Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu

Add Comment
Jika menyusuri kembali perjalanan sejarah Kota Bogor, maka Hotel Salak yang berada tidak jauh dari Istana Bogor ini menjadi salah satu bangunan hotel tertua peninggalan Hindia-Belanda yang hingga kini masih berdiri. Sepanjang sejarahnya, hotel ini ternyata telah mengalami pergantian nama hingga enam kali. 

Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu


Katulampa, bendungan tertua yang ada di Bogor

Add Comment
Katulampa dalam bahasa Sanskerta memiliki arti "batu yang berwarna hitam". Bendungan rancangan Ir Van Breen ini adalah bendungan tertua yang ada di Bogor. Konon, pembangunan bendungan yang dimulai pada 16 Aprl 1911 dan diresmikan pada 11 Oktober 1912 ini telah menelan biaya hingga 80.000 gulden. Peresmian bendungan ini dilakukan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Alexander Willem Frederick Idenburg. 

foto bendungan katulampa tempo dulu

Bandung Lautan Api: Patriotismenya orang-orang Bandung

Add Comment
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah sebuah peristiwa kebakaran besar yang pernah terjadi di Kota Bandung di era mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 23 Maret 1946, masyarakat Bandung yang tidak rela tempat tinggal mereka diduduki oleh NICA kemudian membakar habis harta mereka, untuk kemudian meninggalkan kota menuju pegununungan yang terdapat di selatan Bandung. 

Bandung Lautan Api

Layla Majnun: Kisah menyayat hati dari tanah Arab

Add Comment
Ada sebuah kisah menyayat hati yang datangnya dari tanah Arab. Kisah legenda ini begitu mahsyurnya hingga diceritakan dalam beragam bahasa lainnya. Kisah yang berasal dari Persia (Iran) ini menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang harus berakhir tragis, yakni Laila dan Majnun.


cerita layla dan majnun

Meletusnya Gunung Salak dan Tragedi Batavia

Add Comment
Beberapa tahun setelah didirikan pada tahun 1619, Kota Batavia (Jakarta :Red)langsung dijuluki sebagai "Ratu dari Timur" atau "The Queens of the East". Pemberian julukan tersebut tentunya tidak asal-asalan, apalagi pada waktu itu kota Batavia sudah tertata dengan sangat baik, lengkap dengan kanal yang lebar serta airnya yang jernih. Hal itu pula yang menjadikan Batavia semakin banyak dikunjungi oleh para pelancong dari Eropa. 

Meletusnya Gunung Salak dan Tragedi Batavia

Perlawanan Petani di masa Hindia Belanda

Add Comment
Pertama kali menjejakkan kakinya di tanah Nusantara, VOC ibarat menemukan bongkahan emas yang berceceran. Mereka pun berusaha dengan berbagai cara untuk bisa mendapatkan tanah yang subur seluas-luasnya demi kepentingan mereka. 





Ada tanah ada petani, suatu hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Jika ada masalah pertanahan maka petani pasti ada di dalamnya.  Sepanjang abad 19 – awal abad 20 permasalahan terjadi pada hak kepemilikan tanah partikelir yaitu tanah . 


Tanah partikelir muncul karena sebagai akibat praktek penjualan tanah oleh Belanda semenjak VOC sampai seperempat abad 19. Permasalahan yang terjadi pada tanah partikelir adalah adanya pungutan paksa pajak oleh “pemilik tanah” terhadap petani atau masyarakat yang menempati tanah tersebut.  Beberapa sikap para tuan tanah terhadap petani antara lain :

  • Memaksakan kehendaknya
  • Menuntut peguasaan tenaga kerja
  • Mengusir petani dengan alasan yang sangat memberatkan petani.
Pengawasan pemerintah dengan praktek penyimpangan mengenai tanah partikelir sulit untuk dilakukan, karena adanya kesalahan sistem birokrasi. Pengawas atau kepala daerah yang menjadi wakil pemerintah di setiap daerah-daerah, pengangkatannya tak akan bisa lepas dari intervensi si kaya dalam hal ini adalah para tuan tanah. Sehingga dalam kesehariannya para kepala daerah setempat banyak berpihak pada tuan tanah.





Para tuan tanah mengambil seperlima dari hasil panen para petani. Kesepakatan seperti ini diambil menjelang masa panen oleh kepala daerah, tuan tanah, dan petani. Melihat posisi itu, kita bisa mengindikasikan bahwa posisi petani sungguh dilema. Selain itu para petani juga dikenakan kerja lembur atau kerja paksa (kompenian) dengan jenis kerja yang beraneka ragam. Ada yang bekerja lembur selama lima hari dalam sebulan, tiga hari setiap bulan, kerja untuk pria yang masih kuat (kroyo), dan ronda desa (kemit). 


Tidak seperti sekarang dimana jaminan keselamatan kerja sudah ada, pada zaman tanah partikelir para petani tidak mendapat jaminan kesehatan, dan jaminan perlindungan jika ada gagal panen, dan halangan lainnya yang meyebabkan petani merugi.

Dari penindasan-penindasan seperti itulah yang menyebabkan terjadinya gerakan sosial atau pergolakan perlawanan yang bermula dari sengketa tanah partikelir. Selain itu adanya dominasi kekuasaan oleh orang Barat dalam berbagai bidang (politik, ekonomi, kultural) juga menjadi pemicu gerakan perlawanan. 


Dalam pembahasan lebih dalam lagi perlawanan petani akan dijiwai oleh semangat lain, yang semakin mengobarkan perlawanan terhadap hegemoni tuan tanah dan para penindas mereka. Pergolakan itu muncul sebagai puncak ketegangan, permusuhan, atau pertentangan dalam masyarakat pedesaan. Dalam pembahasan berikut akan kami sampaikan pada spesifikasi wilayah Jawa.

Gerakan Masa untuk Perlawanan

Daerah Jawa Barat menjadi contoh pergolakan para petani yang terus berulang. Gerakan-gerakan ini bukan hanya sebagai wujud ketidakpuasan petani terhadap tuan tanah tetapi lebih kepada sistem yang diterapkan dalam mengelola hasi pertanian dan kesejahteraan petani. Sebagai salah satu contohnya adalah peristiwa ciomas (1886) dengan tokoh utamanya tak lain adalah petani, tuan tanah, dan pemerintah. 


Kerusuhan di ciomas (Bogor) menunjukan beberapa kerusuhan antara petani dan tuan tanah. Sebab dari perlawanan para petani adalah seperti yang telah kami jelasan diatas, antara lain : para petani mendapatkan pajak atau cuke yang begitu besar dari hasil panen nya. 


Kemudian perlakuan tuan tanah dengan memperbudak para petani. Petani-petani tersebut disuruh mengangkat hasil panen nya dari sawah ketempat lumbung sejauh 15-18 km, wanita dan anak-anak turut pula dipekerjakan selama 9 hari setiap bulan.

Adanya dominasi politik, ekonomi, dan sosial yang dilakukan oleh tuan tanah terhadap kaum petani, telah membawa iklim yang lebih buruk dan pada akhirnya sampai mencapai konflik yang tajam. 


Salah satu akibat dari pelaksanaan eksploitasi tenaga kerja yang berat dan pemungutan cuke yang tinggi menjelang pecahnya perlawanan petani ialah terjadinya migrasi penduduk dari daerah itu. 

Bagi mereka yang tidak tahan lagi dengan praktik pemerasan tuan tanah dan merasa terancam akan kehancuran ekonominya segeralah angkat kaki meninggalkan tanah partikelir di Ciomas. Perasaan tidak puas petani untuk bekerja di tanah partikelir lebih nampak nyata ketika menolak kerja paksa di perkebunan kopi, dan mulailah mencetuskan perlawanan secara terbuka yang ditandai dengan tindakan kekerasan.

Perlawanan secara langsung diawali dengan melancarkan pemberontakan tanggal 22 Februari 1886, ketika mereka membunuh Camat Ciomas waktu itu RM. H. ABDURRACHMAN ADIMENGGALA dan masih pada bulan Februari itu juga Arpan bersama kawan – kawannya mengundurkan diri ke Pasir Paok, dan di sana mereka menolak untuk menyerah kepada tentara pemerintah kolonial.







Sebulan sebelum terjadinya kedua peristiwa tadi, Mohammad Idris telah mengundurkan diri ke Gunung Salak. Sekalipun ia lahir di Ciomas, namun dalam perjuangan hidupnya ia selalu berpindah – pindah tempat, seperti ke Sukabumi dan Ciampea. Ia termasuk salah seorang yang sangat membenci tuan tanah dan kaki tangannya. 


Karena sikapnya itu, maka semakin banyaklah petani pelarian dari tanah partikelir untuk menggabungkan diri. Setelah diadakan pertemuan besar di pondok kecilnya, Idris bersama pengikutnya bersepakat untuk melancarkan penyerangan ke Ciomas.

Dan tepat pada hari Rabu malam, tanggal 19 Mei 1886 sesuai dengan rencana semula Idris bersama pengikutnya berhasil menduduki daerah Ciomas bagian selatan. Selama menduduki daerah tersebut mereka tidak melakukan perampokan terhadap gudang – gudang di Sukamantri, Gadong, dan Warungloa. 


Bahkan sebaliknya mereka menyatakan, bahwa serangan yang dilancarkannya itu tidak dimaksudkan untuk merampok kekayaan, tetapi serangan tersebut hanya ditujukan khusus bagi pribadi tuan tanah.

Tanggal 20 Mei 1886 para pemberontak menyelenggarakan upacara sedekah bumi di Gadong, yang dihadiri juga oleh semua pegawai tuan tanah. Upacara tersebut sebenarnya merupakan perayaan tahunan yang dimeriahkan dengan permainan musik, tari – tarian, dan atraksi – atraksi lainnya. 


Sebagai penutup dari perayaan itu, seolah – olah seperti diberikan aba – aba, bahwa kaum pemberontak setelah melihat pegawai – pegawai tuan tanah yang sesungguhnya bertindak sebagai penindas dan memeras mereka, beberapa diantara pengikut Mohamad Idris segera melampiaskan kemarahannya menyerang agen – agen tuan tanah secra membabi buta. 

Perayaan sedekah bumi itu berakhir dengan pembunuhan besar – besaran yang ditujukan kepada pegawai – pegawai tuan tanah. Dari peristiwa pembunuhan tersebut, diketahui bahwa sejumlah 40 orang mati dibunuh, dan 70 orang lainnya luka – luka. Tuan tanah beserta keluarganya selamat, karena secara kebetulan mereka tidak hadir dalam upacara itu.

Dari panggung peristiwa perlawanan petani Ciomas itu, jelaslah bahwa yang menjadi sasaran utama dan sebgai musuhnya adalah tuan tanah, pegawai pemerintah kolonial baik asing maupun pribumi, para pedagang, dan lintah darat.

Gerakan perlawanan petani Ciomas memperlihatkan adanya spontanitas baik waktu timbul maupun selama masa berkembangnya, yang ditunjang juga dengan iklim atau situasi politik yang benar – benar telah diperhitungkan akan timbulnya gerakan perlawanan. 


Peristiwa perlawanan petani Ciomas merupakan suatu corak atau model perjuangan yang berlatar belakang perbedaan kepentingan dan tujuan anara tuan tanah, pemerintah, dan pegawai – pegawai lainnya dengan kaum petani di lain pihak. Pertentangan kepentingan dan tujuan itu, pada akhirnya dapat dilakukan dalam bentuk perlawanan secara keras dari pihak petani sebagai protes akibat tekanan – tekanan yang berat.

Peristiwa tersebut mmenjadi satu tonggak perlawanan petani dan rakyat terhadap keangkuhan para tuan tanah dan pemerintah setempat waktu itu, sehingga beberapa tahun kemudian peristiwa serupa terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti di:

  • Ciampea pada tahun 1913 yang dipicu oleh tindakan pengukuran tanah rakyat oleh pemerintah yang dianggap tidak adil.
  • Condet Surabaya pada tahun 1916 yang dipimpin oleh Entong Gendut yang menyerang para tuan tanah yang melakukan tindakan kekerasan.
  • Tangerang pada tahun 1924 yagn dipimpin oleh Kaiin yang disebabkan oleh tindakan sewenang-wenang pemerintah dan para tuan tanah. Dalam aksi tersebut kantor pemerintahan dan rumah para tuan tanah dibakar petani dan rakyat.
  • Kediri pada tahun 1907 yang dipimpin oleh Kiai Dermajaya yang menganggap dirinya sebagai ratu adil.  
Sumber:
Bogor Tempo Doeloe
Tjiomas Affair

 
Mengintip sejarah di Museum Perjuangan Kota Bogor

Mengintip sejarah di Museum Perjuangan Kota Bogor

Add Comment
Dari kejauhan, bangunan yang berdiri megah di antara hilir mudiknya kendaraan dan orang yang  lalu lalang itu tidak tampak seperti sebuah museum. Tapi jika melangkah lebih dekat lagi, akan tampak relief-relief yang menggambarkan perjuangan di dinding depannya. Dari situ kita langsung tahu bahwa gedung ini adalah sebuah museum dari tulisan di depannya. Di museum ini, kita bisa mengintip sejarah perjuangan rakyat Bogor dalam mempertahankan kemerdekaan bangsanya.


Museum Perjuangan Kota Bogor

Sejarah Islam di Inggris yang dilupakan ...

Add Comment
Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, ISLAM sebenarnya telah lama menjadi bagian dalam sejarah Inggris. Bahkan pada abad ke-16, Ratu Elizabeth telah mengeluarkan kebijakan luar negeri dan ekonominya untuk menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara Islam. 

 
Murad III (kiri) dan Elizabeth I (kanan). Sumber: Ullstein Bild/Getty Images (kiri) dan The Print Collector/Getty Images (kanan).



Fenomena unik bola naga api di sungai mekong

Add Comment
Ada fenomena unik yang selalu ditunggu-tunggu para penduduk di wilayah Nong Khai di Thailand setiap satu tahun sekali, yaitu di akhir bulan September atau di awal bulan Oktober. Pada saat itu, banyak penduduk akan berkumpul di tepi Sungai Mekong untuk menyaksikan sebuah fenomena yang cukup istimewa, yaitu munculnya bola api dari dasar sungai tersebut lalu terbang dan lenyap begitu saja di udara.

Fenomena unik bola naga api di sungai mekong


Sungai Mekong di Thailand terkenal sebagai sungai terpanjang di Asia Tenggara. Sungai ini pun menyimpan mahluk-mahluk air  nan misterius, salah satunya adalah naga dengan bola apinya yang hingga kini masih menjadi misteri. 

Fenomena kemunculan bola api dari Sungai Mekong terjadi setiap satu tahun sekali, tepatnya setiap akhir September dan pada awal-awal Oktober. Pada saat itu juga akan banyak penduduk dan turis yang  tertarik dengan cerita bola api tersebut dan berkumpul di tepi Sungai Mekong. 

bola naga api di sungai mekong


Di Thailand, fenomena bola api dari Sungai Mekong disebut "Bang Fai Phaya Nak". Kemunculan bola api tersebut sempat mengundang rasa penasaran para peneliti yang menganggap fenomena ini sebagai hal yang tidak masuk akal. Banyak dari mereka yang kemudian membuktkan diri dengan melakukan penyelaman secara langsung hingga ke dasar Sungai Mekong. Namun hasilnya, mereka tidak menemukan sesuatu apa pun. 

Penduduk sekitar menganggap bola api tersebut berasal dari naga yang berada di dasar Sungai Mekong. Para penduduk memang lebih percaya pada mitos tersebut, bahkan ada yang mengaku pernah melihat jejak kaki naga di tanah dekat wihara sebelum bola api tersebut muncul. 



Lokasi yang paling jelas untuk melihat kemunculan bola api ini adalah di distrik Phon Pisai. Di tempat ini, ketika terjadi fenomena tersebut, bola api yang mencuat ke udara bisa mencapai lebih dari 200 bola api. Sedangkan di lokasi lain, jumlahnya lebih sedikit dari yang bisa dilihat di Phon Pisai.

Menurut kepercayaan masyarakat Thailand, kemunculan bola api tersebut merupakan salah satu bentuk penghormatan dari naga kepada Sang Buddha. Pada saat itu, Sang Buddha baru saja kembali dari Surga setelah menetap di sana selama tiga bulan. Setelah Sang Buddha kembali ke bumi, naga di Sungai Mekong melakukan penghormatan dengan menyemburkan bola-bola api ke udara. 

Bola-bola api yang keluar dari Sungai mekong ini meluncur dengan sangat cepat, sehingga sulit tertangkap kamera. Ketinggian bola api tersebut bahkan bisa mencapai puluhan meter, tanpa asap, suara serta arah yang tidak jelas.

Namun situs resmi The Government Public Relations Department Thailand mengungkapkan fenomena tersebut secara ilmiah. Menurut mereka, kemunculan bola api di Sungai Mekong di Nong Khai sebenarnya berasal dari bahan organik yang mengendap di dasar sungai. 

Bahan organik itu membusuk dan menjadi fosfin yang mudah terbakar dan bercampur dengan gas metana. Saat bulan-bulan tertentu, seperti bulan Oktober, fosfin yang mudah terbakar dan tercampur dengan gas metana itu bakal terbakar dan meluncur dari dasar sungai hingga melayang di udara. Oleh sebab itu, bola api yang terlihat berbeda dengan kembang api atau sejenisnya yang bersuara dan berasap.

Meskipun begitu, penduduk setempat tetap meyakini kalau bola-bola api tersebut berasal dari naga, sesuai dengan kepercayaan para leluhur. 

Semoga bermanfaat