Kisah wanita penjaja cinta dalam perjuangan kemerdekaan

Seperti kisah matahari si mata-mata jelita, para wanita penjaja kenikmatan atau psk di masa lalu ternyata pernah ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak dari mereka yang  menjadi anggota partai, laskar, bahkan kata-kata bujuk rayunya pun menjadi alat propaganda.

mata mata perjuangan



Dalam buku otobiografi Bung Karno karangan Cindy Adams bertajuk Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menyajikan sekelumit kisah mengenai PSK. Bung Karno dalam satu kesempatan pernah mengungkapkan peran wanita PSK dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.  

"Pelacur merupakan sosok mata-mata terbaik di dunia. Dari sekian banyak anggota PNI (Partai Nasional Indonesia) Bandung, 670 orang di antaranya dalah wanita yang memiliki pekerjaan sebagai PSK." ungkap Bung Karno. 

Mereka inilah yang kemudian mengais informasi dari para polisi kolonial, lalu menyampaikan informasi tersebut pada BUng karno sehingga para pejuang bisa menentukan langkah-langkah berikutnya.  

Pada masa kolonialisme Jepang, Bung Karno juga melibatkan 120 wanita PSK untuk memuaskan tentara Jepang di Minangkabau. Pengerahan PSK pada waktu itu menjadi pilihan terbaik untuk menjaga kehormatan para gadis Indonesia yang lainnya.  

Bantahan akan pernyataan Bung Karno  

Gatot Mangunpraja, selaku sekretaris PNI membantah keterangan Bung Karno tentang peran wanita PSK dalam PNI. Menurutnya, pernyataan adanya sekitar 670 anggota PNI Bandung yang berstatus wanita PSK adalah sesuatu yang keliru.  

“Kami sangat berhati-hati ketika harus menerima anggota dari kalangan wanita PSK atau penjudi. Sebab hal ini berisiko mencemarkan nama baik organisasi,” terang Gatot dalam sebuah jurnal Indonesia berjudul The Peta and My Relations with the Japanese: A Correction of Sukarno’s Autobiography tahun 1968. 

Keputusan PNI untuk melibatkan wanita PSK juga sempat mendapat tantangan dari kalangan anggota PNI sendiri. Ali Sastroamidjojo misalnya, tokoh PNI ini menganggap keterlibatan wanita PSK adalah hal memalukan dan tidak bermoral.  

Di luar masalah tersebut, kisah heroik para wanita PSK dalam perjuangan pun diungkap dalam sebuah buku karangan Robert Cribb, "Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta". Sebuah gerakan yang bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) terdiri dari kekuatan 7 pasukan inti yang tersebar di Karawang. Tujuan mereka adalah menyerang Jakarta untuk melumpuhkan kekuatan Jepang dan Belanda.   

Pasokan senjata bagi LRJR itu ditunjang oleh para wanita PSK dari kawasan Senen, Jakarta Pusat. Mereka (para PSK) itu menyelundupkan senjata dari tentara Hindia yang membawanya ke Singapura. Jalur perdagangan gelap di Singapura ternyata mudah ditembus dan membuat LRJR mendapatkan banyak stok persenjataan.  

Cerita lain mengenai perananan PSK di masa-masa perjuangan juga pernah dikemukakan oleh seorang perwira sekaligus dokter gigi bernama MOestopo. Di tahun 1946, Moestopo ditunjuk menjadi perwira pendidikan untuk wilayah Subang. 

Betapa terkejutnya Moestopo ketika sampai di lokasi tujuan, ia justru ditugasi untuk memimpin pasukan Terate atau Teratai (Tentara Rahasia Tertinggi). Nah, para pasukan ini ternyata terdiri dari pelacur dan pencopet dari Yogyakarta dan Surabaya. Sebagian di antara mereka malahan ada yang masih berstatus sebagai mahasiswa yang sudah dibekali pelatihan dari Akademi Militer Yogyakarta.

 Kaum-kaum "tak biasa' inilah yang kemudian dilatih dan dikirim ke garis pertempuran Bandung untuk mencuri senjata, bahan makanan, pakaian serta barang berharga lain dari pihak musuh.  

Alat propaganda  

Pernah suatu ketika, Bung Karno berunding dengan pelukit Indonesia, Affandi untuk membuat alat propaganda demi membangkitkan semangat generasi muda. Memanfaatkan pelukis bernama Dullah sebagai modelnya, Affandi pun mulai mewujudkan keinginan Bung Karno. 

Sosok Dullah digambarkan sebagai pemuda yang tengah menggenggam bendera Indonesia sambil memutuskan rantai yang membelit kedua pergelangan tangannya. Chairil Anwar sang penyair pun tak ketinggalan memberikan sentuhan pada poster itu. Ia menambahkan kata-kata "Boeng ajo Boeng!". 



Kata-kata tersebut tentu dimaksudkan untuk mengajak generasi muda agar lebih aktif berjuang demi bangsa. Tapi uniknya, kata-kata tersebut didapat ketika Chairil Anwar sedang berada di Senen. Saat itu ia melihat seorang wanita PSK menjajakan dirinya sambil berkata "Bung, Ayo Bung!".



Seperti kisah matahari si mata-mata jelita, para wanita penjaja kenikmatan atau psk di masa lalu ternyata pernah ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak dari mereka yang  menjadi anggota partai, laskar, bahkan kata-kata bujuk rayunya pun menjadi alat propaganda.

mata mata perjuangan



Dalam buku otobiografi Bung Karno karangan Cindy Adams bertajuk Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menyajikan sekelumit kisah mengenai PSK. Bung Karno dalam satu kesempatan pernah mengungkapkan peran wanita PSK dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.  

"Pelacur merupakan sosok mata-mata terbaik di dunia. Dari sekian banyak anggota PNI (Partai Nasional Indonesia) Bandung, 670 orang di antaranya dalah wanita yang memiliki pekerjaan sebagai PSK." ungkap Bung Karno. 

Mereka inilah yang kemudian mengais informasi dari para polisi kolonial, lalu menyampaikan informasi tersebut pada BUng karno sehingga para pejuang bisa menentukan langkah-langkah berikutnya.  

Pada masa kolonialisme Jepang, Bung Karno juga melibatkan 120 wanita PSK untuk memuaskan tentara Jepang di Minangkabau. Pengerahan PSK pada waktu itu menjadi pilihan terbaik untuk menjaga kehormatan para gadis Indonesia yang lainnya.  

Bantahan akan pernyataan Bung Karno  

Gatot Mangunpraja, selaku sekretaris PNI membantah keterangan Bung Karno tentang peran wanita PSK dalam PNI. Menurutnya, pernyataan adanya sekitar 670 anggota PNI Bandung yang berstatus wanita PSK adalah sesuatu yang keliru.  

“Kami sangat berhati-hati ketika harus menerima anggota dari kalangan wanita PSK atau penjudi. Sebab hal ini berisiko mencemarkan nama baik organisasi,” terang Gatot dalam sebuah jurnal Indonesia berjudul The Peta and My Relations with the Japanese: A Correction of Sukarno’s Autobiography tahun 1968. 

Keputusan PNI untuk melibatkan wanita PSK juga sempat mendapat tantangan dari kalangan anggota PNI sendiri. Ali Sastroamidjojo misalnya, tokoh PNI ini menganggap keterlibatan wanita PSK adalah hal memalukan dan tidak bermoral.  

Di luar masalah tersebut, kisah heroik para wanita PSK dalam perjuangan pun diungkap dalam sebuah buku karangan Robert Cribb, "Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta". Sebuah gerakan yang bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) terdiri dari kekuatan 7 pasukan inti yang tersebar di Karawang. Tujuan mereka adalah menyerang Jakarta untuk melumpuhkan kekuatan Jepang dan Belanda.   

Pasokan senjata bagi LRJR itu ditunjang oleh para wanita PSK dari kawasan Senen, Jakarta Pusat. Mereka (para PSK) itu menyelundupkan senjata dari tentara Hindia yang membawanya ke Singapura. Jalur perdagangan gelap di Singapura ternyata mudah ditembus dan membuat LRJR mendapatkan banyak stok persenjataan.  

Cerita lain mengenai perananan PSK di masa-masa perjuangan juga pernah dikemukakan oleh seorang perwira sekaligus dokter gigi bernama MOestopo. Di tahun 1946, Moestopo ditunjuk menjadi perwira pendidikan untuk wilayah Subang. 

Betapa terkejutnya Moestopo ketika sampai di lokasi tujuan, ia justru ditugasi untuk memimpin pasukan Terate atau Teratai (Tentara Rahasia Tertinggi). Nah, para pasukan ini ternyata terdiri dari pelacur dan pencopet dari Yogyakarta dan Surabaya. Sebagian di antara mereka malahan ada yang masih berstatus sebagai mahasiswa yang sudah dibekali pelatihan dari Akademi Militer Yogyakarta.

 Kaum-kaum "tak biasa' inilah yang kemudian dilatih dan dikirim ke garis pertempuran Bandung untuk mencuri senjata, bahan makanan, pakaian serta barang berharga lain dari pihak musuh.  

Alat propaganda  

Pernah suatu ketika, Bung Karno berunding dengan pelukit Indonesia, Affandi untuk membuat alat propaganda demi membangkitkan semangat generasi muda. Memanfaatkan pelukis bernama Dullah sebagai modelnya, Affandi pun mulai mewujudkan keinginan Bung Karno. 

Sosok Dullah digambarkan sebagai pemuda yang tengah menggenggam bendera Indonesia sambil memutuskan rantai yang membelit kedua pergelangan tangannya. Chairil Anwar sang penyair pun tak ketinggalan memberikan sentuhan pada poster itu. Ia menambahkan kata-kata "Boeng ajo Boeng!". 



Kata-kata tersebut tentu dimaksudkan untuk mengajak generasi muda agar lebih aktif berjuang demi bangsa. Tapi uniknya, kata-kata tersebut didapat ketika Chairil Anwar sedang berada di Senen. Saat itu ia melihat seorang wanita PSK menjajakan dirinya sambil berkata "Bung, Ayo Bung!".



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah wanita penjaja cinta dalam perjuangan kemerdekaan"

Posting Komentar