Misteri senjata pusaka Ki Dongkol dan Ki Rompang

Ki Dongkol dan Ki Rompang bukanlah nama seseorang, namun adalah nama dari dua buah pusaka yang selalu menyertai kemana pun Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pergi. 

Selain selalu menyelipkan kedua pusaka tersebut di pinggangnya, pria kelahiran 7 Januari 1907 itu selalu menyuruh Bajuri, pembantu setianya untuk membawanya.  

senjata pusaka Ki Dongkol dan Ki Rompang


Bajuri selalu setia membawakan keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang kemana pun sang majikannya pergi. Kedua pusaka itu baru terpisah setelah sang pemilik, Kartosoewirjo ditangkap pada tanggal 3 Juni 1962.

Saat ditangkap itulah, sang pemimpin Darul Islam ini kemudian menyerahkan keris dan pedang miliknya kepada keluarganya yang memang harus diwarisi secara turun temurun. 

Kedua senjata pusaka tersebut, Ki Dongkol dan ki Rompang didapat Kartosoewirjo dari seorang tokoh Garut yang bernama Eyang Sinunuk sekitar tahun 1936. Waktu itu, sang eyang melihat sosok Kartosoewirjo sebagai seorang yang penuh kredibilitas. 

"Kedua pusaka itu diserahkan kepada Ibrahim Adji. Kebetulan Eyang Sinunuk adalah leluhur Pangdam Siliwangi Ibrahim Adji," kata Sardjono Kartosoewirjo, salah seorang putra Kartosoewirjo seperti dilansir dari serba sejarah. 

Peran keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rempong selama perjuangan Kartosoewirjo memimpin pemberontakan DI/TII cukup diakui. Selain dikenal sebagai orang yang cukup fanatik terhadap agamanya yaitu Islam, Kartosoewirjo juga sangat kental dengan unsur Jawa Tradisional. Sebagaimana orang jawa, Kartosoewirjo pun gemar melakukan tapa dengan cara pati geni (tidak makan, tidak minum dan tidak tidur), selama 40 hari 40 malam di gua Walet, sekitar Gunung Kidul. 

Seperti diceritakan dalam buku karangan Pinardi H.Z.A, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, salah satu bekas panglima dari kelompok Kartosoewirji mengakui bahwa ada kepercayaan mistis dalam masyarakat Jawa Barat bahwasanya orang yang bisa menyatukan kedua pusaka itu akan memiliki kemenangan dalam perjuangannya. Ia juga mengungkapkan kalau kedua pusaka itu tidak pernah lepas dari badan Kartosoewirjo, "Hanya kadang-kadang saja dititipkan kepada orang kepercayaannya," ujarnya. 

Kedua pusaka itu memang telah menjadi daya tarik bagi kaum Islam tradisional. Tingginya kepercayaan tersebut terlihat ketika kedua pusaka tersebtu dipamerkan dalam sebuah pameran Usaha Pemulihan Keamanan yang diselenggarakan oleh Kodam VI Siliwangi pada pekan industri di Bandung, bulan Agustus - September 1962. Hampir sebagian besar pengunjung yang datang ke pameran itu hanya ingin melihat seperti apa bentuk keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang itu. 

Jika disebut-sebut sebagai benda pusaka, lalu apakah kedua senjata itu memang mempunyai nilai magis?  Sardjono membantah kalau kedua senjata pusaka itu memiliki unsur magis. Menurutnya, kedua senjata itu merupakan senjata biasa saja, bahkan yang satunya malah rompang, sehingga menjadi sebutannya. Bahkan ia juga menampik kalau kedua pusaka itu selalu diselipkan di pinggang Kartosoewirjo dan menyebut bahwa pembantunya yang bernama Bajuri yang selalu membawa kedua senjata itu, hanya kadang-kadang saja diselipkan di pinggang. 

Mengenai keampuhan kedua pusaka itu, Sardjono menegaskan bahwa kedua pusaka itu selalu dibawa-bawa oleh Kartosoewirjo adalah sebagai pengingat, bahwa dulu orang berjuang hanya dengan pisau, kini dengan senjata modern, maka harus lebih berani. 

Sardjono pun mengakui kalau selama ini banyak orang yang bertanya-tanya seputar keampuhan kedua senjata pusaka tersebut. Pernah sekali waktu, salah seorang pengawal Kartosoewirjo yang bernama Kadar Sulihat menanyakan tentang kedua pusaka yang selalu dibawa pimpinannya itu. Kartosoewirjo hanya menjawab, "Pusaka ini menjadi pengingat, bahwa dulu orang berjuang hanya dengan pisau, tapi sekarang dengan senjata modern, sehingga harus lebih berani," 

Kedua pusaka itu, menurut Sardjono bukanlah senjata yang istimewa bahkan tidak pula bertuah sebagaimana anggapan masyarakat terutama para pengikut Kartosoewirjo. "Ki Dongkol dan Ki Rompang hanya benda museum, senjata biasa," katanya. 

Ia juga mengatakan kalau mitos kesaktian Kartosoewirjo tidak terbukti, sebab ayahnya justru mempan ditembak. "Beliau dieksekusi," pungkasnya.

Foto eksekusi S.M. Kartosoewirjo


Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ditangkap atas tuduhan melakukan pemberontakan dengan berupaya mendirikan Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian dieksekusi mati di hadapan regu tembak pada tanggal 12 September 1962. 






Ki Dongkol dan Ki Rompang bukanlah nama seseorang, namun adalah nama dari dua buah pusaka yang selalu menyertai kemana pun Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pergi. 

Selain selalu menyelipkan kedua pusaka tersebut di pinggangnya, pria kelahiran 7 Januari 1907 itu selalu menyuruh Bajuri, pembantu setianya untuk membawanya.  

senjata pusaka Ki Dongkol dan Ki Rompang


Bajuri selalu setia membawakan keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang kemana pun sang majikannya pergi. Kedua pusaka itu baru terpisah setelah sang pemilik, Kartosoewirjo ditangkap pada tanggal 3 Juni 1962.

Saat ditangkap itulah, sang pemimpin Darul Islam ini kemudian menyerahkan keris dan pedang miliknya kepada keluarganya yang memang harus diwarisi secara turun temurun. 

Kedua senjata pusaka tersebut, Ki Dongkol dan ki Rompang didapat Kartosoewirjo dari seorang tokoh Garut yang bernama Eyang Sinunuk sekitar tahun 1936. Waktu itu, sang eyang melihat sosok Kartosoewirjo sebagai seorang yang penuh kredibilitas. 

"Kedua pusaka itu diserahkan kepada Ibrahim Adji. Kebetulan Eyang Sinunuk adalah leluhur Pangdam Siliwangi Ibrahim Adji," kata Sardjono Kartosoewirjo, salah seorang putra Kartosoewirjo seperti dilansir dari serba sejarah. 

Peran keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rempong selama perjuangan Kartosoewirjo memimpin pemberontakan DI/TII cukup diakui. Selain dikenal sebagai orang yang cukup fanatik terhadap agamanya yaitu Islam, Kartosoewirjo juga sangat kental dengan unsur Jawa Tradisional. Sebagaimana orang jawa, Kartosoewirjo pun gemar melakukan tapa dengan cara pati geni (tidak makan, tidak minum dan tidak tidur), selama 40 hari 40 malam di gua Walet, sekitar Gunung Kidul. 

Seperti diceritakan dalam buku karangan Pinardi H.Z.A, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, salah satu bekas panglima dari kelompok Kartosoewirji mengakui bahwa ada kepercayaan mistis dalam masyarakat Jawa Barat bahwasanya orang yang bisa menyatukan kedua pusaka itu akan memiliki kemenangan dalam perjuangannya. Ia juga mengungkapkan kalau kedua pusaka itu tidak pernah lepas dari badan Kartosoewirjo, "Hanya kadang-kadang saja dititipkan kepada orang kepercayaannya," ujarnya. 

Kedua pusaka itu memang telah menjadi daya tarik bagi kaum Islam tradisional. Tingginya kepercayaan tersebut terlihat ketika kedua pusaka tersebtu dipamerkan dalam sebuah pameran Usaha Pemulihan Keamanan yang diselenggarakan oleh Kodam VI Siliwangi pada pekan industri di Bandung, bulan Agustus - September 1962. Hampir sebagian besar pengunjung yang datang ke pameran itu hanya ingin melihat seperti apa bentuk keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang itu. 

Jika disebut-sebut sebagai benda pusaka, lalu apakah kedua senjata itu memang mempunyai nilai magis?  Sardjono membantah kalau kedua senjata pusaka itu memiliki unsur magis. Menurutnya, kedua senjata itu merupakan senjata biasa saja, bahkan yang satunya malah rompang, sehingga menjadi sebutannya. Bahkan ia juga menampik kalau kedua pusaka itu selalu diselipkan di pinggang Kartosoewirjo dan menyebut bahwa pembantunya yang bernama Bajuri yang selalu membawa kedua senjata itu, hanya kadang-kadang saja diselipkan di pinggang. 

Mengenai keampuhan kedua pusaka itu, Sardjono menegaskan bahwa kedua pusaka itu selalu dibawa-bawa oleh Kartosoewirjo adalah sebagai pengingat, bahwa dulu orang berjuang hanya dengan pisau, kini dengan senjata modern, maka harus lebih berani. 

Sardjono pun mengakui kalau selama ini banyak orang yang bertanya-tanya seputar keampuhan kedua senjata pusaka tersebut. Pernah sekali waktu, salah seorang pengawal Kartosoewirjo yang bernama Kadar Sulihat menanyakan tentang kedua pusaka yang selalu dibawa pimpinannya itu. Kartosoewirjo hanya menjawab, "Pusaka ini menjadi pengingat, bahwa dulu orang berjuang hanya dengan pisau, tapi sekarang dengan senjata modern, sehingga harus lebih berani," 

Kedua pusaka itu, menurut Sardjono bukanlah senjata yang istimewa bahkan tidak pula bertuah sebagaimana anggapan masyarakat terutama para pengikut Kartosoewirjo. "Ki Dongkol dan Ki Rompang hanya benda museum, senjata biasa," katanya. 

Ia juga mengatakan kalau mitos kesaktian Kartosoewirjo tidak terbukti, sebab ayahnya justru mempan ditembak. "Beliau dieksekusi," pungkasnya.

Foto eksekusi S.M. Kartosoewirjo


Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ditangkap atas tuduhan melakukan pemberontakan dengan berupaya mendirikan Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian dieksekusi mati di hadapan regu tembak pada tanggal 12 September 1962. 






Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Misteri senjata pusaka Ki Dongkol dan Ki Rompang"

  1. Agen Bola Terlengkap Dan Terbaik
    Bonus Dan Promo Menarik Hingga Jutaan Rupiah

    Tunggu Apalagi Bosku
    Hanya di www(titik)bolavita(titik)co
    / www(titik)ayamjago(titik)net
    BBM : D8C363CA (NEW) / BBM : BOLAVITA

    BalasHapus