan dengan pendekatan medis, rumah sakit ini memberikan pasiennya terapi okupansi melalui kegiatan kelompok seperti menyulam atau membatik," kata Setyonegoro seperti dikutip dalam Sejarah Kesehatan Jiwa di Indonesia

Pasien yang belajar menenun | Tropen Museum


Seuai peraturan pemerintah Hindia Belanda, rumah sakit mental hanya dikhususkan melayani pasien dengan kategori "berbahaya" yang dirujuk oleh aparat hukum atau instansi pemerintahan. Namun memasuki abad ke-20, salah satu direktur rumah sakti mental Lawang, P.K.M Travaligno mengkritik keras aturan tersebut. 

Menurutnya seperti tertulis dalam The Psychosis of the Native in Relation to His Character (1920) bahwa pemerintah akan lebih menghemat dana jika pasien bisa diterima secara langsung di rumah sakit. Ia yakin benar bahwa diagnosis dan perawatan yang lebih cepat akan membuat pasien bisa segera disembuhkan, keadaannya tentu akan berbeda ketika pasien dibawa sudah dalam kondisi kritis.

Metode perawatan sakit mental kian berkembang pada permulaan abad ke-20. Hal ini ditandai dengan berbaga penemunan medis, mulai dari pemberian suntikan insulin untuk menenangkan pasien schizoprenia, penggunaan ECT (electroshcok therapy) untuk menghapus memori dan penyembuhan depresi, serta lobotomi (leucotomy) yaitu tindakan memutus saraf melalui pembedahan agar pasien yang agresif / sering mengamuk menjadi pasif. Kelak, beberapa rumah sakit mental yang ada di Hindia Belanda mengadopsi perkembangan metode perawatan ini sesuai ketersediaan sumberdaya di instituisinya masing-masing.

Kedatangan Jepang

Kedatangan dan pendudukan Jepang pada pertengahan tahun 1942 membuyarkan semuanya. Mereka kemudian menduduki dan menguasai beberapa rumah sakit dan bangunan vital lainnya, termasuk rumah sakit mental di Grogol, Batavia. 

Para pekerjaannya pun dengan sangat terpaksa harus mengabdi pada Jepang. Merasa khawatir dengan keselamatan pasien, mereka memindahkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bogor. Peristiwa menegangkan tersebut disaksikan oleh seorang dokter asal Sumatera, Yunus yang kemudian bertugas mengurus para pasien sampai di Buitenzorg.

Sesampainya di Buitenzorg, mereka tidak bisa langsung tenang. Pihak Jepang ternyata telah bergerak hingga Buitenzorg. Para dokter dan perawat mulai merasa khawatir akan nasib para pasiennya itu, khawatir kalau-kalau para pasien mereka bakal dijadikan tenaga kerja paksa. 

Hanya dalam hitungan hari, Jepang telah tiba di rumah sakit tersebut, mereka lantas menduduki dan menjadikannya sebagai tempat penampungan tentara, padahal saat itu di rumah sakit tersebut terdapat sekitar 2000 pasien, jumlah ini jauh melampaui kapasitas rumah sakit, belum lagi ditambah para serdadu Jepang yang memakai ruangan-ruangan pasien sebagai barak mereka.

Namun di luar perkiraan banyak pihak, Jepang ternyata tidak menjadikan para pasien sakit mental itu sebagai tenaga kerja, namun justru menelantarkan mereka. Jepang merasa tidak butuh mereka, sehingga tidak diperlakukan dengan layak. 

Penghuni Rumah Sakit yang ditelantarkan oleh Jepang | Tropen Museum
 

"Banyak dari pasien yang mengalami kurang makan dan terserang disentri, pada akhirnya tidak sedikit yang mati. Bangsal penuh mayat dan darah, sedangkan pihak Jepang hanya mengurusi dirinya sendiri," kata Yunus seperti dikutip dari Kompas tanggal 14 Oktober 1979. Setelah peristiwa tersebut , Yunus mengaku sangat membenci Jepang, menurutnya para pasien sakit mental harus tetap diperlakukan sebagai manusia juga. 

Foto: Tropen Museum


Setelah tragedi tersebut, para dokter dan perawat berjuang sebisa mungkin untuk merawat pasien yang tersisa. Hanya tinggal 500 pasien saja yang hidup dan bisa menikmati saat-saat kemerdekaan, termasuk pasien peninggalan Belanda. 

Sedangkan beberapa bagian dari rumah sakit itu sudah mulai rusak, sementera dana pemeliharaan yang didapat sangat minim. Pada masa itu, pemerintah lebih fokus pada revolusi fisik, namun setelah memasuki era 1950-an, pemerintah mulai tergerak hatinya dan membantu memperbaiki beberapa bangunan yang sudah rusak. Hal ini pun berlangsung sejak masa Orde Lama hingga masa Orde Baru.

Namun sayang, setelah datang perhatian dari pemerintah, sikap masyarakat justru berbanding terbalik. Banyak dari mereka yang menganggap penderita gangguan jiwa sebagai aib yang harus disembunyikan. 

Kalaupun ada yang dibawa ke rumah sakit, itu pun kondisinya sudah sangat parah, sehingga proses penyembuhannya bisa berlangsung cukup lama. Begitu pula ketika seorang pasien dianggap sudah sembut, tidak sedikit dari mereka menolak kehadirannya.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, para dokter dan perawat di RSJ Bogor menggunakan pendekatan dari sisi lain yaitu dengan menggelar pameran kerajinan tangan hasil karya para pasien, dan mengundang masyarakat untuk hadir setiap perayaan 17 Agustusan untuk menyaksikan kehidupan para pasien.

 

Namun sayang, tradisi pendekatan yang sudah berlangsung sejak lama itu kini tidak lagi terdengar kabar beritanya setelah Rumah Sakit Jiwa Bogor berubah nama menjadi RS Dokter Marzoeki Mahdi pada tahun 2002. Pameran dan lomba Agustusan sudah jarang lagi digelar. Padahal inti dari acara-acara tersebut adalah agar masyarakat tergerak untuk kembali menerima mereka.

Sumber dan referensi:

Wikipedia bebas

Google
Historia.id
Tropen Museum

Sejarah Rumah Sakit Jiwa Grogol

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Cerita dari bangsal Rumah Sakit Jiwa Bogor"

  1. selamat siang saya mau memberi tau nihhh www agens128 org
    adalah agen terbaik dengan pelayanan nya 24 setiap hari non stop , dan untuk deposit dan withdrawnya
    paling lama hanya butuh waktu 3 menit saja ? tidak ada kan pelayanan seenak dan secepat ini hanya di sini loh
    buruann join www agens128 org

    Carmela
    BBM : 7BED80B1

    BalasHapus