Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu

Jika menyusuri kembali perjalanan sejarah Kota Bogor, maka Hotel Salak yang berada tidak jauh dari Istana Bogor ini menjadi salah satu bangunan hotel tertua peninggalan Hindia-Belanda yang hingga kini masih berdiri. Sepanjang sejarahnya, hotel ini ternyata telah mengalami pergantian nama hingga enam kali. 

Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu


Hotel ini pertama kali dibangun pada tahun 1856, bersamaan waktunya dengan renovasi bangunan Buitenzorg Pallais (Istana Bogor) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856). Twist merenovasi bangunan istana lama yang telah rusak parah akibat gempa dengan bangunan bergaya arsitektur Eropa abad pertengahan.
Adalah keluarga Twist yang memiliki dan mengelola hotel yang dinamakannya Binnenhof Hotel atau Dibbets Hotel ini. Hotel ini sendiri bisa dibilang sebagai hotel bintang empat pada masanya, terlebih lokasinya yang dekat dengan komplek Istana sehingga bisa menjadi tempat peristirahatan bagi para tamu sang Gubernur. Selain itu, hotel ini pun kerap menjadi lokasi pertemuan bisnis dan rapat-rapat yang membahas administrasi pemerintahan. 

Pada tahun 1913, hotel dibbets mengalami masa-masa suram, sampai-sampai namanya kemudian berganti menjadi NV American Hotel. Tapi sayang, walaupun telah berganti nama , hotel ini justru malah mengalami kebangkrutan. 

bellevue dibbet


Pada tahun 1922, hotel ini dilikuidasi oleh E.A DIbbets, sang managernya yang juga pemilik saham terbesar dari NV American Hotel ini. Setelah berpindah tangan, sanag manager kemudian merubah kembali nama hotel ini seperti semula, yaitu Dibbets Hotel

Pada tahun 1932, kepemilikan hotel ini mulai berganti. Kemungkinan besar pemilik baru hotel ini adalah juga orang yang sama yang memiliki atau mengelola Hotel Bellevue yang lokasinya berada tidak jauh dari Hotel Dibbets. Oleh pemilik barunya itu, hotel ini kembali berganti nama menjadi Hotel Bellevue-Dibbets

Pada tahun 1942, kedatangan Jepang membuyarkan segalanya. Militer Belanda harus bertekuk lutur mengakui kekalahannya dan harus segera meninggalkan tanah jajahananya.  Hotel yang sempat terlantar ini kemudian dikuasai oleh pihak jepang yang menjadikannya sebagai Markas Militer Jepang atau Kempetai. 



Pada masa itu, semua bangunan yang dikuasai oleh Jepang harus dicat ulang dengan warna yang lebih gelap untuk menyamarkan bangunan dari pantauan mush di udara.  Seluruh bangungan hotel itu pun dicat  ulang dengan warna yang gelap, termasuk juga Istana Bogor dan bangunan-bangunan penting lainnya. 

Pada tahun 1948, tiga tahun  setelah kekalahan Jepang oleh Sekutu, bangunan hotel ini kemudian diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Republik Indonesia. Setelah sempat terlantar selama beberapa tahun, pada 1950 bangunan hotel ini kemudian direnovasi dan mendapatkan nama baru yaitu Hotel Salak



Sejak saat itu, Hotel Salak menjadi salah satu bangunan kebanggaan warga Bogor. Pada tahun 1989, di sekitar hotel ini pernah digunakan sebagai lokasi syuting untuk film Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro) yang berjudul "Sabar Dulu Dong".




Pada bulan September 1998, hotel ini kembali mengalami renovasi dan mendapat nama baru yaitu Hotel Salak The Heritage.  


Semoga bermanfaat

Sumber foto / video : Tropen Museum dan Youtube

Jika menyusuri kembali perjalanan sejarah Kota Bogor, maka Hotel Salak yang berada tidak jauh dari Istana Bogor ini menjadi salah satu bangunan hotel tertua peninggalan Hindia-Belanda yang hingga kini masih berdiri. Sepanjang sejarahnya, hotel ini ternyata telah mengalami pergantian nama hingga enam kali. 

Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu


Hotel ini pertama kali dibangun pada tahun 1856, bersamaan waktunya dengan renovasi bangunan Buitenzorg Pallais (Istana Bogor) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856). Twist merenovasi bangunan istana lama yang telah rusak parah akibat gempa dengan bangunan bergaya arsitektur Eropa abad pertengahan.
Adalah keluarga Twist yang memiliki dan mengelola hotel yang dinamakannya Binnenhof Hotel atau Dibbets Hotel ini. Hotel ini sendiri bisa dibilang sebagai hotel bintang empat pada masanya, terlebih lokasinya yang dekat dengan komplek Istana sehingga bisa menjadi tempat peristirahatan bagi para tamu sang Gubernur. Selain itu, hotel ini pun kerap menjadi lokasi pertemuan bisnis dan rapat-rapat yang membahas administrasi pemerintahan. 

Pada tahun 1913, hotel dibbets mengalami masa-masa suram, sampai-sampai namanya kemudian berganti menjadi NV American Hotel. Tapi sayang, walaupun telah berganti nama , hotel ini justru malah mengalami kebangkrutan. 

bellevue dibbet


Pada tahun 1922, hotel ini dilikuidasi oleh E.A DIbbets, sang managernya yang juga pemilik saham terbesar dari NV American Hotel ini. Setelah berpindah tangan, sanag manager kemudian merubah kembali nama hotel ini seperti semula, yaitu Dibbets Hotel

Pada tahun 1932, kepemilikan hotel ini mulai berganti. Kemungkinan besar pemilik baru hotel ini adalah juga orang yang sama yang memiliki atau mengelola Hotel Bellevue yang lokasinya berada tidak jauh dari Hotel Dibbets. Oleh pemilik barunya itu, hotel ini kembali berganti nama menjadi Hotel Bellevue-Dibbets

Pada tahun 1942, kedatangan Jepang membuyarkan segalanya. Militer Belanda harus bertekuk lutur mengakui kekalahannya dan harus segera meninggalkan tanah jajahananya.  Hotel yang sempat terlantar ini kemudian dikuasai oleh pihak jepang yang menjadikannya sebagai Markas Militer Jepang atau Kempetai. 



Pada masa itu, semua bangunan yang dikuasai oleh Jepang harus dicat ulang dengan warna yang lebih gelap untuk menyamarkan bangunan dari pantauan mush di udara.  Seluruh bangungan hotel itu pun dicat  ulang dengan warna yang gelap, termasuk juga Istana Bogor dan bangunan-bangunan penting lainnya. 

Pada tahun 1948, tiga tahun  setelah kekalahan Jepang oleh Sekutu, bangunan hotel ini kemudian diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Republik Indonesia. Setelah sempat terlantar selama beberapa tahun, pada 1950 bangunan hotel ini kemudian direnovasi dan mendapatkan nama baru yaitu Hotel Salak



Sejak saat itu, Hotel Salak menjadi salah satu bangunan kebanggaan warga Bogor. Pada tahun 1989, di sekitar hotel ini pernah digunakan sebagai lokasi syuting untuk film Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro) yang berjudul "Sabar Dulu Dong".




Pada bulan September 1998, hotel ini kembali mengalami renovasi dan mendapat nama baru yaitu Hotel Salak The Heritage.  


Semoga bermanfaat

Sumber foto / video : Tropen Museum dan Youtube

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hotel Salak: Warisan Sejarah Masa Lalu "

Posting Komentar

loading...