Beda nasib Sukarno dengan Douwes Dekker

Walaupun sama-sama anti kolonialisme dan berjuang untuk membongkar kejahatan kolonial namun Sukarno justru bernasib tak lebih baik dari keluarga Eduard Douwes Dekker alias Multatuli.  Dalam perjalanan sejarah bangsa ada tiga tokoh yang dikenal  sangat anti penjajahan yaitu Sukarno, Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan cucunya Ernest Douwes Dekker alias Setiabudi. 

sukarno dan douwes dekker



Melalui novel Max Havelaar, Multatuli nama samaran dari Eduard Douwes Dekker menyatakan sikapnya sebagai anti kolonial dan berusaha membongkar segala kejahatan kolonial yang saat itu dianggap sebagai tindakan yang  haram dilakukan. Walaupun novel tersebut ditulis dengan gaya yang buruk namun faktanya sangat mengganggu jalannya sistem kolonialisme di Hindia Belanda pada masa itu. 

Pemikiran-pemikiran Multatuli itu telah mampu membuat banyak orang berpikir ulang mengenai sistem kolonial yang menindas rakyat Hindia Belanda. Melalui tulisannya itu, Multatuli telah membangkitkan semangat cinta negara di kalangan penduduk pribumi yang kemudian membentuk pondasi kebangsaan Indonesia. 

Multatuli juga mendirikan Idische Partij yaitu sebuah partai politik yang memperjuangkan Hindia Belanda yang tanpa diskriminasi apapun. Semua orang dari ras dan kalangan apa pun bisa masuk ke dalamnya tanpa kecuali selama orang tersebut tinggal di Hindia Belanda. Hal itu yang kemudian memupuk semangat nasionalisme. Multatuli meninggal di Jerman pada tahun 1887 , jenasahnya kemudian dikremasi.

Sedangkan Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir di Pasuruan, Hindia Belanda pada tanggal 8 Oktober 1879.  Setiabudi adalah cucu dari Multatuli (Kakeknya adalah adik Eduard Douwes Dekker). Meneruskan perjuangan Multatuli, Setiabudi menjadi salah satu peletak dasar nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20. Sebagai penulis ia berpikiran sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap merugikan rakyatnya. 

Setiabudi pua yang mengusulkan pemberian nama "NUSANTARA' untuk menggantikan nama Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah satu dari tiga serangkai pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat. 

Pada tahun 1950, Setiabudi atau Ernest Douwest Dekker meninggal dunia di Bandung pada umur 70 tahun. Jenasahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra dan atas segala jasanya beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional 

Sebagaimana kedua tokoh tersebut yang memiliki jasa besar bagi berdirinya bangsa Indonesia. Sukarno pun mempunyai pemikiran yang sangat kritis terhadap penjajahan dan menyatakan sikap sebagai anti kolonial. Perjuangannya untuk mengembalikan martabat bangsa yang diinjak-injak penjajah sering mendapat tantangan, mulai dari penahanan hingga pembuangan. 

Namun Sukarno justru mempunyai nasib yang tragis daripada Multatuli maupun Setiabudi. Sukarno meninggal dunia pada tahun 1970 setelah ditahan dan tidak mendapatkan perawatan sebagaimana layaknya seorang tokoh bangsa. 

Baca: Bung Karno Sejarah yang menggugat

Jenasahnya pun dimakamkan di Blitar, jauh dari harapan Sukarno sendiri yang ingin dimakamkan di Batutulis, Bogor. Inspektur pemakamannya pun hanya Jenderal Pangabean yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. (Pangkopkamtib) periode 1969-1973. 
Nasib manusia memang berbeda-beda , semoga saja bangsa ini telah mengambil hikmah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Walaupun sama-sama anti kolonialisme dan berjuang untuk membongkar kejahatan kolonial namun Sukarno justru bernasib tak lebih baik dari keluarga Eduard Douwes Dekker alias Multatuli.  Dalam perjalanan sejarah bangsa ada tiga tokoh yang dikenal  sangat anti penjajahan yaitu Sukarno, Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan cucunya Ernest Douwes Dekker alias Setiabudi. 

sukarno dan douwes dekker



Melalui novel Max Havelaar, Multatuli nama samaran dari Eduard Douwes Dekker menyatakan sikapnya sebagai anti kolonial dan berusaha membongkar segala kejahatan kolonial yang saat itu dianggap sebagai tindakan yang  haram dilakukan. Walaupun novel tersebut ditulis dengan gaya yang buruk namun faktanya sangat mengganggu jalannya sistem kolonialisme di Hindia Belanda pada masa itu. 

Pemikiran-pemikiran Multatuli itu telah mampu membuat banyak orang berpikir ulang mengenai sistem kolonial yang menindas rakyat Hindia Belanda. Melalui tulisannya itu, Multatuli telah membangkitkan semangat cinta negara di kalangan penduduk pribumi yang kemudian membentuk pondasi kebangsaan Indonesia. 

Multatuli juga mendirikan Idische Partij yaitu sebuah partai politik yang memperjuangkan Hindia Belanda yang tanpa diskriminasi apapun. Semua orang dari ras dan kalangan apa pun bisa masuk ke dalamnya tanpa kecuali selama orang tersebut tinggal di Hindia Belanda. Hal itu yang kemudian memupuk semangat nasionalisme. Multatuli meninggal di Jerman pada tahun 1887 , jenasahnya kemudian dikremasi.

Sedangkan Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir di Pasuruan, Hindia Belanda pada tanggal 8 Oktober 1879.  Setiabudi adalah cucu dari Multatuli (Kakeknya adalah adik Eduard Douwes Dekker). Meneruskan perjuangan Multatuli, Setiabudi menjadi salah satu peletak dasar nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20. Sebagai penulis ia berpikiran sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap merugikan rakyatnya. 

Setiabudi pua yang mengusulkan pemberian nama "NUSANTARA' untuk menggantikan nama Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah satu dari tiga serangkai pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat. 

Pada tahun 1950, Setiabudi atau Ernest Douwest Dekker meninggal dunia di Bandung pada umur 70 tahun. Jenasahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra dan atas segala jasanya beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional 

Sebagaimana kedua tokoh tersebut yang memiliki jasa besar bagi berdirinya bangsa Indonesia. Sukarno pun mempunyai pemikiran yang sangat kritis terhadap penjajahan dan menyatakan sikap sebagai anti kolonial. Perjuangannya untuk mengembalikan martabat bangsa yang diinjak-injak penjajah sering mendapat tantangan, mulai dari penahanan hingga pembuangan. 

Namun Sukarno justru mempunyai nasib yang tragis daripada Multatuli maupun Setiabudi. Sukarno meninggal dunia pada tahun 1970 setelah ditahan dan tidak mendapatkan perawatan sebagaimana layaknya seorang tokoh bangsa. 

Baca: Bung Karno Sejarah yang menggugat

Jenasahnya pun dimakamkan di Blitar, jauh dari harapan Sukarno sendiri yang ingin dimakamkan di Batutulis, Bogor. Inspektur pemakamannya pun hanya Jenderal Pangabean yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. (Pangkopkamtib) periode 1969-1973. 
Nasib manusia memang berbeda-beda , semoga saja bangsa ini telah mengambil hikmah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Beda nasib Sukarno dengan Douwes Dekker"

  1. POKER RUSIA - AGEN POKER ONLINE TERBAIK
    Agen Resmi Indonesia Terpercaya
    Bonus Dan Promo Terbesar Di Indonesia

    livechat :
    www.pokerrusia.net / https://goo.gl/96zStk

    BalasHapus
  2. Dalam Rangka merayakan hari kemerdekaan, AgensS128 akan memberikan BONUS FREEBET sebesar 100rb dengan minimal deposit 500rb dan TO hanya 1x. promo ini hanya berlaku dari tanggal 10-20 agustus 2017. tunggu apa lagi segera bergabung di AgenS128 dan dapatkan bonus-bonus menarik lainnya.

    BBM : 7BED80B1

    BalasHapus
  3. Saya ucapkan terimakasih kepada pembuat artiket di atas, artikel ini sangat bermanfaat dan tentu saja berisi informasi yang sangat BERGUNA untuk semua pembaca di blog ini. Update terus dan semakin maju kedepannya.
    Sukses selalu untuk anda

    add pin kami ya :) ada game menarik disini BBM: 7BED80B1

    BalasHapus
  4. Live Casino Online Dengan Games Terlengkap Baccarat , Dadu / Sicbo , Roulette , Dragon Tiger , Toto Draw dan masih banyak games lain nya !!
    Gabung Segera Dapatkan Bonus Rollingan Super Tinggi dari kami !! Dan Bonus Cashback Sebesar 10% !!

    wechat : bolavita
    line : bolavita
    whatup : 6281377055002
    BBM: BOLAVITA

    #dewasabungayam #ayampw #bolavita #sportbooks #togel #tembakikan #poker #livecasino #baccarat #casino #promomerdeka #agensabungayam

    BalasHapus